Ekonesia – Peta kekayaan para taipan di Indonesia kembali menunjukkan dinamika menarik pada Mei 2026. Pergerakan bursa saham dan fluktuasi harga komoditas global menjadi penentu utama, mengukir cerita baru di jajaran miliarder Tanah Air. Sejumlah nama lama tetap kokoh di puncak, didukung oleh sektor-sektor strategis seperti energi, perbankan, dan pertambangan yang menjadi penopang utama pundi-pundi mereka.
Baca juga: Misteri Air India: Boeing 787 Jatuh Usai Terbang!
Meskipun gejolak pasar sepanjang tahun ini sempat memberikan tantangan dan memengaruhi nilai aset beberapa pengusaha kakap, hal itu tak menggoyahkan dominasi mereka yang telah lama bercokol di jajaran elite.

Prajogo Pangestu, nakhoda Barito Group, sekali lagi membuktikan diri sebagai individu paling tajir di Indonesia. Dengan kekayaan mencapai sekitar US$20,9 miliar atau setara Rp372 triliun (asumsi kurs Rp17.832 per dolar AS), ia tetap tak tergoyahkan di posisi teratas daftar miliarder versi Forbes. Ini terjadi meskipun saham-saham perusahaan afiliasinya sempat menghadapi tekanan di pasar.
Baca juga: Barcelona Bangkit Atau Flick Out? Bos Barca Santai!
Menyusul di posisi kedua, Low Tuck Kwong, sang raja batu bara, mempertahankan posisinya berkat kekuatan bisnis pertambangan. Kekayaannya yang mencapai US$16,5 miliar masih ditopang oleh sektor batu bara yang sebelumnya menikmati era supercycle harga komoditas.
Tak ketinggalan, duo Hartono bersaudara, R. Budi Hartono dan Michael Hartono, terus menjadi pilar penting dalam daftar ini. Dengan kekayaan masing-masing sekitar US$15,8 miliar dan US$15 miliar, mereka mengukuhkan dominasi di sektor perbankan dan industri rokok, menunjukkan resiliensi bisnis keluarga yang luar biasa.
Berikut adalah daftar 10 orang terkaya di Indonesia per Mei 2026 versi Forbes:
- Prajogo Pangestu: US$20,9 miliar (petrokimia, energi)
- Low Tuck Kwong: US$16,5 miliar (batu bara)
- R. Budi Hartono: US$15,8 miliar (perbankan, rokok)
- Michael Hartono: sekitar US$15 miliar (perbankan, rokok)
- Anthoni Salim: sekitar US$11,9 miliar (diversifikasi)
- Tahir & keluarga: sekitar US$9,7 miliar (rumah sakit, keuangan)
- Sri Prakash Lohia: sekitar US$8,8 miliar (petrokimia)
- Mariana Budiman: sekitar US$6 miliar (pusat data)
- Lim Hariyanto Wijaya Sarwono: sekitar US$5,3 miliar (minyak sawit, nikel, tambang)
- Haryanto Tjiptodiharjo: sekitar US$5 miliar (manufaktur)
Kehadiran Mariana Budiman di jajaran sepuluh besar patut disorot. Berkat gurita bisnis pusat data atau data center yang terus meluas, ia membuktikan bahwa sektor digitalisasi dan layanan cloud menjadi ladang kekayaan baru yang menjanjikan di tengah kebutuhan digital yang kian meningkat di Indonesia. Sementara itu, nama-nama lain seperti Anthoni Salim dengan diversifikasi bisnisnya, Tahir yang kuat di sektor kesehatan dan keuangan, serta Sri Prakash Lohia di petrokimia, juga menunjukkan konsistensi dalam mempertahankan posisi mereka di antara para miliarder Tanah Air. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono dan Haryanto Tjiptodiharjo melengkapi daftar ini dengan kekuatan di sektor komoditas dan manufaktur.
Ini adalah gambaran terkini dari kekuatan ekonomi Indonesia yang terus berputar, di mana aset triliunan rupiah berpindah tangan seiring dengan denyut nadi pasar global.


Tinggalkan komentar