Terkuak Rupiah Sulit Sentuh Rp16 Ribu Ini Alasannya

Agus Riyadi

25 Mei 2026

3
Min Read

Ekonesia – Gelombang pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tak kunjung mereda, memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pelaku pasar finansial domestik. Tren penurunan yang berkepanjangan ini menempatkan mata uang Garuda dalam posisi rentan, jauh dari harapan penguatan yang sempat digadang-gadang. Seorang ekonom terkemuka kini membeberkan mengapa target rupiah kembali ke level Rp16.000 per dolar AS terasa semakin sulit diwujudkan.

Josua Pardede, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, mengakui bahwa secara matematis, potensi penguatan rupiah sebenarnya masih terbuka lebar. Mengacu pada teori nilai tukar riil efektif (REER), posisi fundamental rupiah dalam kondisi normal seharusnya berada di bawah ambang batas Rp17.000 per dolar AS. Dengan demikian, proyeksi bahwa rupiah bisa menguat ke kisaran Rp16.200 pada periode Juni hingga Agustus memiliki landasan teoritis yang kuat. Namun, Josua menegaskan bahwa pergerakan rupiah tidak pernah steril dari pengaruh dinamika geopolitik global.

Terkuak Rupiah Sulit Sentuh Rp16 Ribu Ini Alasannya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ia menekankan bahwa perhitungan di atas kertas harus berhadapan dengan realitas pasar yang sedang menanti hasil asesmen lembaga pemeringkat global seperti S&P dan MSCI. Kendala utama yang membuat rupiah cenderung rapuh dalam jangka menengah bersumber dari kemerosotan kinerja fundamental Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).

Defisit transaksi berjalan yang melebar, dipicu oleh penurunan nilai ekspor dan tingginya beban impor minyak mentah akibat konflik internasional, menjadi faktor penekan utama. Kondisi ini menyebabkan surplus pada pos finansial tidak lagi mampu menutupi celah defisit struktural, sehingga NPI secara keseluruhan diperkirakan akan tetap mencatatkan hasil negatif hingga akhir tahun.

Dampak dari depresiasi nilai tukar yang terus berlanjut ini mulai merembes ke sektor riil melalui transmisi inflasi impor, yang mengancam laju pertumbuhan ekonomi. Tekanan kenaikan harga barang secara perlahan menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok kelas menengah yang tidak memiliki jaring pengaman sosial memadai. Mereka terpaksa menunda rencana konsumsi jangka panjang akibat pertumbuhan pendapatan riil yang tidak sebanding, diperparah oleh minimnya investasi padat karya.

Menghadapi situasi pelik ini, respons Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga acuan dinilai sebagai langkah moneter yang sangat krusial untuk menjaga ekspektasi pasar. Meski demikian, Josua menegaskan bahwa kebijakan moneter pro-stabilitas ini tidak akan pernah cukup jika berdiri sendiri tanpa ditopang oleh sinergi kebijakan fiskal. Seluruh kementerian harus memiliki visi yang sama dalam mendorong reformasi struktural agar komoditas ekspor Indonesia memiliki nilai tambah lebih dan tidak mudah terombang-ambing oleh siklus global.

Melihat kompleksitas risiko eksternal dan tantangan domestik yang ada, target penguatan rupiah secara drastis ke level Rp16.000-an per dolar AS dalam waktu dekat menjadi sangat berat. Pergerakan nilai tukar hingga akhir tahun diproyeksikan akan lebih realistis bergerak di kisaran Rp17.000-an hingga Rp17.500 per dolar AS, asalkan tidak ada aksi spekulasi valas yang mengganggu. Otoritas kini diharapkan terus menggalakkan penggunaan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transactions) guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post