Warga AS Menyesal Soal Tabungan Kok Bisa

Agus Riyadi

17 Mei 2026

3
Min Read

Ekonesia – Fenomena penyesalan finansial ternyata bukan hanya monopoli segelintir orang. Di Negeri Paman Sam, Amerika Serikat, mayoritas penduduknya kini mengakui adanya ganjalan besar terkait pengelolaan keuangan pribadi mereka. Sebuah survei terbaru mengungkap, penyesalan paling mendalam yang menghantui banyak warga AS adalah ketiadaan tabungan yang memadai, sebuah kondisi yang ironisnya juga tak jauh berbeda dengan realitas di Indonesia.

Survei yang dilakukan oleh Bankrate terhadap lebih dari 2.000 responden di AS menunjukkan fakta mengejutkan. Tiga dari empat warga Amerika mengaku memiliki setidaknya satu penyesalan finansial. Dari angka tersebut, hampir 40 persen menunjuk masalah tabungan sebagai biang keladi kekhawatiran mereka. Mulai dari dana darurat yang belum terkumpul, persiapan pensiun yang masih jauh panggang dari api, hingga biaya pendidikan anak yang membengkak, semuanya menjadi sumber kegelisahan finansial yang nyata.

Warga AS Menyesal Soal Tabungan Kok Bisa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tak hanya soal simpanan, sekitar 20 persen responden lainnya juga menyesali tumpukan utang yang terlanjur diambil, terutama dari kartu kredit dan pinjaman pendidikan. Analis keuangan Bankrate, Stephen Kates, menyoroti bahwa penyesalan terkait dana pensiun ini cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, sebuah alarm keras bagi siapa saja yang belum memulai. Ironisnya, 43 persen dari mereka yang menyesal belum mengambil langkah konkret apapun untuk memperbaiki kondisi keuangannya dalam setahun terakhir. Mereka berharap adanya kebutuhan pokok yang lebih terjangkau, peluang kerja yang lebih baik, sewa tempat tinggal yang lebih murah, atau pemulihan pasar saham untuk membantu meringankan beban.

Kondisi ini seolah bercermin pada realitas di Tanah Air. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa hanya sekitar 76,3 persen penduduk Indonesia yang memiliki akses rekening bank formal. Lebih jauh lagi, jika dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja nasional yang mencapai 154 juta jiwa per Agustus 2025, peserta dana pensiun di Indonesia baru menyentuh angka 29 juta pekerja. Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa banyak masyarakat Indonesia juga menghadapi tantangan serupa dalam menyiapkan jaring pengaman finansial di masa depan.

Namun, bukan berarti terlambat untuk memulai. Para pakar keuangan menyarankan beberapa langkah strategis yang relevan bagi siapa saja, termasuk masyarakat Indonesia, untuk keluar dari lingkaran penyesalan finansial ini. "Lebih baik terlambat memulai daripada tidak pernah sama sekali," tegas Jake Martin, seorang pakar keuangan.

Strategi Jitu Atasi Penyesalan Finansial:

  1. Padamkan "Api Finansial" Terlebih Dahulu: Prioritaskan pelunasan utang berbunga tinggi seperti kartu kredit atau pinjaman online. Bunga yang terus membengkak dapat menggerogoti potensi tabungan Anda. Selain itu, identifikasi dan pangkas pengeluaran tetap yang tidak esensial. Ashton Lawrence, pakar keuangan lainnya, menyebutnya sebagai "mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan." Perhatikan ke mana uang Anda "bocor", apakah untuk sering makan di luar, langganan streaming berlebihan, aplikasi yang terlupakan, layanan pesan-antar, belanja impulsif, atau gaya hidup konsumtif. Setiap rupiah yang berhasil dihemat adalah potensi tabungan yang bisa dialokasikan untuk tujuan lebih penting.

  2. Bangun Dana Darurat Minimal 3-6 Bulan Biaya Hidup: Dana darurat adalah benteng pertahanan utama Anda dari kejadian tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau biaya medis mendadak. Dengan memiliki dana darurat yang cukup untuk menutupi biaya hidup selama 3 hingga 6 bulan, Anda dapat menghindari jeratan utang berbunga tinggi saat krisis melanda. Ini adalah langkah krusial untuk menjaga stabilitas finansial Anda.

  3. Tingkatkan Alokasi Tabungan Pensiun: Setelah dua langkah di atas terkendali, fokuslah pada persiapan masa tua. Jake Martin menyarankan, meski sebagian besar orang menargetkan menabung 5-10 persen dari penghasilan, mereka yang berusaha mengejar ketertinggalan sebaiknya menggenjot porsi tabungan menjadi 20-30 persen, terutama jika baru serius menabung di usia 40-an. Dalam beberapa kasus, menunda usia pensiun mungkin perlu dipertimbangkan untuk memberi waktu lebih banyak dalam mengumpulkan dana. Jumlah pasti yang dibutuhkan akan sangat bervariasi, tergantung usia dan gaya hidup yang diinginkan saat pensiun nanti.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post