Miliarder Prajogo Pangestu Kehilangan Triliunan

Agus Riyadi

15 Mei 2026

4
Min Read

Ekonesia – Kabar mengejutkan datang dari dunia bisnis Tanah Air. Salah satu konglomerat terkemuka Indonesia, Prajogo Pangestu, harus menyaksikan kekayaannya menyusut drastis dalam waktu singkat. Tercatat pada 14 Mei 2026, berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires, aset Prajogo anjlok hingga US$1,8 miliar, setara dengan Rp31,5 triliun, hanya dalam kurun waktu 24 jam.

Penyebab utama tergerusnya pundi-pundi Prajogo adalah keputusan MSCI yang mendepak sejumlah saham Grup Barito, termasuk BREN, TPIA, dan CUAN, dari indeks bergengsi mereka. Dampaknya langsung terasa. Enam saham di bawah kendali Prajogo, yaitu Barito Renewables Energy (BREN), Chandra Daya Investasi (CDIA), Petrosea (PTRO), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), Barito Pacific (BRPT), dan Chandra Asri Pacific (TPIA), kompak terperosok ke zona merah. Kondisi ini turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok nyaris 2%, menembus level 6.700-an. Saham-saham milik Prajogo bahkan masuk dalam daftar 10 emiten yang paling membebani kinerja IHSG pada perdagangan kemarin.

Miliarder Prajogo Pangestu Kehilangan Triliunan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Penurunan kekayaan ini bukanlah kali pertama bagi Prajogo. Sebelumnya, pada Mei 2024, harta kekayaannya sempat menyentuh angka fantastis US$70 miliar atau sekitar Rp1.200 triliun. Namun, kini angkanya "hanya" US$18,6 miliar. Ini berarti lebih dari Rp875 triliun kekayaannya lenyap dalam dua tahun terakhir, mengutip data Forbes Realtime Billionaire.

Meski demikian, di kancah global, Prajogo Pangestu masih kokoh di posisi ke-153 orang terkaya dunia. Di Indonesia, ia tetap menjadi orang paling tajir, mengungguli nama-nama besar seperti Low Tuck Kwong, R. Budi Hartono, dan Anthoni Salim.

Prajogo, yang kini berusia 82 tahun, dikenal sebagai sosok miliarder mandiri atau self-made billionaire. Kekayaannya sebagian besar berasal dari sektor petrokimia dan energi. Putra seorang pedagang karet ini memulai perjalanan bisnisnya dari nol, merintis karier di industri kayu pada akhir dekade 1970-an. Perusahaan pertamanya, Barito Pacific Timber, melantai di bursa saham pada tahun 1993. Seiring waktu dan pergeseran fokus bisnis dari kayu, perusahaan tersebut bertransformasi menjadi Barito Pacific pada tahun 2007.

Pada tahun yang sama, Barito Pacific mengakuisisi 70% saham perusahaan petrokimia terkemuka, Chandra Asri. Ekspansi terus berlanjut ketika anak usaha Chandra Asri, yakni Chandra Daya Investasi, dipisahkan dan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2025. Puncaknya di tahun 2011, Chandra Asri melakukan merger dengan Tri Polyta Indonesia, menjadikannya salah satu produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Di tahun yang sama, raksasa energi Thailand, Thaioil, juga turut berinvestasi dengan mengakuisisi 15% saham Chandra Asri.

Ambisi Prajogo tidak berhenti di sektor petrokimia. Setelah sukses membawa perusahaan tambang batu bara Petrindo Jaya Kreasi melantai di bursa pada tahun 2023, ia kembali mencatatkan unit bisnis energi terbarukan, Barito Renewables Energy, pada tahun yang sama, menandai langkah signifikan menuju energi hijau.

Forbes juga menyoroti serangkaian langkah bisnis strategis yang diambil Prajogo dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2015, Chandra Asri Petrochemical menjalin kerja sama dengan produsen ban asal Prancis, Michelin, untuk mengembangkan pabrik karet sintetis di Indonesia. Kemudian pada 2022, kantor keluarga Prajogo mengambil alih kendali produsen energi termal Star Energy setelah mengakuisisi 33% saham perusahaan tersebut dari BCPG Thailand dengan nilai transaksi mencapai US$440 juta.

Dalam perkembangan terkini, nama Prajogo kembali menjadi perbincangan hangat menyusul sejumlah aksi korporasi besar. Pada November 2025, Chandra Asri berhasil memperoleh pendanaan sebesar US$750 juta dari KKR untuk mendukung akuisisi aset Esso Singapore. Sebulan sebelumnya, perusahaan itu juga mengumumkan rencana pembelian jaringan SPBU ExxonMobil di Singapura. Tak hanya itu, pada April 2025, Chandra Asri bersama Glencore menyelesaikan pembelian aset Shell di Singapura. Sementara unit usaha lainnya, Petrosea, memperoleh kontrak pertambangan senilai US$954 juta dari Vale dan kontrak US$214 juta dari Grup Sinar Mas.

Forbes juga mencatat pada Juni 2025, IPO Chandra Daya Investasi memberikan valuasi perusahaan sebesar US$1,4 miliar. Pada periode yang sama, dana investasi milik negara Indonesia dikabarkan akan berpartisipasi dalam proyek pabrik kimia Chandra Asri senilai US$800 juta. Di luar sektor energi dan petrokimia, Prajogo juga semakin gencar memperluas bisnis ke energi hijau. Pada Agustus 2024, Forbes melaporkan miliarder Prajogo Pangestu bersama keluarga Zobel de Ayala berencana mengembangkan proyek tenaga angin di Indonesia, menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post