Guru SD Kaget Temukan Harta Karun Miliaran Rupiah

Agus Riyadi

1 Mei 2026

3
Min Read

Ekonesia – Kisah luar biasa datang dari Madura, membuktikan bahwa berkah bisa datang dari mana saja, bahkan dari sebuah cangkul di halaman sekolah. Nuryasin, seorang guru sekaligus kepala SDN Pejagan IV, tak menyangka aksi sederhana membersihkan lapangan sekolah usai hujan lebat justru membawanya pada penemuan bersejarah bernilai fantastis.

Awalnya, Nuryasin merasa prihatin melihat lapangan sekolah yang becek dan berlumpur akibat guyuran hujan. Khawatir kotoran akan terbawa masuk ke ruang kelas oleh lalu lalang murid-murid, ia berinisiatif mengambil cangkul. Tujuannya mulia: menimbun area becek dengan tanah kering yang diambil dari bagian lain halaman sekolah.

Guru SD Kaget Temukan Harta Karun Miliaran Rupiah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dengan semangat, Nuryasin mulai menggali tanah. Satu per satu titik becek berhasil diatasi. Namun, saat cangkulnya menembus kedalaman sekitar 25-30 sentimeter, sebuah benda keras tak terduga muncul. Matanya terbelalak melihat gerabah kuno yang tersembunyi di dalam lubang galian.

Rasa penasaran membuncah. Setelah gerabah itu diangkat, isinya mengejutkan: tumpukan koin kuno peninggalan era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan masa penjajahan Belanda. Koin-koin tersebut bertuliskan VOC dengan lambang Kerajaan Belanda, bertahun antara 1746 hingga 1760, berdiameter 2,1 cm. Ada pula jenis lain berdiameter 2,9 cm dengan tulisan "Indiae Batav" dari tahun 1819 hingga 1828.

Kabar penemuan harta karun ini segera menyebar luas, menggemparkan seantero negeri. Pihak berwenang dan arkeolog segera turun tangan, membenarkan bahwa koin-koin tersebut merupakan peninggalan sejarah yang sangat berharga. Total beratnya mencapai 13 kilogram koin perak, diperkirakan bernilai miliaran rupiah.

Banyak yang menduga Nuryasin akan menjadi miliarder baru. Dorongan untuk menjual temuan arkeologi ini demi keuntungan pribadi datang dari berbagai pihak. Namun, Nuryasin teguh pada prinsipnya. Ia menolak keras gagasan tersebut, menyatakan bahwa harta karun ini adalah milik sejarah, bukan miliknya pribadi.

"Ini tidak mungkin saya lakukan. Uang temuan ini akan kami serahkan kepada museum, sesuai petunjuk dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan," tegas Nuryasin, menunjukkan integritasnya yang luar biasa. Meski impian menjadi miliarder pupus, namanya kini terukir dalam lembaran sejarah sebagai penemu harta karun yang berintegritas tinggi.

Penemuan ini bukan hanya sekadar tumpukan koin, melainkan jendela menuju masa lalu. Ia menguak tabir bagaimana masyarakat bertransaksi di era VOC ratusan tahun silam. Sebagai wawasan, jauh sebelum VOC, masyarakat Jawa kuno telah mengenal sistem mata uang, terutama koin emas untuk transaksi skala besar seperti jual beli tanah.

Kedatangan VOC membawa perubahan signifikan. Kongsi dagang raksasa itu berupaya menyeragamkan mata uang di Nusantara, menggantikan berbagai mata uang asing yang beredar. Mereka memperkenalkan beragam koin seperti rijksdaalder, dukat, stuiver, gulden, dan doit, terbuat dari emas, perak, tembaga, hingga nikel.

Di antara koin-koin tersebut, "doit" memiliki jejak paling dalam. Nama koin ini kemudian berevolusi menjadi "duit", istilah yang hingga kini akrab digunakan masyarakat Indonesia untuk menyebut uang. Produksi koin secara lokal oleh VOC semakin memperluas penggunaannya.

Namun, kejayaan VOC berakhir pada tahun 1799. Mata uang baru dari pemerintah Hindia Belanda kemudian menggantikan perannya. Koin-koin era VOC pun perlahan menjadi relik sejarah, sebagian terpendam di tanah, menunggu untuk ditemukan kembali, persis seperti yang dialami Nuryasin 33 tahun lalu.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post