Siapa Untung Besar Sebelum Harga Minyak Anjlok

Agus Riyadi

25 Maret 2026

3
Min Read

Ekonesia – Sebuah gelombang transaksi mencurigakan melanda bursa komoditas global, melibatkan kontrak minyak mentah senilai ratusan juta dolar Amerika Serikat. Pergerakan anomali ini terjadi hanya beberapa menit sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pengumuman mengejutkan yang menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran, memicu penurunan harga minyak hingga 14%. Sontak, spekulasi mengenai praktik perdagangan orang dalam merebak, memunculkan pertanyaan besar tentang siapa saja yang diuntungkan dari informasi rahasia ini.

Rachel Winter, seorang mitra di Killik & Co, mendesak otoritas pengawas keuangan untuk segera melakukan investigasi mendalam. Ia menyoroti kejanggalan waktu transaksi yang sangat berpotensi memanfaatkan informasi internal. "Tepat sebelum unggahan di media sosial itu, banyak pihak mengambil kontrak yang memungkinkan mereka meraup keuntungan dari anjloknya harga minyak. Ada dugaan kuat tentang perdagangan orang dalam, dan kami berharap ada penyelidikan serius," ujarnya, menekankan pentingnya transparansi.

Siapa Untung Besar Sebelum Harga Minyak Anjlok
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Data pasar menunjukkan lonjakan volume perdagangan yang signifikan sekitar 15 menit sebelum Trump mengunggah status di platform Truth Social pada Senin, 23 Maret 2026, pukul 07.04 waktu setempat. Pada pukul 06.49, tercatat 733 taruhan pada kontrak minyak mentah jenis WTI di New York Mercantile Exchange (Nymex). Namun, hanya dalam satu menit berikutnya, angka tersebut melonjak drastis menjadi 2.007 kontrak, senilai sekitar 170 juta dolar AS.

Fenomena serupa juga terpantau pada pergerakan kontrak minyak mentah Brent di pasar internasional. Volume perdagangan melesat dari 20 menjadi lebih dari 1.600 kontrak, bernilai sekitar 150 juta dolar AS, hanya dalam hitungan satu menit. Mukesh Sahdev, Kepala Analis Minyak XAnalysts, menyebut lonjakan volume dalam waktu sesingkat itu sebagai kondisi yang sangat tidak wajar. Menurutnya, penempatan dana dalam jumlah masif di tengah minimnya informasi publik adalah hal yang patut dicurigai. "Saat itu, tidak ada indikasi pembicaraan serius antara AS dan Iran. Jadi, menempatkan begitu banyak uang pada penurunan harga minyak memunculkan banyak pertanyaan," tegas Sahdev.

Di tengah riuhnya spekulasi, Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, turut angkat bicara. Ia membantah keras klaim adanya negosiasi damai dengan Washington, menuding pernyataan sepihak tersebut sebagai kebohongan publik yang sengaja disebar untuk memanipulasi kondisi pasar. "Berita palsu ini digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak, serta untuk melarikan diri dari situasi sulit yang menjebak AS dan Israel," kata Ghalibaf melalui akun X-nya.

Bantahan tegas dari pemerintah Iran itu segera direspons pasar dengan kembali merangkaknya bursa saham Asia pada hari Selasa. Sementara itu, juru bicara Gedung Putih menegaskan bahwa pemerintah AS tidak akan menoleransi pejabat mana pun yang terbukti mengambil keuntungan secara ilegal dari informasi orang dalam, menjanjikan tindakan tegas jika ada pelanggaran yang terungkap.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post