Pernah Dicap Malas Kini Pilar Madrid Valverde

El-Shinta

13 Maret 2026

4
Min Read

Ekonesia – Perjalanan Federico Valverde menuju status bintang di Real Madrid adalah kisah transformasi yang menakjubkan. Siapa sangka, gelandang tangguh yang kini menjadi salah satu pilar utama El Real ini, dulunya pernah dicap sebagai pemain yang enggan berlari di lapangan hijau saat masih menimba ilmu di Montevideo, Uruguay. Sebuah kritik pedas yang kini terdengar ironis, mengingat etos kerjanya yang luar biasa.

Saat masih berada di akademi Peñarol, Valverde kecil memiliki ambisi besar. Pelatih mudanya, Chueco Perdomo, ingin menempatkannya sebagai gelandang tengah. Namun, sang pemain muda yang penuh percaya diri itu bersikeras untuk bermain sebagai gelandang serang nomor 10, posisi yang memberinya kebebasan lebih dan tanggung jawab bertahan yang minim. Bakatnya memang sudah terlihat sejak usia delapan tahun, mampu mendominasi permainan dan mengecoh lawan-lawannya. Gaya bermain yang penuh determinasi ini masih terlihat jelas hingga kini, termasuk ketika ia menjadi motor kemenangan Real Madrid 3-0 atas Manchester City di Stadion Santiago Bernabéu.

Pernah Dicap Malas Kini Pilar Madrid Valverde
Gambar Istimewa : gilabola.com

Kemampuan istimewa Valverde tak luput dari pantauan klub-klub elite Eropa. Arsenal, misalnya, pernah mencoba merekrutnya lebih dulu dari Peñarol, bahkan sampai melibatkan bintang mereka saat itu, Alexis Sánchez, untuk membantu proses transfer. Dua raksasa Eropa lainnya, Manchester United dan FC Barcelona, juga memantau perkembangan sang pemain dengan serius. Namun, pada akhirnya, Real Madrid lah yang berhasil mengamankan jasa permata Uruguay ini.

Meski telah lama menjadi bagian dari skuad Los Blancos, Valverde seringkali dianggap berada di bawah bayang-bayang gelandang-gelandang kenamaan lainnya seperti Luka Modrić, Toni Kroos, Casemiro, bahkan Jude Bellingham. Padahal, di mata orang-orang dalam klub, Valverde selalu menunjukkan kualitas luar biasa dalam setiap sesi latihan. Ia juga telah menunjukkan jiwa kepemimpinan di lapangan jauh sebelum mengenakan ban kapten. Buktinya, dalam kemenangan atas Manchester City, Valverde menempuh jarak sekitar 11,4 kilometer selama pertandingan, salah satu yang tertinggi di tim.

Salah satu kekuatan terbesar Valverde adalah fleksibilitasnya yang luar biasa. Ia mampu bermain di berbagai posisi sesuai kebutuhan tim, mulai dari gelandang bertahan, gelandang tengah, gelandang serang, sayap kanan, sayap kiri, hingga sesekali sebagai bek kanan. Kemampuannya beradaptasi di berbagai peran menjadikannya pemain yang sangat berharga bagi tim. Media Spanyol Marca bahkan memberikan pujian setinggi langit setelah ia mencetak hattrick pertamanya di UEFA Champions League, menyebut performanya mengingatkan pada kombinasi beberapa legenda sepak bola seperti Alfredo Di Stéfano, Toni Kroos, Cristiano Ronaldo, dan Kylian Mbappé.

Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, secara terbuka mengakui kesulitan timnya menghadapi pemain asal Uruguay tersebut. Ia bahkan menyatakan tidak yakin berapa banyak posisi yang bisa dimainkan Valverde, saking kagumnya dengan kemampuannya yang serbabisa. Pada laga yang sama, Valverde juga mendapatkan nilai sempurna 10/10 dari media Prancis L’Équipe, menjadikannya salah satu dari sedikit pemain yang pernah memperoleh penilaian langka tersebut. Rekan setimnya di Real Madrid, Trent Alexander-Arnold, juga memberikan pujian besar dengan menyebut Valverde sebagai salah satu pemain yang paling kurang mendapatkan pengakuan di dunia sepak bola selama bertahun-tahun.

Untuk waktu yang lama, label "under-rated" memang melekat pada Valverde. Ia dikenal sebagai pemain tim sejati yang selalu siap tampil dan menjalankan tugas apa pun yang diberikan pelatih. Musim ini, ia bahkan mencatatkan jumlah menit bermain terbanyak di antara seluruh pemain non-kiper Real Madrid. Namun, perjalanan menuju puncak performanya juga membutuhkan proses dan perhatian khusus. Salah satu aspek yang sempat menjadi perhatian adalah pola makan. Saat masih di Peñarol, Real Madrid bahkan menetapkan pola sarapan khusus untuknya agar pertumbuhan fisiknya optimal. Menu tersebut terdiri dari lima butir kenari, jus buah, roti gandum, dan satu jam kemudian ia harus mengonsumsi buah, kopi susu, serta sandwich ham dan keju. Program nutrisi ini dirancang untuk membantu perkembangan fisiknya hingga mencapai level performa seperti sekarang.

Kini, pada usia 27 tahun, Valverde berada dalam masa terbaik kariernya. Kekhawatiran tentang pola makan maupun persiapan mental sudah lama sirna. Real Madrid kini memiliki pemain yang dinilai sebagai salah satu gelandang paling lengkap di dunia sepak bola modern. Sepuluh tahun setelah meninggalkan Montevideo, julukan "Little Bird" yang dulu diberikan karena tubuhnya yang kecil saat remaja kini terasa sangat tepat. Valverde benar-benar telah mengembangkan sayapnya dan terbang tinggi di panggung sepak bola dunia. Apabila penampilan impresifnya melawan Manchester City belum cukup membuat namanya dikenal luas oleh publik global, performa gemilang bersama tim nasional Uruguay di FIFA World Cup musim panas nanti berpotensi semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain elite dunia.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post