Maradona Inggris Karier Hancur Sebelum Dimulai

El-Shinta

28 Februari 2026

4
Min Read

Ekonesia – Kisah Sonny Pike adalah narasi pilu tentang seorang talenta yang digadang-gadang sebagai "Maradona Inggris", namun kariernya justru berakhir tragis bahkan sebelum sempat benar-benar dimulai. Dulu, namanya santer disebut sebagai calon bintang masa depan, sebuah janji yang tak pernah terwujud di lapangan hijau profesional. Alih-alih merumput di panggung elite, Pike kini lebih dikenal sebagai simbol nyata dari beban ekspektasi yang terlampau besar pada talenta belia. Bayangkan, di usia 14 tahun, kedua kakinya diasuransikan senilai Rp19 miliar, sebuah sorotan yang justru menjadi bumerang.

Dari Enfield Menuju Panggung Nasional

Maradona Inggris Karier Hancur Sebelum Dimulai
Gambar Istimewa : gilabola.com

Pada era 1990-an, nama Sonny Pike mulai mencuat berkat penampilan memukaunya bersama klub Enfield. Gaya bermainnya yang lincah dan penuh magis membuatnya sering disandingkan dengan legenda seperti Diego Maradona dan George Best. Popularitasnya meroket dalam sekejap mata. Ia menjadi wajah iklan McDonald’s, bintang tamu di berbagai acara televisi, mendapat sponsor dari Coca-Cola, dan bahkan telah menjalin kerja sama dengan agen sejak usia yang sangat muda.

Klub-klub raksasa Inggris seperti Manchester United, Tottenham, Ipswich, hingga Norwich City tak luput meliriknya. Bahkan, dari luar negeri, Ajax Amsterdam memberinya kesempatan uji coba ketika ia baru berusia 12 tahun. Pike mengenang momen itu dengan penuh harap, melihat para bintang Ajax seperti Frank dan Ronald de Boer, Jari Litmanen, Nwankwo Kanu, hingga Patrick Kluivert melintas di hadapannya. "Saya tidak pernah seyakini itu akan menjadi pesepak bola profesional," ujarnya, merasa mimpinya sudah di depan mata.

Namun, Ajax tidak memberinya kontrak setelah dua pertandingan di tim muda. Ia pun kembali ke Inggris dengan ekspektasi publik yang semakin membumbung tinggi. Bahkan, kru televisi Blue Peter sempat mengikutinya selama di Belanda. Pike mengaku, pada usia 10 hingga 12 tahun, ia sudah terbiasa dengan kamera. Namun, memasuki usia 14 tahun, sorotan media itu mulai mengganggu konsentrasinya di lapangan.

Asuransi Fantastis dan Tekanan Tak Terlihat

Ketika usianya menginjak 14 tahun, kedua kakinya diasuransikan dengan nilai fantastis, mencapai satu juta poundsterling atau setara Rp19 miliar. Alih-alih menjadi sumber kebanggaan, fakta ini justru memicu cibiran dari orang tua pemain lawan. Pike sering mendengar teriakan agar kakinya dipatahkan. Di sekolah pun, ia merasa diperlakukan berbeda, seolah reputasinya telah menciptakan jurang antara dirinya dengan teman sebaya. Situasi ini semakin mempertegas kesenjangan antara citra publik yang ia sandang dan realitas pahit yang ia jalani sebagai seorang remaja.

Skandal, Larangan Bermain, dan Titik Balik

Pada tahun 1996, setelah gagal mendapatkan kontrak dari Ajax, Pike akhirnya menandatangani kontrak dengan Leyton Orient. Di sinilah awal mula kariernya mulai tergelincir. Ayahnya berkolaborasi dengan seorang jurnalis untuk memproduksi sebuah film dokumenter berjudul "Coaching and Poaching". Pike mengira film itu akan berfokus pada dirinya, namun ternyata tujuannya adalah membongkar skandal perekrutan ilegal pemain muda.

Dalam proses pembuatan film tersebut, Pike sempat tampil untuk Chelsea. Tanpa kesalahan langsung darinya, ia justru terseret dalam pelanggaran aturan FA terkait praktik "tapping up". Setelah penyelidikan mendalam, ia dijatuhi larangan bermain selama satu tahun penuh. Hukuman ini membuatnya kehilangan kesempatan berlatih dengan sejumlah klub dan hubungannya dengan sang ayah pun merenggang.

Ia menggambarkan kondisi mentalnya yang hancur. Setelah menonton dokumenter itu, ia berdiri di tengah jalan utama di Edmonton, di sebuah bundaran, sementara mobil-mobil melaju kencang di sekelilingnya. "Kepala saya rasanya seperti itu. Ini terlalu berat," ungkapnya. Larangan bermain tersebut menjadi pukulan telak pada fase krusial perkembangan seorang pemain muda. Satu tahun tanpa bermain di usia remaja berarti tertinggal jauh dari generasi sebaya yang terus berkembang secara fisik dan teknis.

Akhir Sebuah Mimpi di Usia 16 Tahun

Setelah masa hukuman berakhir, Crystal Palace sempat memberinya kesempatan. Namun, kesempatan itu tidak bertahan lama. Hasratnya terhadap sepak bola telah memudar. Ia mengaku mengalami semacam gangguan mental di lapangan saat diberi kesempatan bermain 15 menit. Tekanan yang ia rasakan begitu tak tertahankan. Ia berjalan meninggalkan lapangan dan menangis. Saat itu, ia tahu segalanya telah berakhir.

Pike sempat menghabiskan dua tahun di Stevenage hingga usia 18 tahun, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan dunia sepak bola. Ia tidak pernah sekalipun memainkan laga profesional di level senior. Setelah itu, ia berjuang melawan depresi sebelum akhirnya menata kembali hidupnya. Kini, Pike bekerja sebagai sopir taksi di London, melatih pemain muda, dan mendukung perjalanan karier mereka. Ia juga menulis buku berjudul "My Story: The Greatest Footballer That Never Was" untuk membagikan pengalamannya.

Kisah Sonny Pike bukan tentang kegagalan teknis di lapangan hijau. Ini adalah gambaran nyata bagaimana ekspektasi berlebihan, sorotan media yang intens, dan keputusan di luar kendali seorang remaja dapat mengubah arah hidup. Talenta yang pernah dijuluki "Maradona Inggris" itu akhirnya lebih dikenal sebagai pelajaran berharga tentang tekanan dalam sepak bola modern.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post