Ekonesia – Optimisme membara menyelimuti prospek ekonomi Indonesia, dengan target pertumbuhan yang ambisius mencapai 6 persen pada kuartal pertama 2026. Sinergi antara kebijakan pemerintah yang berpihak pada rakyat dan sinyal positif dari pasar global menjadi kunci pendorong kebangkitan ini. Para pemimpin negara menegaskan bahwa fondasi ekonomi yang kuat kini berakar dari denyut nadi masyarakat bawah dan investasi yang terus mengalir.
Baca juga: Putin & Prabowo Gegerkan Dunia! Ada Apa?
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kebangkitan perekonomian nasional akan ditopang oleh kekuatan ekonomi akar rumput, khususnya masyarakat di pedesaan. Ia menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebutnya berhasil memantik peningkatan konsumsi rumah tangga. "Saya menerima laporan langsung dari para kepala daerah, baik gubernur maupun bupati, yang kini merasakan dampak riil dari kebijakan kita. Mereka mengonfirmasi adanya peningkatan signifikan dalam daya beli masyarakat di wilayah mereka," ungkap Prabowo dalam acara Indonesia Economic Outlook di Jakarta pada Jumat 13 Februari 2026.

Senada dengan optimisme tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengirimkan sinyal positif kepada para investor, meyakinkan bahwa ekonomi Indonesia sedang berada dalam fase ekspansi yang kuat. Ia merujuk pada indikator Leading Economic Index dan Coincident Economic Index (LEI/CEI) dari The Conference Board yang menunjukkan tren penguatan ekonomi, bukan pelemahan. "Kita tidak sedang menuju kemerosotan ekonomi, justru kita sedang membaik dan bergerak menuju pertumbuhan yang lebih pesat," tegas Purbaya.
Baca juga: Investasi Saham: Lebih Kaya dari Nabung di Bank?
Purbaya memproyeksikan bahwa periode ekspansi ekonomi Indonesia akan membentang selama satu dekade penuh, dimulai sejak tahun 2023 dan diperkirakan berlanjut hingga 2033. Ia juga sangat yakin bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 mampu menyentuh angka antara 5,6 persen hingga 6 persen. Selain itu, kinerja kredit perbankan diprediksi akan kembali mencatat akselerasi signifikan dengan laju pertumbuhan dua digit.
Dari sektor investasi, Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM Rosan P Roeslani mengungkapkan bahwa Singapura masih menjadi kontributor investasi terbesar di Indonesia. Data BKPM menunjukkan, penanaman modal asing langsung dari Singapura mencapai 17,4 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Desember 2025.
Secara keseluruhan, total realisasi investasi asing langsung (FDI) yang masuk ke Indonesia sepanjang tahun 2025 berhasil menembus angka 900,9 triliun rupiah. Angka ini menunjukkan kenaikan tipis 0,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 900,2 triliun rupiah. BKPM mencatat, kontribusi terbesar datang dari lima negara utama, yang mayoritas didominasi oleh kekuatan ekonomi di kawasan Asia.











Tinggalkan komentar