10 Perebutan Gelar EPL Paling Gila Bikin Merinding

El-Shinta

14 April 2026

5
Min Read

Ekonesia – Dalam jagat sepak bola, tak ada yang lebih mendebarkan selain perebutan gelar juara liga. Premier League, kompetisi paling bergengsi di Inggris, selalu berhasil menyuguhkan drama tak terlupakan yang membuat para penggemar terpaku. Mengangkat trofi Premier League bukan sekadar kebanggaan domestik, melainkan penanda supremasi di liga yang kini diakui sebagai salah satu yang tersulit di dunia.

Lantas, apa sebenarnya yang menjadikan sebuah persaingan gelar begitu legendaris? Apakah karena tim yang nyaris juara justru tergelincir di menit-menit akhir, kemunculan tim non-unggulan yang mengguncang dominasi raksasa, ataukah pertarungan sengit yang melibatkan lebih dari dua kontestan hingga peluit akhir musim? Mari kita telusuri kembali 10 perebutan mahkota Premier League yang paling mendebarkan sepanjang sejarah.

10 Perebutan Gelar EPL Paling Gila Bikin Merinding
Gambar Istimewa : gilabola.com

10. Musim 1995/1996: Kebangkitan Setan Merah
Musim 1995/1996 dikenang berkat ramalan keliru Alan Hansen: "Anda tak akan juara dengan anak-anak." Komentar itu muncul setelah Manchester United yang diperkuat banyak talenta muda menelan kekalahan. Newcastle United asuhan Kevin Keegan tampak nyaman di puncak, sempat unggul 12 poin dengan 15 pertandingan tersisa. Namun, kembalinya Eric Cantona dari sanksi panjang bak suntikan energi bagi Setan Merah. Mereka melaju tak terbendung, sementara Newcastle justru kehabisan napas. Puncak drama adalah ledakan emosi Keegan di televisi, namun pada akhirnya, United yang muda dan berani berhasil mengklaim gelar dengan keunggulan empat angka.

9. Musim 2023/2024: Konsistensi Tak Terbendung
Musim 2023/2024 menjanjikan persaingan tiga arah yang memukau, namun hanya dua tim yang bertahan hingga akhir. Liverpool harus menyerah di bulan April, menyisakan Arsenal dan Manchester City. The Gunners menunjukkan performa fantastis, memenangkan 16 dari 18 laga penutup. Namun, mereka berhadapan dengan Manchester City yang tampil tanpa cela, tak terkalahkan sejak Desember. Meski Arsenal terus menekan hingga pekan pamungkas, City dengan dingin menyapu bersih setiap pertandingan, mengamankan gelar dan membuktikan dominasi mereka yang tak tertandingi.

8. Musim 1994/1995: Kejutan Blackburn
Musim 1994/1995 menyajikan kisah tak terduga: Blackburn Rovers, tim yang didanai Jack Walker, berhasil meruntuhkan dominasi. Mengandalkan ketajaman duet Alan Shearer dan Chris Sutton, mereka berjuang hingga akhir. Di hari penentuan, Blackburn justru takluk di tangan Liverpool. Jantung para pendukung dan manajer Kenny Dalglish berdebar kencang menanti hasil Manchester United kontra West Ham. Kemenangan United akan merenggut impian mereka. Namun, dewi fortuna berpihak pada Blackburn; United hanya mampu bermain imbang, dan pesta juara pun pecah di Ewood Park.

7. Musim 1998/1999: Awal Treble
Jika duel dua tim sudah mendebarkan, pertarungan tiga arah di musim 1998/1999 jauh lebih intens. Manchester United, Arsenal, dan Chelsea saling sikut. Chelsea sempat memimpin di paruh musim, namun performa mereka menurun drastis di bulan April. United, dengan semangat pantang menyerah, berhasil mengunci gelar di pekan terakhir usai menundukkan Tottenham. Kemenangan ini menjadi fondasi awal dari pencapaian legendaris mereka: meraih Treble Winners, diikuti dengan trofi FA Cup dan Liga Champions.

6. Musim 2009/2010: Dominasi The Blues
Musim 2009/2010 menjadi panggung kebangkitan Chelsea yang berhasil memutus dominasi Manchester United. Di bawah komando Carlo Ancelotti, The Blues tampil ofensif dan mematikan. Puncak persaingan terjadi saat mereka menaklukkan United 2-1 di Old Trafford pada bulan April. Chelsea akhirnya menyegel gelar di pekan terakhir dengan kemenangan telak 8-0 atas Wigan, sebuah pernyataan tegas tentang kelayakan mereka sebagai juara.

5. Musim 2018/2019: Persaingan Nyaris Sempurna
Musim 2018/2019 adalah anomali dalam sejarah Premier League, menampilkan persaingan di level yang nyaris sempurna. Manchester City dan Liverpool saling kejar dengan perolehan poin luar biasa tinggi. Di hari penentuan, City unggul tipis satu poin. Sempat tertinggal dari Brighton, yang memicu harapan besar bagi Liverpool, namun skuad Pep Guardiola bangkit dan membalikkan keadaan dengan kemenangan 4-1. Liverpool, yang mengakhiri musim dengan 97 poin – angka yang biasanya menjamin gelar juara – harus puas sebagai runner-up, sebuah kenyataan pahit yang sulit diterima.

4. Musim 2015/2016: Keajaiban Leicester
Musim 2015/2016 adalah epik dongeng yang tak akan pernah terulang. Leicester City, tim yang nyaris terdegradasi musim sebelumnya, secara mengejutkan memimpin perburuan gelar. Meskipun akhirnya unggul 10 poin, setiap pertandingan terasa seperti final, dengan semua mata menanti kapan ‘The Foxes’ akan tergelincir. Pesaing terdekat, Tottenham, justru kehilangan momentum di fase krusial. Gelar Leicester akhirnya terkonfirmasi setelah Tottenham bermain imbang melawan Chelsea dalam ‘Battle of the Bridge’, sebuah momen yang mengukir nama Leicester sebagai juara Premier League yang paling tak terduga.

3. Musim 2011/2012: Momen Ikonik Aguero
Momen ‘Aguerooooo’ di musim 2011/2012 adalah puncak drama hari terakhir yang tak tertandingi. Manchester United sempat memimpin delapan poin dengan enam laga tersisa, namun keunggulan itu perlahan sirna. Di pekan penentuan, Manchester City wajib menang melawan QPR. Saat United sudah merayakan kemenangan mereka, City masih tertinggal 1-2 di masa tambahan waktu. Edin Dzeko menyamakan kedudukan, dan di detik-detik terakhir, Sergio Aguero mencetak gol kemenangan yang tak hanya mengunci gelar, tetapi juga mengukir sejarah Premier League selamanya.

2. Musim 2007/2008: Ketat Hingga Akhir
Musim 2007/2008 kembali menyajikan pertarungan tiga raksasa: Manchester United, Chelsea, dan Arsenal. The Gunners sempat memimpin cukup lama, namun harapan mereka pupus setelah cedera mengerikan Eduardo di bulan Februari. Persaingan pun mengerucut antara United dan Chelsea yang kala itu dilatih Avram Grant. Kemenangan Chelsea atas United di Stamford Bridge membuat kedua tim memiliki poin sama di pekan terakhir. Namun, keunggulan selisih gol menjadi penentu, dan United berhasil mengamankan gelar setelah menundukkan Wigan 2-0.

1. Musim 2013/2014: Drama yang Tak Terlupakan
Musim

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post