Ekonesia – Bursa transfer musim panas mendadak memanas dengan perebutan jasa Djed Spence. Bek sayap Tottenham Hotspur ini kini tak hanya menjadi incaran Everton, tetapi juga menarik minat dua raksasa Premier League, Liverpool dan Newcastle United. Situasi ini langsung mengukuhkan posisi tawar Tottenham, yang kini mematok harga fantastis untuk pemain mudanya tersebut. Klub asal London Utara itu dikabarkan hanya bersedia membuka negosiasi jika ada tawaran minimal 40 juta poundsterling, atau setara dengan Rp887 miliar.
Baca juga: Prabowo ke Rusia: Peluang Emas Raih Investasi!
Tottenham Hotspur memang tidak terburu-buru melepas Spence. Awalnya, Everton sempat difavoritkan untuk mendapatkan tanda tangan sang pemain. Namun, kondisi berubah drastis setelah performa impresif bek berusia 23 tahun itu bersama tim nasional Inggris menarik perhatian luas. Kontribusi cemerlangnya di kancah internasional membuat nilai jual Spence melesat naik. Ia kini telah mencatatkan 12 penampilan bersama tim senior Inggris, sebuah pencapaian yang turut meningkatkan daya tariknya di pasar transfer.

Manajemen Tottenham berada dalam posisi yang sangat menguntungkan. Spence masih terikat kontrak jangka panjang hingga Juni 2029, sehingga Spurs tidak berada di bawah tekanan untuk segera menjual pemainnya. Everton sebelumnya diyakini ingin mengajukan proposal senilai sekitar 25 juta poundsterling. Namun, laporan terbaru mengindikasikan bahwa Tottenham akan menampik setiap tawaran di bawah angka 40 juta poundsterling.
Baca juga: IEU-CEPA Buka Jalan Investasi Mobil Listrik
Klub-klub peminat memiliki alasan berbeda dalam memburu Spence. Newcastle United melihat Spence sebagai sosok yang cocok dengan filosofi permainan cepat dan intensitas tinggi yang diterapkan oleh Eddie Howe. Kecepatan serta daya jelajahnya di sektor kanan dinilai sangat sesuai dengan kebutuhan The Magpies. Di sisi lain, Liverpool menganggap Spence bisa menjadi opsi rotasi yang mumpuni untuk menghadapi jadwal pertandingan yang padat, baik di kompetisi domestik maupun Eropa. Fleksibilitasnya dalam bermain menjadi salah satu poin plus yang diperhitungkan.
Pada musim 2025/2026, Spence membukukan 30 penampilan di Premier League, 23 di antaranya dimulai dari menit pertama, dengan akumulasi menit bermain lebih dari 2.050. Ia juga menunjukkan dominasinya dalam duel bola atas, dengan memenangi 59 persen duel udara sepanjang musim. Meskipun tanpa torehan gol atau assist di liga, sumbangsihnya dinilai tidak hanya bisa diukur dari angka-angka. Fisik prima dan gaya bermain agresifnya saat menghadapi pemain sayap lawan menjadi aspek paling menonjol. Hal ini kembali terlihat saat Inggris menaklukkan Norwegia 2-1, di mana Spence, yang masuk sebagai pemain cadangan selama 34 menit, mencatatkan 16 umpan sukses, melancarkan beberapa penetrasi dari sayap, serta membukukan tiga tekel krusial untuk membantu timnya mengamankan kemenangan.
Masa depan Spence kini masih menjadi tanda tanya. Laporan menyebutkan bahwa ia memiliki kapasitas untuk berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Namun, kemungkinan hengkang dari Tottenham demi menit bermain yang lebih substansial juga terbuka lebar. Everton menjanjikan jaminan tampil reguler setiap pekan. Liverpool menawarkan kesempatan merasakan atmosfer Liga Champions, sementara Newcastle membawa visi jangka panjang yang menjanjikan.
Dengan banyaknya peminat dan ikatan kontrak yang masih panjang, Tottenham kini berada di posisi strategis untuk mematok harga tinggi sang bek. Banderol sekitar Rp887 miliar memang tergolong fantastis untuk pemain yang belum menghasilkan gol atau assist secara langsung di Premier League musim lalu. Namun, ikatan kontrak yang panjang serta performa apik Spence di level internasional menjadi alasan kuat bagi Spurs untuk tidak menurunkan banderolnya. Bola kini berada di kaki klub-klub peminat, apakah mereka bersedia membayar harga yang diminta atau beralih ke target lain.
Dapatkan berita dengan ulasan mendalam, serta kabar terbaru hanya di ekonosia.com.



Tinggalkan komentar