Sumpah Prajurit Dihina Jadi Juragan Tanah

Agus Riyadi

18 Oktober 2026

3
Min Read

Ekonesia – Jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia bergema, Batavia, jantung Hindia Belanda, menyimpan kisah luar biasa seorang prajurit Yahudi yang bangkit dari keterpurukan menjadi salah satu saudagar paling disegani. Leendert Miero, demikian ia dikenal, bukan sekadar nama dalam sejarah, melainkan simbol tekad baja dan pembalasan dendam yang membentuk jejak properti megah, termasuk kawasan yang kini kita kenal sebagai Pondok Gede.

Pria bernama asli Jehoeve Leip Benjegiehel Snijder ini menginjakkan kaki di tanah Hindia Belanda pada tahun 1775. Berasal dari wilayah Rusia, ia datang bukan sebagai pedagang kaya, melainkan sebagai prajurit rendahan di bawah panji Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Bertahun-tahun hidupnya dihabiskan dalam rutinitas menjaga keamanan, tanpa ada tanda-tanda masa depan yang gemilang.

Sumpah Prajurit Dihina Jadi Juragan Tanah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, nasibnya berubah drastis pada tahun 1778. Saat bertugas menjaga kediaman mewah milik pejabat VOC, Reiner de Klerk, Miero melakukan kesalahan fatal: ia tertidur pulas. Kemarahan Reiner de Klerk meledak, dan Miero dihukum cambuk sebanyak 50 kali. Dalam kesakitan dan kehinaan itu, sebuah sumpah serapah meluncur dari bibirnya, menggetarkan: "Demi nenek moyang Abraham, Ishak, dan Yakub, suatu hari saya bakal beli seluruh rumah dan tanah ini!"

Sumpah itu bukan sekadar luapan emosi, melainkan pemicu perubahan hidup yang radikal. Sebagaimana dicatat Herald van de Linde dalam bukunya "Jakarta: History of Misunderstood City" (2020), Miero segera mengundurkan diri dari dinas militer. Ia menyadari, untuk mewujudkan ambisinya, jalan satu-satunya adalah melalui jalur bisnis dan kekayaan.

Miero pun terjun ke dunia perdagangan. Ia membuka lapak emas di dekat Glodok dan tak segan menjadi rentenir. Dengan tekad yang membara, layaknya banyak pengusaha Yahudi pada masanya, ia bekerja tanpa henti, menembus segala rintangan. Perlahan tapi pasti, pundi-pundi kekayaannya terus bertambah, mengantarkannya pada status saudagar yang makmur.

Menurut Adolf Heuken dalam "Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta" (2016), kesuksesan finansial ini memungkinkan Miero membeli apa pun yang ia inginkan. Toko, tanah, rumah-rumah megah, termasuk rumah yang pernah menjadi saksi bisu penghinaannya. Pada tahun 1818, impiannya terwujud. Dengan majikannya yang telah wafat, Miero tanpa ragu membeli seluruh properti bekas atasannya itu dari sang istri. Ini adalah puncak balas dendamnya, menandai dimulainya hidupnya sebagai "crazy rich" Batavia. Konon, Miero bahkan kerap mengadakan pesta besar tepat pada hari ia menerima cambukan, sebagai peringatan dan perayaan kemenangannya.

Tak hanya itu, pria kelahiran 22 April 1755 ini juga berhasil mengakuisisi tanah dan rumah super luas yang terletak sekitar 25 kilometer di selatan Batavia. Properti ini kemudian dikenal luas oleh masyarakat sebagai ‘Pondok Gede’. Ia pun menjadi juragan tanah yang disegani. Perjalanan hidup Leendert Miero berakhir pada 10 Mei 1834, meninggalkan warisan kekayaan yang kemudian dikelola oleh anak-anaknya. Kini, jejak sejarahnya tetap hidup, di mana tanah dan rumah yang pernah ia kuasai bertransformasi menjadi kawasan Pondok Gede yang ramai di Jakarta Timur.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post