Skandal Tentara AS Cuan Gelap Rp7 Miliar

Agus Riyadi

17 Oktober 2026

3
Min Read

Ekonesia – Sebuah skandal mengguncang militer Amerika Serikat. Seorang prajurit yang pernah terlibat dalam misi penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, kini menghadapi dakwaan serius. Ia dituding melakukan praktik insider trading yang sangat merugikan negara, berhasil mengantongi keuntungan gelap fantastis, mencapai lebih dari Rp7,2 miliar atau setara US$400.000.

Menurut dokumen dakwaan federal yang baru saja dibuka, Gannon Ken Van Dyke adalah sosok di balik kejahatan ini. Ia diduga kuat menyalahgunakan informasi super rahasia yang diperolehnya dari operasi militer. Data sensitif tersebut kemudian ia gunakan untuk memasang taruhan di Polymarket, sebuah platform prediksi berbasis teknologi blockchain, demi memperkaya diri sendiri.

Skandal Tentara AS Cuan Gelap Rp7 Miliar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Todd Blanche, yang menjabat Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS, mengecam keras tindakan Van Dyke. Ia menegaskan bahwa setiap personel militer mengemban amanah besar untuk menjaga kerahasiaan informasi demi kelancaran dan keamanan misi. Memanfaatkan data tersebut untuk kepentingan pribadi adalah pelanggaran berat yang tak bisa ditolerir. Blanche menambahkan, meski pasar prediksi kian marak, hukum federal tentang keamanan nasional tetap berlaku mutlak.

Van Dyke, yang bertugas aktif di Fort Bragg, North Carolina, diduga memasang sekitar 13 taruhan antara Desember dan Januari, dengan total modal US$33.034. Taruhan-taruhan tersebut mencakup skenario krusial seperti "Pasukan AS di Venezuela" dan "Maduro lengser" sebelum akhir Januari. Setelah meraup keuntungan fantastis US$409.881, ia segera memindahkan sebagian besar uangnya ke dompet kripto di luar negeri, lalu mengalirkannya ke akun broker daring baru untuk menghilangkan jejak.

Upaya Van Dyke untuk menyamarkan identitasnya di platform prediksi terungkap setelah Polymarket mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan terkait kontrak Maduro. Kini, ia menghadapi serangkaian dakwaan berat, termasuk tiga tuduhan pelanggaran Undang-Undang Pertukaran Komoditas, satu tuduhan penipuan wire, dan satu tuduhan transaksi moneter ilegal. Setiap dakwaan ini membawa ancaman hukuman penjara maksimal antara 10 hingga 20 tahun.

Kasus ini, yang semula ditangani di pengadilan federal North Carolina, kini telah dipindahkan ke pengadilan federal Manhattan. Jay Clayton, Jaksa Wilayah New York Selatan, dengan tegas menyatakan bahwa pasar prediksi bukanlah arena untuk mencari keuntungan pribadi dengan membocorkan informasi rahasia negara. Pihak Polymarket sendiri telah mengonfirmasi bahwa mereka berhasil mengidentifikasi pengguna yang melakukan perdagangan ilegal ini dan segera melaporkannya ke Departemen Kehakiman, serta aktif bekerja sama dalam penyelidikan.

Hingga berita ini diturunkan, Van Dyke belum bisa dimintai komentar, dan informasi mengenai penasihat hukumnya juga belum tersedia. Pentagon mengarahkan pertanyaan kepada Angkatan Darat AS, namun belum ada tanggapan resmi. Sebagai konteks, operasi penangkapan Nicolás Maduro dan istrinya oleh Amerika Serikat terjadi pada Januari lalu. Keduanya kemudian diterbangkan ke AS dan didakwa atas berbagai tuduhan, termasuk konspirasi narkoterorisme, meskipun mereka telah menyatakan tidak bersalah.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post