Ekonesia – Musim ini menjadi mimpi buruk tak berkesudahan bagi Real Madrid. Dari singgasana Raja Eropa, kini mereka terperosok dalam jurang kekalahan dan konflik internal yang tak kunjung usai. Saat rival abadi Barcelona merayakan gelar LaLiga dengan gemilang, Los Blancos justru pulang membawa segudang masalah, frustrasi, dan pertanyaan besar tentang masa depan klub.
Baca juga: Klopp Ungkap 4 Otak Jenius Sepak Bola Dunia
Kemenangan 2-0 Barcelona dalam El Clasico terbaru menjadi simbol betapa jauhnya jarak kedua tim musim ini. Bukan sekadar skor, namun dominasi Barca di klasemen dengan keunggulan 14 poin yang masih bisa melebar. Ini menyakitkan bagi Madrid, mengingat mereka baru saja mengangkat trofi Liga Champions di Wembley pada 2024. Namun, sejak saat itu, dua musim tanpa gelar mayor menjadi malapetaka bagi klub sebesar mereka.

Efek Mbappe yang Membingungkan
Baca juga: IPPAFest 2025: Karya Napi NTT Mendunia!
Kedatangan Kylian Mbappe secara gratis dari PSG awalnya digadang sebagai transfer sempurna. Madrid merasa telah mendapatkan salah satu mesin gol paling mematikan di dunia. Namun, kini keputusan itu mulai menjadi tanda tanya besar di internal klub. Banyak yang mempertanyakan apakah Mbappe benar-benar kebutuhan taktis, terutama saat Vinicius Junior sudah menjelma menjadi ikon tim dan kandidat Ballon d’Or. Ada anggapan bahwa transfer ini lebih merupakan proyek pribadi Florentino Perez ketimbang kebutuhan strategis tim.
Secara statistik, ketajaman Mbappe tak diragukan. Musim lalu ia mencetak 31 gol di LaLiga dan musim ini sudah mengoleksi 24 gol. Namun, di atas lapangan, harmoni tim justru terganggu. Carlo Ancelotti, Xabi Alonso, hingga Alvaro Arbeloa disebut kesulitan menemukan formula yang pas untuk menyatukan Mbappe, Vinicius, dan Jude Bellingham dalam satu sistem permainan.
Dampaknya terasa brutal. Madrid kalah empat kali dari Barcelona musim lalu. Musim ini mereka sempat menang 2-1 di El Clasico Oktober, tetapi juga dihajar Atletico Madrid 5-2 dan sudah menelan enam kekalahan di LaLiga. Di Liga Champions, catatan Mbappe bersama Madrid juga tak terlalu indah. Dari 25 laga, Madrid kalah 10 kali, termasuk saat tersingkir dari Arsenal dan Bayern Munchen.
Situasi makin rumit dengan cedera yang menimpa Mbappe, membuatnya absen di beberapa laga krusial seperti melawan Manchester City, Benfica, dan El Clasico terakhir. Yang paling memicu kegaduhan adalah keputusannya berlibur bersama pasangannya saat proses pemulihan cedera. Ia bahkan baru kembali ke Madrid beberapa menit sebelum rekan-rekannya menghadapi Espanyol. Kritik pun membanjiri, apalagi saat El Clasico di Camp Nou, dukungan Mbappe hanya berupa unggahan "Hala Madrid" di Instagram ketika timnya sudah tertinggal 2-0. Ekspektasi yang membumbung tinggi kini berbalik menjadi tekanan besar untuk musim depan.
Kegagalan Xabi Alonso di Ruang Ganti
Madrid sempat berharap Xabi Alonso bisa membawa disiplin baru setelah era Carlo Ancelotti yang dianggap terlalu permisif. Namun, misi eks pelatih Bayer Leverkusen itu berakhir dengan kegagalan pahit. Alonso hanya bertahan 233 hari. Sumber internal menyebut banyak pemain senior sejak awal meragukan Alonso, bahkan Florentino Perez pun disebut memiliki keraguan. Vinicius, Federico Valverde, dan Jude Bellingham termasuk nama-nama yang disebut kurang percaya dengan proyek Alonso.
Konflik memuncak saat Alonso beberapa kali mencadangkan Vinicius demi memberi ruang lebih besar kepada Mbappe. Puncaknya terjadi di El Clasico Oktober, ketika Vinicius meledak dalam kemarahan setelah ditarik keluar dan mempertanyakan keputusan Alonso secara terbuka di depan publik. Parahnya, pihak klub tidak memberikan dukungan penuh kepada Alonso setelah insiden itu, membuat wibawa sang pelatih langsung ambruk. Ruang ganti pun terpecah belah, dengan sebagian mendukung Alonso dan sebagian menentangnya. Situasi ini bertahan hingga Alonso akhirnya dipecat pada Januari.
Harapan Palsu dari Arbeloa
Pengganti Alonso, Alvaro Arbeloa, awalnya sempat membawa angin segar. Ia berhasil merangkul para pemain penting dan mencoba membangun kembali suasana ruang ganti. Arbeloa bahkan tak ragu memuji pemainnya di depan media; Vinicius disebut sebagai gambaran pemain Real Madrid sejati, sementara Federico Valverde dianggap punya spirit legenda klub, Juanito.
Strategi itu awalnya berhasil. Madrid menang 17 kali dalam 21 laga pertama Arbeloa. Mereka bahkan mampu mengalahkan tim asuhan Jose Mourinho, Pep Guardiola, dan Diego Simeone. Vinicius juga tampil menggila dan kembali menemukan performa terbaiknya. Namun, semuanya berbalik menjadi kekecewaan memasuki fase krusial musim. Madrid mulai kehilangan poin lawan Mallorca, Girona, dan Real Betis, membuat harapan juara LaLiga perlahan sirna. Di Liga Champions, mereka disingkirkan Bayern Munchen dengan agregat 6-4.
Masalah lain juga muncul di balik layar. Antonio Rudiger dilaporkan sempat terlibat friksi dengan Alvaro Carreras. Hubungan Arbeloa dengan Dani Carvajal, Dani Ceballos, dan Raul Asencio juga disebut memburuk. Belum selesai sampai di situ, Federico Valverde bahkan dikabarkan mengalami cedera kepala setelah terlibat pertengkaran dengan Aurelien Tchouameni menjelang El Clasico penentuan gelar. Kedua pemain kabarnya didenda 500 ribu Euro. Kini, sesi latihan Madrid disebut lebih banyak fokus menjaga suasana tim tetap tenang ketimbang urusan taktik, namun hasilnya tetap nihil.
Florentino Perez Ikut Terseret Badai
Masalah Madrid ternyata tidak cuma terjadi di lapangan. Florentino Perez juga sedang menghadapi tekanan besar di luar sepak bola. Proyek Super League yang selama ini diperjuangkannya mulai melemah setelah Madrid akhirnya mencapai kesepakatan dengan UEFA. Renovasi stadion Bernabeu senilai 1 miliar Euro juga terkena masalah hukum terkait kebisingan konser. Selain itu, rencana perubahan struktur kepemilikan klub juga belum menunjukkan perkembangan jelas. Di tengah kekacauan ini, Perez mulai dituduh terlalu lunak terhadap para pemain bintang, mengingatkan banyak orang pada era Galacticos dulu, ketika Madrid dipenuhi pemain besar tetapi gagal menjadi tim yang solid.
Revolusi Besar Menanti Madrid
Musim panas nanti dipastikan menjadi momen paling menentukan bagi Real Madrid. Klub harus menentukan pelatih baru, mencari pemain yang tepat, dan membereskan konflik internal yang terus mengganggu ruang ganti. Nama Jose Mourinho kini mulai muncul sebagai kandidat pelatih berikutnya.
Namun, pekerjaan yang menunggu jelas tidak mudah. Dana transfer Madrid disebut terbatas jika mereka tidak menjual pemain lebih dulu. Sementara rekrutan musim panas lalu seperti Trent Alexander-Arnold, Dean Huijsen, Alvaro Carreras, dan Franco Mastantuono belum benar-benar memberi dampak besar. Belum lagi masalah kontrak Vinicius yang masih belum selesai dan akan habis pada 2027. Kini pertanyaannya tinggal satu: Apakah musim buruk ini sudah menjadi palung terdalam Real Madrid, atau justru mereka masih akan jatuh lebih dalam lagi? Ikuti perkembangan terbaru di Ekonesia.com.




Tinggalkan komentar