Ekonesia – Kabar mengejutkan dari MSCI yang mengisyaratkan potensi penurunan status pasar saham Indonesia dari kategori "Emerging Market" menjadi "Standalone Market" langsung memicu gejolak hebat di bursa. Reaksi negatif investor tak terhindarkan, membuat Indeks Harga Saham Gabungan IHSG anjlok drastis pada pembukaan perdagangan Jumat 16 Oktober 2026.
Baca juga: Jual Rekening Bank OJK Bongkar Ancaman Serius
Pada awal sesi, IHSG langsung terjun bebas hingga 8 persen, memaksa otoritas bursa memberlakukan "trading halt" atau penghentian sementara perdagangan selama 30 menit untuk meredakan kepanikan. Namun, tekanan jual terus berlanjut. Sekitar pukul 10.03 WIB, IHSG kembali merosot lebih dalam, mencapai pelemahan 10,41 persen dan bertengger di level 5.253.

Tak hanya pasar saham, nilai tukar Rupiah juga ikut terkapar. Mata uang Garuda melemah signifikan hingga menyentuh angka 18.060 per dolar Amerika Serikat, menambah daftar panjang kekhawatiran di tengah sentimen pasar yang memburuk.
Baca juga: Arsenal Siap Pecahkan Rekor Demi Bintang Ini
Di sisi lain, pasar komoditas justru menunjukkan tren yang kontras. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak tajam menembus 105 dolar AS per barel. Senada, harga batu bara juga melesat, berhasil menembus level 159 dolar AS per ton. Kenaikan harga komoditas ini dipicu oleh kekhawatiran global terhadap pasokan yang semakin menipis.
Analisis mendalam mengenai dinamika pasar yang bergejolak ini telah disajikan oleh Shafinaz Nachiar dalam program Profit CNBC Indonesia pada Jumat 16 Oktober 2026.











Tinggalkan komentar