Ekonesia – Awal musim Liverpool di bawah arahan Andoni Iraola memang tampak mulus tanpa kekalahan. Namun, di balik catatan impresif itu, sejumlah persoalan krusial mulai mengemuka, menuntut perhatian serius dari sang manajer. Setelah era keemasan Jurgen Klopp usai dan Arne Slot berhasil mengukir sejarah dengan gelar Premier League di musim perdananya, kini tongkat estafet beralih ke Iraola. Ia mewarisi skuad yang mengalami perombakan besar di bursa transfer, sekaligus kehilangan beberapa pemain kunci, menciptakan tantangan yang tak ringan di Anfield.
Baca juga: Setan Merah Incar Trio Striker, Tapi Jalannya Terjal!
Liverpool menunjukkan agresivitas luar biasa di pasar transfer musim panas ini, menggelontorkan dana fantastis sekitar Rp4,8 triliun untuk mendatangkan nama-nama seperti Jeremy Jacquet, Victor Munoz, Ronald Araujo (pinjaman), dan Bradley Barcola. Kedatangan Barcola dari Paris Saint-Germain, dengan dua gelar Liga Champions di tangannya, menjadi sorotan utama. Penyerang Prancis ini diharapkan menambah daya gedor lini depan yang sudah dihuni Alexander Isak, Florian Wirtz, Cody Gakpo, dan Munoz. Namun, di sisi lain, The Reds harus merelakan kepergian Mohamed Salah, Andy Robertson, dan Ibrahima Konate secara gratis. Tak hanya itu, Curtis Jones dilepas ke Inter Milan senilai Rp660 miliar. Bahkan, tawaran menggiurkan Rp1,76 triliun dari Manchester City untuk Gakpo ditolak karena Liverpool kesulitan mencari pengganti yang sepadan. Situasi ini mengungkap paradoks: meskipun belanja besar, kedalaman skuad justru terasa rapuh, dengan distribusi kualitas pemain yang belum merata.

Sektor bek kanan menjadi salah satu titik rawan yang paling mencolok. Jeremie Frimpong belum mampu memenuhi ekspektasi di dua laga awal, membuat Iraola terpaksa menggeser Ronald Araujo ke posisi tersebut. Keputusan ini jelas mengindikasikan adanya kekhawatiran serius di sisi pertahanan kanan. Apalagi, Conor Bradley masih dalam pemulihan, kebugaran Joe Gomez diragukan, dan Giovanni Leoni harus ditangani ekstra hati-hati pasca cedera ACL panjang. Araujo memang bisa menjadi solusi jangka pendek, bahkan dengan opsi pembelian permanen seharga Rp1,03 triliun. Namun, ia bukanlah jawaban definitif. Iraola juga bisa mempertimbangkan Dominik Szoboszlai, namun mengorbankan gelandang energik itu dari lini tengah akan menimbulkan konsekuensi besar bagi keseimbangan tim. Dengan riwayat cedera Bradley, mengandalkan penuh pemain berusia 22 tahun itu setiap pekan juga berisiko. Saat ini, posisi bek kanan Liverpool terasa seperti tumpukan kartu yang mudah roboh, menunggu satu cedera lagi untuk kembali mengubah komposisi.
Baca juga: IHSG Meroket! 553 Saham Hijau, Cuan Mengalir Deras!
Kepergian Curtis Jones ke Inter Milan juga meninggalkan lubang menganga di lini tengah. Iraola sendiri mengakui enggan melepas Jones, namun sang gelandang memilih mencari tantangan baru. Kini, Iraola harus mengandalkan opsi yang ada. Wataru Endo, meski masih di klub, tidak masuk skuad Liga Champions, sebuah sinyal kuat bahwa ia bukan bagian integral dari rencana Iraola. Ryan Gravenberch, yang sempat menjanjikan di bawah Slot, belum menunjukkan konsistensi sebagai gelandang bertahan jangka panjang. Alexis Mac Allister tetap menjadi pilar penting, namun masa depannya juga mulai dipertanyakan. Lagi-lagi, Szoboszlai mungkin harus dikorbankan posisinya demi menambal kekurangan di tempat lain. Kondisi ini secara tak terduga memberikan tanggung jawab besar kepada Trey Nyoni. Gelandang muda akademi ini tampil memukau di pramusim dan menunjukkan ketenangan saat diberi kesempatan. Namun, ada perbedaan besar antara bermain beberapa menit sebagai pengganti dan mengendalikan tempo pertandingan selama 90 menit di bawah tekanan tinggi. Iraola harus segera menemukan apakah Nyoni sudah cukup matang, fokus, dan kuat secara fisik untuk beban yang lebih besar.
Mungkin tantangan terberat Iraola adalah menemukan sosok yang benar-benar bisa menggantikan Mohamed Salah. Mencari pemain dengan kemampuan mencetak gol, menciptakan peluang, konsisten, dan tahan banting di jadwal padat seperti Salah adalah misi yang nyaris mustahil. Michael Olise, yang profilnya paling mendekati, kini sudah berlabuh di Bayern Munich. Situasi unik pun terjadi: Liverpool kini memiliki banyak penyerang sayap seperti Gakpo, Barcola, Munoz, dan Rio Ngumoha, namun sebagian besar dari mereka lebih nyaman beroperasi di sisi kiri. Artinya, Iraola punya banyak opsi di sayap, tetapi tidak otomatis memiliki pengganti alami untuk mengisi kekosongan di sisi kanan yang ditinggalkan Salah. Munoz memang menunjukkan potensi positif di kanan, begitu pula Barcola dan Gakpo yang bisa digeser. Frimpong bahkan dapat didorong lebih tinggi untuk memanfaatkan kecepatan serangannya. Namun, banyaknya pilihan tidak selalu berarti ada solusi ideal. Nama Yankuba Minteh bisa kembali dipertimbangkan pada Januari, atau Liverpool mungkin menunggu hingga musim panas mendatang untuk Olise. Federico Chiesa juga menghadapi masa depan yang tidak pasti di Anfield, mengingat kepercayaan Iraola kepadanya belum maksimal. Di atas kertas, lini sayap Liverpool terlihat penuh, namun setelah dicermati, justru keseimbangannya yang menjadi persoalan utama.
Tidak semua persoalan Liverpool dapat diselesaikan dengan gelontoran dana di bursa transfer. Jika setiap kelemahan terus ditunda hingga jendela transfer berikutnya, tekanan terhadap Iraola justru akan semakin memuncak. Di sinilah kepiawaian sang pelatih akan benar-benar diuji. Iraola dikenal sebagai arsitek tim yang mampu mengoptimalkan performa pemain melalui sesi latihan intensif, kejelasan taktik, dan gaya sepak bola agresif. Dengan kondisi skuad saat ini, mungkin tugas terbesarnya bukanlah mencari terlalu banyak wajah baru, melainkan mengeluarkan potensi maksimal dari setiap pemain yang sudah ada di ruang ganti. Kembalinya Conor Bradley, Giovanni Leoni, dan Hugo Ekitike dari cedera juga bisa menjadi suntikan tenaga vital, seolah-olah mereka adalah rekrutan baru di tengah musim. Kehadiran mereka tentu tidak akan menghapus seluruh masalah, namun setidaknya akan memberikan lebih banyak pilihan bagi Iraola saat jadwal pertandingan mulai padat. Kualitas individu pemain Liverpool sebenarnya tak perlu diragukan: Virgil van Dijk, Alisson, Mac Allister, Szoboszlai, Ekitike, Isak, Wirtz, dan Barcola adalah nama-nama yang menjamin Liverpool tetap pantas memasang target tinggi. Persoalannya justru terletak pada celah dan ketidakseimbangan di antara bintang-bintang tersebut, sebuah teka-teki yang harus dipecahkan Iraola.



Tinggalkan komentar