IHSG Anjlok Parah Sektor Ini Biang Keroknya

Agus Riyadi

15 Oktober 2026

3
Min Read

Ekonesia – Pasar modal Indonesia dilanda gejolak hebat hari ini setelah Indeks Harga Saham Gabungan IHSG terjun bebas lebih dari dua persen. Koreksi mendalam ini memicu kekhawatiran investor di tengah serangkaian sentimen global dan domestik yang memanas.

Data Refinitiv menunjukkan penurunan signifikan IHSG tak lepas dari performa buruk beberapa sektor utama. Sektor infrastruktur menjadi yang paling terpukul dengan anjlok 4,8 persen disusul energi yang merosot 3,7 persen dan material dasar yang kehilangan tiga persen nilainya. Saham-saham raksasa seperti PT Bayan Resources Tbk BYAN PT Bumi Resources Minerals Tbk BRMS dan PT Barito Renewables Energy Tbk BREN menjadi penekan utama indeks. Tak ketinggalan PT Bank Central Asia Tbk BBCA dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk DSSA turut berkontribusi pada pelemahan. Di sisi lain beberapa saham mampu bertahan bahkan menguat seperti PT Capital Financial Indonesia Tbk CASA dan PT Bank of India Indonesia Tbk BSWD yang memberikan sedikit harapan di tengah badai merah.

IHSG Anjlok Parah Sektor Ini Biang Keroknya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kecamuk geopolitik global turut mewarnai sentimen pasar. Kelompok Houthi di Yaman kembali mengancam akan melancarkan serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak vital di Arab Saudi. Ancaman ini muncul setelah insiden yang merusak kompleks Saudi Aramco di Dhahran. Eskalasi konflik di Timur Tengah ini berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan memicu ketidakpastian yang lebih luas bagi perekonomian dunia.

Dari Amerika Serikat data inflasi terbaru memicu kekhawatiran. Inflasi AS pada September 2026 melonjak menjadi 3,7 persen secara tahunan melampaui ekspektasi pasar 3,6 persen. Kenaikan tajam harga energi terutama bensin dan minyak pemanas menjadi pemicu utama. Inflasi inti juga menunjukkan peningkatan. Merespons data ini indeks dolar AS langsung meroket menyentuh level tertinggi dalam satu setengah tahun terakhir. Penguatan dolar AS ini berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia yang dapat menekan nilai tukar rupiah.

Namun ada secercah harapan dari Tiongkok. Negeri Tirai Bambu mencatat surplus perdagangan fantastis sebesar 133,53 miliar dolar AS pada September 2026 menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah. Ekspor Tiongkok melesat 36,3 persen sementara impor juga tumbuh impresif 31 persen. Peningkatan impor Tiongkok ini merupakan kabar baik bagi Indonesia mengingat Tiongkok adalah mitra dagang utama yang dapat meningkatkan permintaan komoditas dari Tanah Air.

Meski demikian inflasi Tiongkok juga menunjukkan kenaikan tipis menjadi 0,9 persen yoy. Sementara itu inflasi produsen PPI melonjak tajam hingga 5 persen tertinggi sejak Juni 2022. Selain itu perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan penting IMF-World Bank di Bangkok Thailand. Diskusi antara Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada hari ini Kamis 15 Oktober 2026 akan sangat dinanti. Pernyataan Warsh berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed prospek suku bunga AS dan risiko utang global yang akan sangat memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.

Investor juga akan mencermati rilis data indeks harga produsen PPI AS untuk September 2026 yang dijadwalkan hari ini. Data ini akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai tekanan inflasi di tingkat produsen yang dapat menjadi indikator awal bagi inflasi konsumen di masa mendatang.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post