Ekonesia – PT Bank Syariah Indonesia Tbk BRIS tengah menjadi sorotan pasar. Bank syariah terbesar di Indonesia ini baru saja menguak strategi di balik rencana penambahan modal melalui skema rights issue tahap kedua. Aksi korporasi ambisius ini akan menerbitkan hingga 6,8 miliar lembar saham Seri B dengan nilai nominal Rp500 per saham, sebuah langkah yang disebut-sebut bukan sekadar menambah pundi-pundi modal biasa.
Baca juga: Gaya Hidup Tak Goyah! Saham Starbucks Cs Terbang Tinggi
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menjelaskan, rights issue ini memiliki dua misi utama. Pertama, untuk memperkokoh basis permodalan demi menopang laju pembiayaan bank yang terus melesat. Anggoro mengungkapkan, pertumbuhan pembiayaan BSI tetap konsisten tinggi di angka 16%. Meskipun dana pihak ketiga (DPK) juga mencatat kenaikan signifikan 15%, BSI tetap memerlukan struktur permodalan yang kokoh agar pertumbuhan pembiayaan dapat terjaga sehat dan berkelanjutan.

"Jika kita ingin mempertahankan pertumbuhan pembiayaan di level 16% secara terus-menerus, kita butuh pendanaan yang sehat. Oleh karena itu, dana dari rights issue ini akan kita gunakan untuk memastikan fondasi pendanaan yang kuat," ujar Anggoro usai konferensi pers BSI International Expo di Jakarta, Kamis 15 Oktober 2026.
Baca juga: Bank Digital Kredivo Siapkan Tiga Jurus
Misi kedua yang tak kalah penting adalah menggenapi ketentuan kepemilikan saham publik atau free float minimal 15%. Saat ini, porsi free float saham BRIS baru menyentuh angka 9,91%. Dengan terpenuhinya syarat ini, BSI memiliki ambisi besar agar saham BRIS dapat menembus jajaran indeks LQ45, sebuah tolok ukur saham-saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia.
Anggoro menegaskan, manfaat dari rights issue ini sangatlah beragam dan strategis. Mengutip informasi dari Bursa Efek Indonesia, saham baru yang diterbitkan dalam rights issue ini akan memiliki hak yang setara dan selevel dengan saham Seri B perseroan lainnya yang telah ditempatkan dan disetor, termasuk hak atas dividen.
Seluruh dana hasil aksi korporasi ini, setelah dikurangi biaya emisi, akan dialokasikan sepenuhnya untuk mendongkrak penyaluran pembiayaan guna menopang akselerasi bisnis perseroan. Detail alokasi dana akan terurai lebih lanjut dalam prospektus yang diterbitkan pada saat pelaksanaan.
Dari sisi keuangan, penambahan modal ini diproyeksikan akan memperkukuh fondasi permodalan sekaligus melipatgandakan kapasitas penyaluran kredit. Permodalan BSI diperkirakan melesat dari Rp51,07 triliun di tahun 2026 menjadi Rp64,41 triliun pada tahun 2027, menandai lompatan signifikan dalam kekuatan finansial bank syariah ini.











Tinggalkan komentar