Ekonesia – Langkah Belgia di Grup G Piala Dunia 2026 kembali tertahan. Setelah sebelumnya berbagi angka dengan Mesir, kali ini skuad berjuluk Setan Merah itu harus puas bermain imbang tanpa gol melawan Iran di Los Angeles, Senin dini hari WIB. Hasil 0-0 ini menjadi pukulan telak bagi ambisi Belgia, sementara Iran sukses mencuri satu poin berharga dengan performa yang mengejutkan.
Baca juga: Hidup Mewah Berujung Bui Skandal Rp 219 M
Pertandingan yang berakhir seri kacamata ini sejatinya jauh dari kata membosankan. Kedua tim saling jual beli serangan dan menciptakan banyak peluang. Iran bahkan sempat merayakan gol melalui Mehdi Taremi di babak pertama, namun kegembiraan itu sirna setelah wasit menganulir gol tersebut usai tinjauan VAR yang menunjukkan posisi offside sangat tipis.

Meskipun Belgia mendominasi penguasaan bola, ancaman berbahaya justru lebih sering datang dari kubu Iran. Penjaga gawang Belgia, Thibaut Courtois, dipaksa bekerja keras sejak awal laga. Hossein Kanani sempat menguji refleksnya, dan dari sepak pojok berikutnya, Saeid Ezatolahi nyaris membuka keunggulan Iran dengan sundulan jarak dekat yang sayangnya masih melebar. Momen Taremi mencetak gol yang dianulir VAR juga menjadi bukti nyata betapa berbahayanya serangan Iran.
Baca juga: Kemiskinan RI Lebih Parah? Ini Kata Ekonom!
Di sisi lain, Belgia juga tak tinggal diam. Kevin De Bruyne dan Maxim De Cuyper mencoba peruntungan dengan tendangan voli, namun kiper Iran, Alireza Beiranvand, tampil sigap mengamankan gawangnya. Duel antara kedua penjaga gawang ini menjadi sorotan utama, dengan Beiranvand dan Courtois sama-sama menunjukkan kelasnya dalam menjaga gawang tetap perawan.
Petaka bagi Belgia datang di menit ke-66. Bek Nathan Ngoy melakukan blunder fatal saat mencoba mengalirkan bola dari tengah lapangan. Taremi dengan cepat merebut bola dan melesat menuju gawang. Ngoy terpaksa menarik penyerang Iran itu, dan wasit tanpa ragu mengeluarkan kartu merah langsung karena menganggapnya sebagai pelanggaran yang menggagalkan peluang emas. Bermain dengan 10 orang, Belgia tetap berjuang keras. Courtois kembali menjadi pahlawan dengan menepis tendangan keras Ezatolahi di sisa waktu. Dodi Lukebakio sempat memiliki kesempatan emas di penghujung laga, namun sepakannya masih melebar.
Hasil ini tentu menambah daftar panjang pekerjaan rumah bagi pelatih Rudi Garcia. Belgia terlihat mandul di depan gawang, gagal mengonversi dominasi mereka menjadi gol. Leandro Trossard menciptakan enam peluang, sementara De Bruyne mencatat tiga peluang dan mengalirkan 34 umpan kunci di sepertiga akhir lapangan, namun semua itu tak cukup untuk menembus pertahanan Iran yang tampil sangat disiplin.
Sorotan tajam juga mengarah pada Romelu Lukaku. Striker andalan Belgia ini kembali tampil mengecewakan. Setelah dipercaya menjadi starter, Lukaku kini telah melewati delapan pertandingan Piala Dunia berturut-turut tanpa mampu mencetak gol, terakhir kali ia melakukannya pada edisi 2018. Secara keseluruhan, Belgia kini telah melepaskan 69 tembakan tanpa kemenangan dan belum meraih satu pun kemenangan dalam empat laga terakhir mereka di turnamen akbar ini.
Sebaliknya, Iran patut mendapat pujian. Dengan rata-rata usia starting XI tertua sejak 1966 (32 tahun 181 hari), pengalaman mereka terbukti menjadi kunci. Mereka tidak hanya bertahan dengan solid, tetapi juga berani menyerang dan menciptakan peluang yang cukup untuk memenangkan pertandingan, terutama sebelum Belgia kehilangan satu pemain. Iran menunjukkan bahwa mereka adalah lawan yang tidak bisa diremehkan dan layak mendapatkan lebih dari sekadar satu poin.


Tinggalkan komentar