MU Terancam Degradasi Ini Penyebabnya

El-Shinta

1 November 2026

2
Min Read

Ekonesia – Awan kelabu menyelimuti Old Trafford. Manchester United kini berada di bibir jurang degradasi Liga Primer Inggris, sebuah kenyataan pahit yang semakin nyata setelah serangkaian hasil buruk. Kekalahan terbaru dari Chelsea dan kemenangan mengejutkan Coventry City atas Sunderland membuat posisi Setan Merah kian terpojok, hanya berjarak satu poin dari zona merah.

Sabtu kelabu 31 Oktober 2026 menjadi saksi bisu kejatuhan Manchester United di Stamford Bridge. Bertandang ke markas Chelsea, pasukan Michael Carrick harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor 2-0. Hasil minor ini bukan hanya sekadar kekalahan biasa, melainkan perpanjangan rekor tanpa kemenangan menjadi sembilan pertandingan beruntun di liga, catatan terburuk sejak tahun 1986. Start musim ini pun disebut-sebut sebagai yang terburuk dalam empat dekade terakhir bagi klub peraih 20 gelar liga tersebut.

MU Terancam Degradasi Ini Penyebabnya
Gambar Istimewa : secure.gravatar.com

Pada paruh pertama laga kontra Chelsea, United sebenarnya sempat menunjukkan taringnya. Beberapa peluang emas tercipta, sayangnya Bruno Fernandes gagal mengkonversinya menjadi gol. Namun, dominasi Setan Merah tak bertahan lama. Di babak kedua, gawang mereka terkoyak oleh aksi solo run brilian Morgan Rogers dan eksekusi penalti dingin Cole Palmer. Penderitaan tim tamu kian bertambah saat Lisandro Martinez harus meninggalkan lapangan lebih awal setelah diganjar kartu kuning kedua akibat duel udara keras dengan Wesley Fofana.

Tak sampai di situ, kabar buruk lainnya datang dari laga Coventry City. Kemenangan 3-1 atas Sunderland membuat Coventry berhasil menggeser posisi Manchester United di tabel klasemen sementara. Kini, di pekan kesembilan Premier League 2026-2027, United hanya bertengger satu tingkat di atas zona degradasi, dengan selisih satu angka saja.

Musim ini benar-benar menjadi mimpi buruk bagi Manchester United. Dari total 13 pertandingan di semua kompetisi, mereka hanya mampu meraih dua kemenangan, yakni saat menghadapi Ipswich Town dan klub debutan Liga Champions, Sabah. Situasi ini tentu saja menyorot tajam kinerja manajer Michael Carrick, yang baru menjalani musim penuh pertamanya.

Meski tekanan kian memuncak, Carrick tetap berusaha optimistis. "Dua babak pertandingan itu rasanya sangat berbeda," ujar Carrick, mengomentari performa timnya melawan Chelsea. "Kami sempat berada di posisi bagus saat turun minum, tetapi malah merusaknya sendiri di babak kedua." Ia memastikan akan tetap memimpin timnya saat menjamu AS Roma di Liga Champions pada Selasa, 3 November 2026 mendatang. Pertandingan tersebut menjadi krusial untuk mengembalikan kepercayaan diri tim di tengah badai krisis yang melanda.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post