Ekonesia – Old Trafford kembali diliputi duka mendalam. Kekalahan telak 0-3 dari Bournemouth di kandang sendiri seharusnya memicu amarah besar, namun ada pemandangan tak terduga yang menyita perhatian: sebagian suporter Manchester United justru menggaungkan nama Michael Carrick. Sebuah dukungan yang aneh, mengingat tim kesayangan mereka kini terpuruk tanpa kemenangan dalam delapan laga beruntun.
Baca juga: Tambang Lestari Sulawesi: MIND ID & Vale Reklamasi Ribuan Hektare!
Usai peluit akhir, Carrick menghampiri tribun untuk menyampaikan permohonan maaf. Reaksi yang diterimanya sungguh di luar dugaan. Alih-alih cemoohan, ia disambut nyanyian dukungan yang diadaptasi dari lagu "Magic" milik Pilot: "It’s Carrick, you know. It’s hard to believe it’s not Scholes." Nama Carrick, mantan gelandang legendaris, rupanya masih memiliki tempat istimewa di hati para pendukung. Namun, suasana berubah drastis begitu ia menghilang ke lorong stadion. Cemoohan keras dan seruan bernada kasar langsung menggema, menunjukkan bahwa kesabaran terhadap kondisi klub sudah di ambang batas. Menariknya, kemarahan itu tidak sepenuhnya tertuju pada Carrick. Ada persoalan jauh lebih besar yang melatarbelakangi keterpurukan Manchester United, mulai dari kepemilikan, kebijakan transfer, hingga performa pemain.
Sorotan utama tak lepas dari keluarga Glazer. Sejak mengakuisisi klub pada 28 Juni 2005, mereka terus menjadi sasaran protes suporter yang mendambakan perubahan fundamental dalam pengelolaan. Akar masalahnya terletak pada cara pengambilalihan yang dibiayai sebagian besar dari pinjaman yang dibebankan pada aset klub, memaksa Manchester United menanggung beban bunga yang masif. Utang klub pun membengkak, sementara keluarga Glazer tetap bertahan. Pesan "Jual United dan enyahlah" telah menjadi mantra yang terus disuarakan suporter selama bertahun-tahun.
Baca juga: Bali Kembali Terang! PLN Pulihkan Listrik 100%!
Kedatangan Sir Jim Ratcliffe dan INEOS pada Desember 2023 sempat menyalakan kembali harapan. Ratcliffe memperoleh kendali atas operasional olahraga sehari-hari, meskipun kepemilikan sahamnya masih minoritas (28,9% setelah peningkatan dari 25%). Keluarga Glazer tetap memegang saham mayoritas, menjadi sumber frustrasi yang tak kunjung usai bagi suporter yang mendambakan perubahan kepemilikan total demi mengembalikan klub ke puncak kejayaan. INEOS memang telah merekrut sejumlah figur penting seperti CEO Omar Berrada dan direktur teknik Jason Wilcox untuk memperkuat struktur klub. Namun, hasil di lapangan belum mampu menjawab ekspektasi tinggi. Struktur baru ini bahkan berpotensi harus menunjuk manajer permanen keempat dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun sejak keterlibatan INEOS. Beberapa jendela transfer yang mengecewakan juga membuat kualitas skuad masih menjadi tanda tanya besar, diperparah oleh kritik internal dari pemain seperti bek tengah Lisandro Martinez.
Di tengah semua itu, tanggung jawab pemain tak bisa diabaikan. Carrick memang bertugas meracik taktik dan menentukan strategi, namun begitu peluit dibunyikan, para pemainlah yang harus mewujudkannya di lapangan. Sayangnya, sejumlah penggawa Manchester United belum menunjukkan performa sesuai harapan. Kapten Bruno Fernandes, misalnya, sempat dicadangkan setelah mempertanyakan taktik Carrick, memunculkan pertanyaan tentang kepemimpinannya di tim. Secara kolektif, tim terlihat kurang bertenaga dan sering kalah dalam intensitas berlari dibandingkan lawan. Suporter memang bisa menerima kekalahan, tetapi kerja keras dan semangat juang adalah tuntutan mutlak. Ada anggapan kuat bahwa skuad saat ini belum mengerahkan upaya maksimal yang dibutuhkan untuk mengangkat performa tim. Carrick tentu tak bisa berlari menggantikan mereka.
Situasi ini terasa semakin menyakitkan mengingat Carrick sempat membawa angin segar saat menjabat manajer interim pada paruh kedua musim 2025/2026. Kala itu, Manchester United menikmati serangkaian hasil positif yang menjadi salah satu periode paling menggembirakan dalam satu dekade terakhir. Kini, penampilan para pemain justru jauh berbeda. Pesan suporter pun semakin jelas: sebuah spanduk yang menuntut para pemain mengembalikan standar permainan seperti era legenda Eric Cantona, Roy Keane, dan Bryan Robson kembali dibentangkan saat melawan Bournemouth. Mereka tak sekadar menuntut kemenangan, melainkan komitmen, keberanian, dan semangat juang yang menjadi identitas sejati Manchester United.
Manchester United seolah terjebak dalam lingkaran setan pergantian pelatih yang terus berulang. INEOS datang dengan janji perubahan, namun Erik ten Hag yang sempat mendapat kontrak baru akhirnya dipecat. Ruben Amorim kemudian mengambil alih, namun masa baktinya singkat dan berakhir dengan catatan 25 kemenangan dari 63 pertandingan. Kini, Carrick kembali menghadapi situasi serupa. Para pendukung mulai mempertanyakan kapan janji perubahan itu akan benar-benar terwujud. Mereka telah menyaksikan pergantian pelatih, perekrutan pemain, dan pembentukan struktur baru, namun persoalan mendasar klub masih belum terselesaikan. Pihak klub mengklaim telah memiliki arah pembangunan yang jelas selama tiga tahun terakhir dengan investasi besar. Namun, penderitaan di lapangan belum berakhir, memunculkan kekhawatiran bahwa Carrick kembali menjadi sosok yang harus menanggung akibat dari keputusan yang dibuat oleh pihak di atasnya.
Bukan berarti Carrick sepenuhnya bebas dari kesalahan. Kemampuannya mengelola klub sebesar Manchester United memang masih layak dipertanyakan. Jabatan ini menuntut lebih dari sekadar pemahaman klub dan dukungan emosional; seorang manajer harus mampu menghasilkan performa konsisten, menentukan taktik tepat, serta mengelola pemain berprofil tinggi. Namun, Carrick harus bekerja di tengah situasi yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya. Ketika kualitas skuad, kebijakan transfer, dan struktur kepemilikan masih menjadi sumber persoalan, mengganti pelatih saja belum tentu menyelesaikan akar masalah. Para pendukung kini kembali dihadapkan pada ketidakpastian. Perombakan skuad diperkirakan berjalan lambat karena klub merasa proses pembangunan tim sudah mencapai sekitar dua pertiga dari keseluruhan rencana. Ironisnya, orang-orang yang selama ini bertanggung jawab atas proyek tersebut justru akan kembali diminta menemukan jalan keluar. Kepercayaan suporter terhadap kemampuan mereka pun semakin menipis. Dalam situasi seperti ini, dukungan terhadap Carrick mungkin menjadi salah satu cara terakhir bagi penggemar untuk mempertahankan harapan di tengah krisis yang melanda Manchester United.
Opini Penulis
Nyanyian suporter untuk Michael Carrick setelah kekalahan telak dari Bournemouth adalah cerminan bahwa persoalan Manchester United telah melampaui sekadar hasil pertandingan. Dukungan terhadap pelatih yang sedang tertekan, di tengah delapan laga tanpa kemenangan, tentu terlihat tidak lazim. Namun, para pendukung tampaknya mulai membedakan antara sosok di pinggir lapangan dengan masalah struktural yang telah bertahun-tahun menghantui klub. Mereka mungkin kecewa terhadap Carrick, tetapi belum tentu yakin bahwa pemecatannya akan membawa perubahan nyata. Pergantian pelatih tanpa pembenahan fundamental pada skuad, kebijakan transfer, dan pengelolaan klub berisiko membuat Manchester United kembali mengulang cerita yang sama. Carrick tetap harus dinilai berdasarkan kinerjanya. Statusnya sebagai mantan pemain atau kedekatannya dengan klub tidak bisa




Tinggalkan komentar