Eks Menteri Jualan Beras Kisah Hidup Mengejutkan

Agus Riyadi

10 Oktober 2026

3
Min Read

Ekonesia – Perjalanan hidup para figur publik setelah menanggalkan jubah kekuasaan selalu memancing rasa ingin tahu masyarakat. Ada yang memilih bergelimang kemewahan di hari senja, namun tak sedikit pula yang harus berjuang keras demi kelangsungan hidup. Di antara kisah-kisah tersebut, cerita mantan Menteri Agama RI, Saifuddin Zuhri, menjadi salah satu yang paling melegenda, lantaran memilih jalan hidup yang amat bersahaja hingga tertangkap basah menjajakan beras di pasar tradisional.

Dalam lembaran sejarah bangsa, Saifuddin Zuhri mengemban amanah sebagai Menteri Agama RI kesepuluh, menjabat sejak 2 Maret 1962 hingga purna tugas pada 1967. Setelahnya, ia sempat kembali aktif di kancah politik sebagai anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama, bahkan terpilih kembali menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1971.

Eks Menteri Jualan Beras Kisah Hidup Mengejutkan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, takdir memiliki jalannya sendiri. Setelah benar-benar menarik diri dari panggung politik dan pemerintahan, kehidupannya jauh dari gemerlap kemewahan. Sebuah catatan dalam buku Sang Pendoa: Para Kiai Fenomenal Pengayom Kedamaian Umat (2023) mengungkap bahwa pada era 1980-an, Saifuddin menekuni profesi baru sebagai penjual beras di Pasar Glodok, Jakarta. Aktivitas ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kesehariannya.

Setiap pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, usai menunaikan salat Dhuha, ia akan menyetir mobilnya sendiri. Dengan cekatan, karung-karung beras diangkut menuju lapak dagangannya. Kisah berdagang ini bahkan sempat merahasiakan dari sanak keluarga. Istri dan anak-anaknya hanya mengetahui bahwa Saifuddin selalu pulang membawa uang, tanpa pernah tahu dari mana sumber penghasilan tersebut berasal.

Tabir rahasia sang mantan pejabat akhirnya tersingkap ketika salah seorang putranya secara tak sengaja melihatnya sibuk melayani pembeli di Pasar Glodok. Sejatinya, dunia perdagangan bukan hal asing bagi Saifuddin. Dalam otobiografinya, Berangkat dari Pesantren (1984), ia menceritakan pengalamannya pada tahun 1942, saat anak pertamanya lahir, ia pernah menyambung hidup dengan menjual berbagai barang, mulai dari pakaian bekas, perabotan rumah tangga loak, hingga rokok.

Integritas dan kesahajaan Saifuddin bukan hal baru, telah tertanam kokoh bahkan sejak ia masih menduduki kursi menteri. Bagi sosok yang juga ayah dari Menteri Agama era Kabinet Kerja, Lukman Hakim Saifuddin ini, posisi menteri adalah sebuah amanah luhur yang tak boleh disalahgunakan untuk memperkaya diri. Prinsip tersebut dibuktikan nyata dengan penolakannya terhadap fasilitas rumah dinas. Meski sah secara aturan dan didesak berkali-kali, ia bersikukuh menolak dan lebih memilih kediaman pribadinya.

"Kalau begitu aku serakah namanya. Kalau menteri agama sudah serakah, bagaimana yang lain… sikapku tegas. Sejak itu aku tetap menempati rumah sendiri hingga sekarang," tegasnya kala itu. Ia kemudian memilih mencicil rumah sendiri di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, demi menjaga prinsip kemandirian. Lebih hebatnya lagi, setelah cicilan rumah tersebut lunas, ia memilih untuk mendonasikannya tanpa pamrih untuk kemaslahatan Nahdlatul Ulama.

Perjalanan pengabdian Saifuddin Zuhri berakhir pada 25 Februari 1986, setelah berjuang melawan sakit. Puluhan tahun telah berlalu sejak ia melepas jabatannya, namun warisan integritas tanpa cela dan kesederhanaan sejati yang ia tinggalkan tetap lestari sebagai suri teladan mulia bagi para pejabat negeri ini.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post