Ekonesia – Bank Indonesia (BI) menyatakan kesiapannya untuk melancarkan intervensi pasar secara agresif demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah tegas ini akan diambil jika gejolak ekonomi global terus membayangi dan menekan kinerja mata uang domestik. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa sumber utama tekanan saat ini berasal dari dinamika global yang belum mereda.
Baca juga: Gizi Anak Prioritas! Pertagas Siapkan Generasi Emas
Destry menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi pemicu utama ketidakpastian. Situasi ini berpotensi kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada gilirannya akan memperkuat dolar Amerika Serikat dan menekan rupiah. Oleh karena itu, BI tidak akan ragu untuk melakukan intervensi yang lebih berani jika skenario tersebut benar-benar terjadi.

Meski demikian, Destry menambahkan bahwa kondisi ekonomi di dalam negeri relatif lebih terkendali. Ia mencontohkan neraca perdagangan Indonesia yang sempat mencatat surplus signifikan hingga 3,3 miliar dolar AS. Pencapaian ini, meskipun sebagian didorong oleh kenaikan harga komoditas, menunjukkan ketahanan fundamental ekonomi domestik di tengah tantangan global.
Baca juga: Festival Kuliner Makassar: 100 UMKM Siap Goyang Lidah!
Selain memantau perkembangan internal, BI juga terus mencermati pergerakan mata uang negara-negara sebanding di kawasan, seperti peso Filipina dan baht Thailand. Perbandingan ini menjadi tolok ukur penting untuk menilai apakah pergerakan rupiah sejalan dengan tren regional atau justru mengalami tekanan yang lebih spesifik. Komitmen BI untuk menjaga stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian global.










Tinggalkan komentar