Ekonesia – PT Geo Dipa Energi Persero menyatakan kesiapannya untuk mengambil peran vital sebagai entitas khusus pemerintah sekaligus penggerak fiskal utama dalam mengakselerasi pengembangan ekonomi hijau di Indonesia. Direktur Utama Geo Dipa, Yudistian Yunis, menegaskan hal ini dalam sebuah pertemuan di Bogor, Jumat lalu. Menurutnya, perusahaan telah memiliki modal kuat untuk mengemban misi besar tersebut.
Baca juga: Nagita Slavina Blak-blakan Dana IPO RANS Kemana
Kesiapan Geo Dipa bukan tanpa alasan. Perusahaan panas bumi ini memiliki rekam jejak panjang dan mumpuni di sektor energi terbarukan. Saat ini, Geo Dipa mengoperasikan pembangkit listrik panas bumi dengan daya terpasang sekitar 120 megawatt (MW). Tidak hanya itu, mereka juga tengah menggarap proyek pembangunan tambahan kapasitas 110 MW dan mempersiapkan pengadaan untuk pengembangan baru dengan potensi serupa. Jika semua terealisasi, total kapasitas energi panas bumi yang dikelola dan dikembangkan Geo Dipa akan mendekati angka 400 MW.

"Secara teknis, kami sangat siap. Hari ini kami mengelola 120 MW, sedang membangun 110 MW, dan menyiapkan pengadaan untuk 110 MW lagi," ujar Yudistian. Selain aset pembangkit yang masif, Geo Dipa juga dibekali pengalaman operasional dan pemeliharaan (O&M) selama 24 tahun, termasuk dalam kegiatan eksplorasi. Pengalaman ini menjadi fondasi krusial jika pemerintah memberikan mandat yang lebih luas dalam mendorong energi baru terbarukan (EBT).
Baca juga: Leverkusen Kepincut Winger Brighton! Pengganti Wirtz?
Untuk pengembangan EBT di luar panas bumi, Geo Dipa melihat pentingnya kolaborasi strategis dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain yang memiliki keahlian spesifik. Sebagai contoh, pengembangan energi hidro dapat digarap bersama PT PLN Persero, PT Brantas Abipraya, atau BUMN karya lainnya yang berpengalaman di sektor pembangkit listrik tenaga air. Model kolaborasi ini memungkinkan Geo Dipa menjadi bagian integral dari ekosistem energi hijau yang terintegrasi, tanpa harus membangun seluruh kapasitas EBT secara mandiri.
Dari aspek finansial, Geo Dipa juga menunjukkan performa yang solid, menjadikannya kandidat kuat sebagai instrumen fiskal pemerintah. Perusahaan ini telah meraih predikat kredit AAA dan mencatat skor ESG sebesar 63 berdasarkan penilaian S&P Global. "Secara finansial, Geo Dipa memiliki rating AAA dan skor ESG yang termasuk tiga tertinggi di Indonesia menurut standar S&P Global. Skor kami 63, menempatkan kami di 25 besar Asia dan 50 besar dunia untuk sektor utilitas," ungkap Yudistian bangga.
Geo Dipa tidak berencana bergerak sendirian. Perusahaan mengusulkan pembentukan ekosistem ekonomi hijau yang melibatkan berbagai Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan. Dalam skema ini, Geo Dipa akan menjadi penyedia energi hijau. Sementara itu, PT Sarana Multi Infrastruktur Persero (SMI) dapat mendukung pembangunan pembangkit baru dan pembiayaan kawasan industri hijau.
PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) akan berperan dalam penyediaan penjaminan proyek, sedangkan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) dapat mendukung pembiayaan sektor perumahan dan infrastruktur pendukung bagi pekerja di kawasan industri hijau. Di sisi lain, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank siap memfasilitasi pembiayaan ekspor produk dan aktivitas industri hijau yang berorientasi global. Ekosistem ini juga akan diperkuat oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan Pusat Investasi Pemerintah (PIP).
Yudistian menambahkan, infrastruktur digital Geo Dipa juga telah siap menopang peran perusahaan sebagai SMV dan instrumen fiskal dalam pengembangan ekonomi hijau nasional. "Ekosistem ini dapat dimanfaatkan Kementerian Keuangan sebagai inisiator untuk menciptakan jejaring ekonomi hijau. Setelah berkembang dan regulasinya terbentuk, pemain lain pun bisa bergabung," pungkasnya.









Tinggalkan komentar