Ekonesia – Dunia sepak bola dihebohkan oleh insiden yang menimpa bintang muda Bayern Munchen Jamal Musiala. Gelandang berusia 23 tahun ini dua kali terjatuh tak sadarkan diri di lapangan hanya dalam rentang empat hari, memicu kekhawatiran serius dari rekan setim dan para penggemar. Kejadian dramatis ini terjadi saat laga pramusim melawan Heidenheim, hanya berselang empat hari setelah insiden serupa saat menghadapi RB Leipzig.
Baca juga: IHSG Terkoreksi! Investor Waspada?
Momen kepanikan terlihat jelas ketika Harry Kane dan pemain lain bergegas mendekati Musiala yang tergeletak. Insiden berulang ini akhirnya mengungkap sebuah fakta mengejutkan: Musiala didiagnosis mengidap absence seizures, sebuah bentuk kelainan neurologis yang kini menjadi bagian dari kesehariannya.

Pihak Bayern Munchen sebenarnya telah mengetahui kondisi kesehatan Musiala ini jauh sebelum Piala Dunia. Namun, hingga insiden kontra Leipzig, kondisi tersebut belum pernah memengaruhi performanya di lapangan hijau. Presiden Kehormatan Bayern, Uli Hoeness, sempat berharap bahwa pengobatan yang dijalani Musiala dapat mengendalikan kondisi ini. Sayangnya, harapan itu sirna setelah insiden kedua yang terjadi begitu cepat.
Baca juga: Wow! Gaji CEO di Singapura Bikin Geleng Kepala
Meskipun demikian, keputusan untuk tetap menurunkan Musiala saat melawan Heidenheim sempat menjadi tanda tanya besar. Bayern menegaskan bahwa sang pemain telah mengantongi izin penuh dari tim medis dan para ahli untuk kembali menjalani aktivitas olahraga berintensitas tinggi. Bahkan, para dokter, termasuk ahli saraf dan spesialis, memberikan konfirmasi tertulis yang menyatakan tidak ada masalah bagi Musiala untuk melanjutkan karier profesionalnya. Bagi Bayern, jaminan medis ini menjadi landasan utama sebelum memutuskan untuk kembali menurunkannya. Hoeness menambahkan, klub kini harus beradaptasi dengan situasi baru ini dan telah mengambil langkah pencegahan, sembari terus memantau perkembangan kondisi Musiala.
Lalu, apa sebenarnya absence seizures itu? Menurut Dr. Meneka Sidhu, seorang konsultan neurologi, kondisi ini adalah salah satu jenis kejang umum yang sering dialami oleh anak-anak dan dewasa muda. Ada dua kategori utama: typical dan atypical absence seizures. Pada jenis typical, kejang berlangsung singkat, hanya beberapa detik. Penderitanya mungkin terlihat seperti sedang melamun atau menatap kosong, dengan tingkat kesadaran yang bervariasi. Dalam beberapa kasus, mereka bisa kehilangan keseimbangan dan tidak merespons selama kejang.
Sementara itu, jenis atypical berlangsung lebih lama. Penderitanya dapat menunjukkan gerakan otomatis seperti memainkan tangan, kelopak mata berkedut, atau gerakan bibir, bahkan ada yang bisa terjatuh. Episode yang berulang lebih dari 24 jam bisa menjadi indikasi epilepsi, namun kondisi ini umumnya dapat dikelola dengan pengobatan. Dr. Sidhu juga menekankan pentingnya bagi atlet untuk menghindari pemicu tertentu seperti hiperventilasi dan dehidrasi. Dengan penanganan yang tepat, absence seizures tidak serta-merta menghentikan karier seorang atlet. Contohnya adalah pemain rugby Tommy Freeman, yang didiagnosis epilepsi namun tetap sukses bermain untuk Northampton dan tim nasional Inggris sambil mengelola kondisinya dengan obat-obatan.
Insiden kesehatan ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi Musiala dalam 18 bulan terakhir. Musim 2024-25-nya berakhir lebih awal karena cedera pada awal April, diikuti oleh kecelakaan lalu lintas serius. Ia sempat kembali bermain di Piala Dunia Antarklub FIFA, namun di perempat final melawan Paris St-Germain, ia mengalami patah kaki dan dislokasi pergelangan kaki yang membuatnya absen selama 196 hari.
Setelah pulih, Musiala masih harus bermain dengan pelat logam di kakinya dari Januari hingga akhir Piala Dunia di Amerika Utara, di mana ia tampil empat kali untuk Jerman. Pelat tersebut baru dilepas pada Juli, yang secara signifikan membatasi kesempatan latihannya selama pramusim. Pakar sepak bola Jerman, Constantin Eckner, menilai bahwa kondisi Musiala memang sudah membuat awal musim baru menjadi sangat menantang, bahkan sebelum masalah neurologisnya kembali muncul. Menurut Eckner, Musiala belum mampu memberikan kontribusi maksimal dalam 18 bulan terakhir akibat serangkaian cedera, masalah pergelangan kaki, dan operasi pelepasan pelat, yang semuanya mengganggu persiapannya.
Bayern Munchen pun telah mengambil langkah antisipasi terhadap potensi persoalan kebugaran Musiala dengan mendatangkan gelandang serang asal Maroko, Ismael Saibari, pada musim panas ini. Meskipun Musiala tetap menjadi salah satu pemain dengan bayaran tertinggi di Bayern, setara dengan Harry Kane, kontribusinya belakangan ini belum sebanding. Di usianya yang masih 23 tahun, ruang untuk bangkit tentu masih sangat luas. Namun, serangkaian kondisi yang dihadapinya kini membuat perjalanan menuju performa terbaiknya tidak akan semudah yang dibayangkan.



Tinggalkan komentar