Petani Sawit Menjerit Krisis BBM Mengintai

Agus Riyadi

9 Agustus 2026

3
Min Read

Ekonesia – Ribuan petani kelapa sawit di Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan dan Sumatra, kini tengah menghadapi ancaman serius. Aktivitas panen yang menjadi tulang punggung perekonomian mereka dihantam masalah pelik: lonjakan harga bahan bakar dan kelangkaan pasokan solar. Kondisi ini memaksa para pekebun mandiri untuk mengurangi frekuensi panen, memicu kekhawatiran akan merosotnya produksi minyak sawit mentah (CPO) yang merupakan komoditas vital dunia.

Gangguan panen yang berkepanjangan ini berpotensi besar memangkas pasokan CPO dari dua produsen utama global, Indonesia dan Malaysia. Situasi diperparah dengan prediksi kemunculan fenomena El Nino yang diperkirakan akan mengurangi curah hujan dan berdampak negatif pada hasil panen. Padahal, di pasar global, harga kontrak berjangka minyak sawit acuan Malaysia telah melonjak lebih dari 15% sepanjang tahun ini, menunjukkan tingginya permintaan.

Petani Sawit Menjerit Krisis BBM Mengintai
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dampak paling parah terasa di sebagian wilayah Kalimantan, termasuk negara bagian Sabah dan Sarawak di Malaysia, di mana harga solar non-subsidi melambung hampir 120%. Sementara itu, para petani di Sumatra, Indonesia, harus berjuang menghadapi kelangkaan bahan bakar yang kian parah, demikian laporan dari sejumlah pejabat industri.

"Kendala finansial yang muncul akibat tingginya biaya operasional membuat kegiatan panen menjadi tidak ekonomis bagi petani swadaya. Ini bisa berujung pada penelantaran lahan dan penurunan drastis produktivitas minyak sawit di daerah tersebut," ungkap Napolean R Ningkos dari Asosiasi Pekebun Kelapa Sawit Dayak Sarawak. Ia menambahkan, Sabah dan Sarawak secara kolektif menyumbang 43,9% dari total produksi CPO Malaysia, menjadikannya kontributor krusial bagi pasokan minyak sawit dunia. Di sisi Indonesia, Sumatra menyumbang sekitar 55% dari produksi nasional.

Lokasi perkebunan kelapa sawit yang seringkali terpencil dan luas di Kalimantan semakin memperparah kesulitan petani dalam mengumpulkan dan mengangkut tandan buah segar ke titik pengumpulan atau pabrik pengolahan. Napolean menyoroti bahwa alokasi subsidi solar di Malaysia, yang sebesar 2,10 ringgit atau sekitar US$ 0,66 per liter dengan batas maksimal 200 liter per bulan, jauh dari cukup. Kebutuhan operasional rata-rata petani setidaknya mencapai 500 liter per bulan.

"Petani kini terpaksa mengurangi frekuensi panen mereka, dari yang biasanya 2,5 putaran menjadi hanya dua putaran, bahkan ada yang sampai 1,5 atau satu kali panen setiap bulannya," jelasnya. "Perjalanan untuk mengangkut hasil panen membutuhkan konsumsi bahan bakar yang besar. Kuota subsidi solar saat ini, yang dirancang untuk kondisi lahan relatif datar di Malaysia Barat, sama sekali tidak memadai untuk wilayah pedalaman Sabah dan Sarawak yang memiliki medan berat."

Kekhawatiran ini muncul di tengah kenaikan harga bahan bakar global dan menipisnya pasokan sejak konflik di Timur Tengah meletus pada akhir Februari lalu. Potensi El Nino pada paruh kedua tahun 2026 menjadi faktor negatif tambahan yang membayangi prospek industri ini. Sebagai gambaran, El Nino parah pada 2015 dan 2016 telah memangkas produksi minyak kelapa sawit Malaysia hingga 18%, sementara Indonesia mengalami penurunan 3%.

Raphael Golout, Presiden United Sabah Smallholders Association yang mewakili para pemilik perkebunan rakyat, mengungkapkan bahwa beban finansial yang memberatkan tidak hanya berasal dari biaya transportasi yang melonjak, tetapi juga dari pengeluaran yang lebih besar untuk generator listrik dan mesin-mesin lainnya. Baik Napolean maupun Raphael mendesak pemerintah untuk segera merevisi kebijakan subsidi solar agar lebih sesuai dengan tantangan geografis dan ekonomi yang dihadapi para petani di Sabah dan Sarawak. Penundaan masa panen, menurut Napolean, dapat mengurangi hasil panen di Sarawak sebesar 15% hingga 20%.

Di Sumatra, salah satu sentra utama minyak kelapa sawit Indonesia, kegiatan petani juga terhambat parah akibat pasokan solar yang terbatas sejak pertengahan Juli. Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, mengonfirmasi bahwa pengangkutan tandan buah petani sangat terdampak karena semua kendaraan dan peralatan operasional mereka mengandalkan mesin diesel. Akibatnya, interval panen terpaksa diperpanjang menjadi delapan hingga 12 hari, dari periode normal yang berkisar antara delapan hingga 10 hari. Situasi ini mengancam stabilitas pasokan CPO dan kesejahteraan jutaan petani.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post