Ritel Legendaris Dijual Saat Puncak Kejayaan

Agus Riyadi

8 Agustus 2026

3
Min Read

Ekonesia – Siapa tak kenal Matahari? Nama ini pernah menjadi ikon ritel fesyen dan gaya hidup di Indonesia, menjangkau ratusan kota dengan gerainya yang tersebar luas. Namun, di balik gemerlap kesuksesannya, tersimpan sebuah kisah perjalanan bisnis yang penuh liku, dari sebuah toko sederhana hingga menjadi raksasa yang akhirnya berpindah tangan secara mengejutkan.

Kisah bermula pada tahun 1960, ketika seorang visioner bernama Hari Darmawan membuka toko pakaian kecil bernama Micky Mouse di jantung Pasar Baru. Toko ini tak hanya menjual busana impor, tetapi juga koleksi rancangan istrinya sendiri dengan label MM Fashion, yang kala itu cukup diminati.

Ritel Legendaris Dijual Saat Puncak Kejayaan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meski Micky Mouse cukup sukses, Hari Darmawan tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada toko tetangga, De Zion, yang selalu ramai dikunjungi kalangan atas. Setelah berbagai upaya meniru tak membuahkan hasil, kesempatan emas datang pada 1968. Pemilik De Zion berencana menjual tokonya, dan Hari tak menyia-nyiakannya. Dengan dukungan pinjaman fantastis senilai US$200 juta dari Citibank, ia berhasil mengakuisisi dua gerai De Zion di Jakarta dan Bogor. Nama De Zion pun diubah menjadi "Matahari", yang dalam bahasa Belanda memang berarti matahari, sebuah nama yang kelak bersinar terang di kancah ritel nasional.

Untuk memacu pertumbuhan, Hari Darmawan mengadopsi model bisnis Sogo Department Store dari Jepang, menawarkan variasi produk selengkap mungkin dengan harga kompetitif. Strategi ini terbukti jitu. Sepanjang dekade 1970-an hingga 1980-an, Matahari tumbuh pesat, tak lagi sekadar toko pakaian, melainkan department store lengkap yang menjual segala kebutuhan, dari perhiasan hingga elektronik. Ekspansi ke luar kota pun tak terhindarkan di era 1990-an, menjadikan Matahari nama yang dikenal luas. Puncaknya, pada tahun 1989, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) resmi melantai di bursa saham, menandai kejayaan yang tak terbantahkan.

Namun, Hari Darmawan tak lantas berpuas diri. Ia memendam ambisi besar untuk menjadikan Matahari sebagai pusat ritel terkemuka di Indonesia, dengan target fantastis seribu gerai. Di tengah cita-cita tersebut, James Riady, bankir muda sekaligus putra pendiri Lippo Group, Mochtar Riady, datang menawarkan pinjaman menggiurkan senilai Rp 1,6 triliun dengan bunga rendah. Hari menyambut tawaran itu, tanpa menyadari bahwa keputusan ini akan menjadi titik balik tak terduga dalam sejarah bisnisnya.

Tak lama setelah dana pinjaman dicairkan, James Riady membuat langkah mengejutkan. Ia memutuskan untuk terjun ke bisnis ritel dengan membawa masuk raksasa asal Amerika Serikat, WalMart, ke Indonesia. Yang lebih mencengangkan, gerai WalMart ini sengaja didirikan berhadapan langsung dengan Matahari, menciptakan persaingan ketat yang tak terhindarkan. Meskipun demikian, Hari Darmawan tak gentar. Ia tetap fokus pada Matahari, dan pada akhirnya, WalMart justru tak mampu bersaing, sementara Matahari tetap kokoh sebagai raja ritel.

Namun, puncak drama terjadi pada tahun 1996. Di tengah kejayaan dan omset fantastis Rp 2 triliun, Hari Darmawan tiba-tiba menerima tawaran untuk menjual Matahari kepada James Riady. Keputusan ini sontak memicu spekulasi luas. Banyak pihak bertanya-tanya, mengapa sebuah bisnis yang sedang di puncak performa dan tidak terancam kebangkrutan justru dilepas? Sejak saat itu, Matahari resmi berada di bawah kendali Lippo Group, dan nama Hari Darmawan, sang pendiri visioner, perlahan mulai tenggelam dari panggung utama ritel nasional. Kisah Matahari ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia bisnis, kejayaan tak selalu abadi, dan keputusan strategis bisa mengubah segalanya dalam sekejap.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post