Ekonesia – Mata uang Garuda menunjukkan taringnya di penghujung pekan ini. Setelah sempat tertekan, rupiah kini kembali perkasa melawan dominasi dolar Amerika Serikat yang sedang loyo. Pertanyaan besar pun muncul di benak para pelaku pasar: mampukah rupiah menembus kembali level psikologis Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat?
Baca juga: Mount: MU Bangkit! Sakit Hati Jadi Motivasi Juara
Menurut data terkini, nilai tukar rupiah berhasil ditutup di posisi Rp18.045 per dolar AS pada perdagangan Jumat lalu, menguat tipis 0,14%. Kenaikan ini sekaligus membalikkan kondisi rupiah yang sempat terpuruk dan mencapai titik terlemah dalam sebulan terakhir pada penutupan perdagangan sebelumnya. Sejak pagi, rupiah memang sudah dibuka dengan sentimen positif, dan penguatan ini terus berlanjut hingga akhir sesi perdagangan, bergerak di rentang Rp18.045 hingga Rp18.075 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau terkoreksi 0,11% ke level 100,788 pada pukul 15.00 WIB. Pelemahan dolar AS inilah yang menjadi angin segar bagi pergerakan rupiah di pasar global.
Baca juga: Drama Penalti! Arema FC Kudeta Puncak Klasemen!
Ekonom Bank BTN, Myrdal Gunarto, mengungkapkan prasyarat utama agar rupiah bisa kembali ke kisaran Rp17.000. "Kunci utamanya adalah gejolak global mereda, konflik bersenjata benar-benar usai, harga minyak dunia stabil di bawah US$70 per barel, dan kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia pulih kembali," jelas Myrdal kepada Ekonesia pada Jumat (10/7/2026).
Jika kombinasi kondisi tersebut benar-benar terwujud, Myrdal optimis rupiah bisa menguat signifikan. "Apabila semua faktor itu terpenuhi, saya rasa investor akan kembali menanamkan modalnya, mendorong rupiah menguat hingga di bawah Rp18.000. Proyeksi kami bahkan menunjukkan rupiah bisa mencapai level sekitar Rp17.600 per dolar AS," tegasnya.
Perlu diingat, rupiah sempat bertengger di atas Rp18.000 per dolar AS sebelum akhirnya sempat menyentuh level Rp17.000-an, dan kini kembali di atas Rp18.000. Pergerakan dolar AS yang melemah selama dua sesi beruntun ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, menyusul serangan balasan antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun demikian, pelaku pasar juga tetap menyoroti perkembangan harga minyak dan prospek inflasi global yang dapat memengaruhi dinamika mata uang dunia.










Tinggalkan komentar