Ekonesia – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan keheranannya atas gejolak nilai tukar rupiah yang sempat melemah signifikan beberapa waktu lalu. Padahal, menurutnya, fondasi perekonomian nasional justru menunjukkan performa yang sangat solid dan menjanjikan.
Baca juga: PSM Tumbang Malut United Meroket Peringkat Tiga
Purbaya menjelaskan, fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi prima. Pertumbuhan yang stabil didukung oleh daya beli masyarakat yang tetap terjaga. Namun, ia mengaku bingung mengapa muncul narasi negatif yang bahkan mengaitkan pelemahan rupiah dengan krisis moneter 1998, terutama saat dolar AS sempat menyentuh level Rp18.000.

"Agak aneh," ujarnya, saat ekonomi kita tumbuh 5,6%, terkendali, dan daya beli masyarakat tetap kuat, justru muncul kesan seolah-olah ekonomi akan memburuk seperti era 1997-1998. Ini karena sebagian pihak menyoroti pelemahan rupiah. Padahal, pada kuartal pertama 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61%.
Baca juga: Rahasia Dibalik Bertahannya Flick di Barcelona
Meski demikian, Purbaya optimistis bahwa dengan menjaga pondasi ekonomi yang kokoh dalam beberapa bulan ke depan, pandangan negatif terhadap Indonesia akan sirna. Ia meyakini, nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing akan berangsur stabil dan bahkan menguat.
Lebih jauh, Menteri Keuangan itu menegaskan bahwa ekonomi Indonesia justru sedang mengalami akselerasi, bukan pelemahan. Ini menjadi bukti konkret keberhasilan kebijakan pembangunan Presiden yang dinilai tepat sasaran, tepat waktu, dan meminimalkan kebocoran anggaran.
Data menunjukkan, meskipun pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 2026 mencapai 5,61%, nilai tukar rupiah sempat mencetak rekor terendah. Pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah melemah 0,89%, dengan US$1 mencapai Rp18.180. Namun, selang seminggu, mata uang Garuda menunjukkan pemulihan, ditutup di posisi Rp17.775/US$ pada Jumat (19/6/2026). Kini, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS. Target pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2026 sendiri dipatok 5,7%.



Tinggalkan komentar