Terbongkar Dalang Saham Gorengan Pertama Dunia

Agus Riyadi

7 Juni 2026

3
Min Read

Ekonesia – Kisah kelam "saham gorengan" yang sering menjerat investor ritel hingga merugi ternyata bukan cerita baru dalam sejarah pasar modal global. Jauh sebelum era digital, lebih dari tiga abad silam, dunia telah menyaksikan praktik serupa yang dipelopori oleh sebuah perusahaan Inggris bernama South Sea Company. Peristiwa ini mencatatkan diri sebagai salah satu gelembung saham terbesar yang pernah ada, meninggalkan jejak kehancuran finansial yang tak terperi.

South Sea Company didirikan dengan misi mulia: membantu pemerintah Inggris mengatasi tumpukan utang negara yang membengkak akibat peperangan berkepanjangan. Sebagai imbalannya, perusahaan ini dianugerahi hak istimewa berupa monopoli perdagangan eksklusif dengan wilayah Amerika Selatan. Di atas kertas, prospek bisnis ini tampak sangat menggiurkan. Banyak pihak membayangkan keuntungan fantastis dari perdagangan emas, perak, rempah-rempah, bahkan perbudakan. Harapan inilah yang dengan cepat menjadikan saham South Sea Company primadona di bursa London.

Terbongkar Dalang Saham Gorengan Pertama Dunia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, realitas di lapangan jauh panggang dari api. Aktivitas perdagangan perusahaan tidak pernah mencapai ekspektasi karena terhalang berbagai rintangan politik dan konflik bersenjata antara Inggris dan Spanyol, yang saat itu menguasai sebagian besar Amerika Selatan. Ironisnya, meskipun bisnis inti perusahaan tidak berkembang signifikan, harga sahamnya justru terus melambung tinggi, didorong oleh gelombang spekulasi yang semakin tak terkendali.

Pada tahun 1720, Inggris berada dalam kondisi keuangan yang sangat rentan setelah melewati perang panjang dan mahal. Utang negara membengkak, sementara pemasukan terbatas. Dalam situasi genting inilah, pemerintah memberikan legitimasi penuh kepada South Sea Company untuk mengambil alih dan mengelola utang negara. Imbalannya, janji monopoli perdagangan dengan wilayah Amerika Selatan yang kaya sumber daya. Banyak orang, termasuk anggota parlemen, bangsawan, bahkan Raja George I, berbondong-bondong membeli saham, tanpa menyadari bahwa wilayah tersebut sebenarnya berada di bawah kekuasaan Spanyol, yang secara fundamental akan menghambat perkembangan perusahaan.

Euforia pasar menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Investor berlomba-lomba membeli saham, didorong oleh ketakutan akan ketinggalan peluang emas. Akibatnya, harga saham melonjak bukan karena kinerja atau laba perusahaan, melainkan semata-mata karena keyakinan bahwa akan selalu ada pembeli berikutnya yang bersedia membayar lebih tinggi. Inilah cikal bakal praktik "pom-pom" saham yang kita kenal sekarang.

Di balik hiruk-pikuk kegembiraan itu, para petinggi South Sea Company justru secara diam-diam mulai melepas saham mereka. Mereka sadar betul bahwa fondasi bisnis perusahaan sangat rapuh dan janji keuntungan besar hanyalah ilusi. Ketika sebagian investor mulai mempertanyakan sumber laba yang sebenarnya, kepercayaan publik pun runtuh. Kepanikan menyebar dengan cepat, harga saham anjlok bebas, dan pasar ambruk dalam sekejap mata.

Dampak kehancuran itu sangat masif. Ribuan orang kehilangan seluruh tabungan hidup mereka. Banyak bangsawan dan pengusaha terkemuka jatuh miskin dan bangkrut dalam semalam. Salah satu korban terkenal adalah ilmuwan legendaris Isaac Newton. Ia sempat meraup keuntungan, namun kembali masuk pasar saat harga sudah terlalu tinggi dan akhirnya menanggung kerugian besar. Newton kemudian berujar bahwa ia mampu menghitung gerak benda langit, tetapi tidak mampu mengukur kegilaan manusia.

Penyelidikan pemerintah kemudian membongkar skandal besar yang melibatkan praktik suap, konflik kepentingan, dan manipulasi pasar di kalangan elite politik. Sejumlah pejabat dihukum, sementara kepercayaan publik terhadap negara dan pasar modal hancur lebur. Peristiwa inilah yang kemudian diakui sebagai praktik "menggoreng saham" pertama di dunia, sebuah fenomena yang sayangnya terus berulang hingga kini.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post