Terungkap Sektor Bisnis Paling Lapar Kredit

Agus Riyadi

20 Mei 2026

3
Min Read

Ekonesia – Bank Indonesia (BI) baru-baru ini menguak sejumlah bidang usaha yang diyakini masih menyimpan potensi pertumbuhan luar biasa, namun belum sepenuhnya tergarap oleh kucuran kredit perbankan. Identifikasi ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap "credit gap," yakni jurang pemisah antara fasilitas pinjaman yang telah disalurkan bank dengan kapasitas ekspansi riil yang dimiliki sektor-sektor tersebut.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam konferensi pers pada Rabu 20 Mei 2026, menegaskan bahwa temuan ini merupakan hasil asesmen komprehensif. "Kami melihat dari berbagai sektor, kita melihat credit gap," ujarnya, menyoroti pentingnya pemahaman akan celah pembiayaan ini.

Terungkap Sektor Bisnis Paling Lapar Kredit
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sektor pertanian menjadi sorotan utama. Meskipun kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto PDB Indonesia mencapai 12,67 persen, laju pertumbuhannya di kuartal I-2026 baru menyentuh angka 4,97 persen. Angka ini mengindikasikan bahwa sektor agraris masih memiliki ruang besar untuk menyerap lebih banyak modal dari lembaga keuangan.

Tak hanya pertanian, sektor perdagangan juga masuk dalam daftar prioritas. Destry menjelaskan, meskipun sektor ini menyumbang 13,28 persen terhadap PDB dengan pertumbuhan 6,26 persen, penyaluran kredit perbankan kepadanya masih tergolong minim, hanya sekitar 3,9 persen. Padahal, konsumsi masyarakat yang menjadi pendorong utama sektor ini menunjukkan tren positif, dengan pertumbuhan PDB di atas 5 persen. "Jadi kita melihat beberapa sektor-sektor yang mempunyai credit gap negatif," tegasnya, menggarisbawahi peluang yang belum termanfaatkan.

Menyikapi temuan ini, BI secara aktif mendorong perbankan untuk lebih gencar menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor dengan "credit gap" tinggi. Alasannya jelas, sektor-sektor ini tidak hanya menjanjikan potensi keuntungan, tetapi juga memiliki efek pengganda multiplier effect yang signifikan terhadap perekonomian nasional dan penciptaan lapangan kerja.

Sebagai upaya konkret, BI telah mengimplementasikan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial KLM. Kebijakan ini dirancang untuk memacu bank agar lebih proaktif dalam menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas. Lingkup sektor yang dicakup KLM meliputi Pertanian Industri dan Hilirisasi Jasa termasuk Ekonomi Kreatif Konstruksi Real Estate dan Perumahan serta Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM Koperasi Inklusi dan Berkelanjutan.

Hingga pekan pertama Mei 2026, total insentif KLM yang telah diterima perbankan mencapai Rp 424,7 triliun. Angka ini terbagi menjadi Rp 361,0 triliun untuk jalur penyaluran kredit lending channel dan Rp 63,7 triliun untuk jalur suku bunga interest rate channel. Distribusi insentif ini juga merata, dengan bank BUMN menerima Rp 214,2 triliun, Bank Umum Swasta Nasional BUSN Rp 171,1 triliun, Bank Pembangunan Daerah BPD Rp 30,6 triliun, dan Kantor Cabang Bank Asing KCBA Rp 8,2 triliun.

Secara keseluruhan, kinerja kredit perbankan menunjukkan tren positif. Pada April 2026, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 9,98 persen year-on-year, melampaui capaian Maret 2026 yang sebesar 9,49 persen year-on-year. Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan solid pada kredit investasi yang melonjak 19,48 persen year-on-year, diikuti kredit modal kerja 6,04 persen year-on-year, dan kredit konsumsi 6,13 persen year-on-year.

BI memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2026 akan tetap berada dalam kisaran 8-12 persen. Optimisme ini didukung oleh sejumlah faktor kuat, termasuk besarnya fasilitas pinjaman yang belum ditarik undisbursed loan sebesar Rp 2.551,42 triliun, atau 22,57 persen dari total plafon yang tersedia.

Selain itu, kapasitas pembiayaan bank juga dinilai sangat memadai, tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga AL/DPK sebesar 25,39 persen dan pertumbuhan DPK yang masih tinggi, mencapai 11,39 persen year-on-year pada April 2026. Efisiensi suku bunga perbankan pun berpotensi ditingkatkan, mengingat suku bunga kredit pada April 2026 sebesar 8,73 persen dan suku bunga deposito 1 bulan sebesar 4,16 persen.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post