Ekonesia – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus bergejolak, Indonesia berpacu menarik perhatian para investor kelas kakap. Namun, bukan sekadar janji manis, para pemilik modal raksasa kini makin selektif. Terungkap, kunci utama untuk memikat investasi besar ke Tanah Air adalah tata kelola korporasi yang mumpuni dan berintegritas.
Baca juga: Tangerang Raya: Magnet Baru Rumah Mewah?
Hal ini ditegaskan oleh Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Ferry Irawan, dalam acara Sosialisasi Annual Report Award (ARA) 2025 yang diselenggarakan Komite Nasional Kebijakan Governans (KNKG) di Kantor Kemenko Ekonomi, Jakarta. Menurut Ferry, di tengah kondisi yang serba tidak pasti, investor akan lebih cermat dalam menempatkan dananya, dan salah satu tolok ukur krusial adalah kualitas tata kelola.

"Para investor tentu memprioritaskan negara-negara dengan fundamental ekonomi yang kokoh, regulator yang kredibel, serta korporasi yang secara konsisten menerapkan tata kelola yang baik," ujar Ferry. Ia menambahkan, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk memperkuat fondasi tata kelola, baik di tingkat makro maupun korporasi, sebagai sumber daya struktural yang berkelanjutan.
Baca juga: Mandiri Alihkan MMI Rp1 T Ini Strategi Besarnya
Investasi memang menjadi motor penggerak utama bagi percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, demi mencapai target ambisius 8% pada tahun 2029. Dokumen rancangan awal Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027 bahkan memproyeksikan kebutuhan investasi mencapai Rp8.677,39 hingga Rp8.841,32 triliun untuk meraih pertumbuhan 5,9%-7,5% di tahun tersebut.
Ferry menjelaskan, target pertumbuhan ekonomi ke depan menuntut laju investasi yang cepat, peningkatan produktivitas, serta penguatan sektor-sektor vital seperti pertanian, manufaktur, hilirisasi, ekonomi digital, dan ketahanan energi. Semua ini memerlukan aliran modal yang stabil dan konsisten, baik dari pasar domestik maupun internasional. "Dan modal itu hanya akan mengalir pada saat terdapat tingkat kepercayaan terhadap kualitas tata kelola, baik dari sisi pemerintah maupun di sisi korporasinya," tegas Ferry.
KNKG sendiri melalui Sosialisasi ARA 2025 mengangkat tema "Raising the Bar on Sustainability Governance: Transparency as the Foundation of Trust." Tema ini merefleksikan ekspektasi yang kian tinggi dari investor, regulator, dan masyarakat agar perusahaan tidak hanya memamerkan kinerja finansial semata, tetapi juga mampu membangun tata kelola keberlanjutan yang kredibel, transparan, dan berintegritas.
Di tengah dinamika global, risiko perubahan iklim, disrupsi teknologi, serta meningkatnya perhatian terhadap praktik keberlanjutan, transparansi menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan publik dan menciptakan nilai jangka panjang. Ketua Umum KNKG, Mardiasmo, menekankan bahwa laporan tahunan dan laporan keberlanjutan harus dipandang sebagai instrumen strategis untuk menunjukkan kualitas governans perusahaan secara substantif, bukan sekadar dokumen kepatuhan administratif.
"Transparansi yang berintegritas merupakan fondasi kepercayaan," ujar Mardiasmo. Ia menambahkan, perusahaan perlu secara nyata menunjukkan bahwa aspek keberlanjutan telah terinternalisasi dalam strategi bisnis, budaya organisasi, pengelolaan risiko, pengukuran kinerja, hingga proses pengambilan keputusan perusahaan.




Tinggalkan komentar