Madrid Terpuruk Siapa Biang Keroknya

El-Shinta

11 Mei 2026

4
Min Read

Ekonesia – Real Madrid kini terjerembab dalam krisis mendalam. Kekalahan menyakitkan dari rival abadi Barcelona di Camp Nou bukan sekadar hasil pahit, melainkan penutup musim tanpa satu pun gelar juara, sebuah aib bagi klub sebesar Los Blancos. Derita ini memicu gelombang pertanyaan besar: apa sebenarnya yang terjadi di balik layar Bernabeu?

Musim ini menjadi mimpi buruk yang tak kunjung usai. Tersingkir di perempat final Liga Champions, performa tim yang naik turun bak roller coaster, hingga ruang ganti yang dikabarkan memanas, semua berkontribusi pada kehancuran ini. Puncaknya, kekalahan 0-2 dari Barcelona mengunci gelar La Liga untuk sang rival, sekaligus memastikan Madrid hanya finis sebagai runner-up yang hampa.

Madrid Terpuruk Siapa Biang Keroknya
Gambar Istimewa : gilabola.com

Efek Mbappe: Berkah atau Bencana?

Kedatangan Kylian Mbappe dua musim lalu seharusnya menjadi awal era Galacticos baru. Namun, harapan itu justru berubah menjadi polemik. Skema permainan Madrid terpaksa beradaptasi, menggeser peran krusial Jude Bellingham dan membatasi kebebasan Vinicius Junior. Mbappe yang kerap turun ke dalam untuk membangun serangan justru disebut mengganggu ritme dua bintang utama lainnya.

Carlo Ancelotti, sang arsitek awal, tak luput dari kritik pedas. Rumor pemecatan terus menghantui karena dianggap gagal menyatukan skuad bertabur bintang ini. Ketika Xabi Alonso datang sebagai penyelamat, situasi bukannya membaik, malah kian rumit. Meski Mbappe tetap produktif dengan 24 gol dan memuncaki daftar top skor La Liga, harmoni tim disebut tak pernah benar-benar terjalin. Alonso akhirnya angkat kaki sebelum musim berakhir, meninggalkan Alvaro Arbeloa sebagai pelatih sementara. Tekanan terhadap Mbappe memuncak, bahkan muncul petisi "Mbappe Out" yang diklaim didukung jutaan penggemar. Kini, tantangan terbesar adalah menyatukan kembali Mbappe dengan para pendukung dan gaya bermain tim.

Vinicius Junior dalam Pusaran Kritik

Sebelum Mbappe menjadi sasaran utama, Vinicius Junior lebih dulu merasakan pahitnya hujatan fans. Penyerang lincah asal Brasil itu sempat melewati 19 pertandingan tanpa gol antara Oktober hingga Januari. Cemoohan mulai terdengar di Bernabeu, terutama setelah Madrid tersingkir dari Bayern Munchen di Liga Champions. Ironisnya, Vinicius memecah paceklik golnya saat Madrid kalah 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol, yang juga menjadi laga terakhir Alonso. Kini, rumor transfer Vinicius ke klub seperti Manchester United mulai berhembus kencang. Jika Madrid serius membangun tim di sekitar Mbappe, bukan tidak mungkin Vinicius akan menjadi korban restrukturisasi.

Ruang Ganti Mendidih: Konflik Internal Membara

Masalah Madrid ternyata tak hanya di lapangan hijau. Insiden mengejutkan terjadi di sesi latihan jelang El Clasico, melibatkan Federico Valverde dan Aurelien Tchouameni. Keributan itu bahkan membuat Valverde cedera kepala dan harus dilarikan ke rumah sakit. Keduanya langsung didenda klub, namun Tchouameni tetap diturunkan melawan Barcelona. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius akan lingkungan ruang ganti yang mulai "toxic". Jika konflik internal ini terus membesar, bukan mustahil salah satu pemain akan dilepas pada bursa transfer musim panas nanti.

Mourinho Kembali sebagai Juru Selamat?

Di tengah kekacauan ini, nama Jose Mourinho kembali mencuat sebagai kandidat pelatih Real Madrid. Meskipun gaya bermain pragmatisnya kerap tidak disukai sebagian fans, dalam kondisi klub yang limbung, banyak yang mulai melihat pelatih Portugal itu sebagai sosok yang mampu membawa stabilitas dan disiplin. Mourinho pernah melatih Madrid pada 2010-2013, mempersembahkan gelar La Liga, Copa del Rey, dan Piala Super Spanyol. Menariknya, tim asuhannya, Benfica, bahkan sempat mengalahkan Madrid 4-2 di fase grup Liga Champions musim ini. Meski Mourinho mengaku belum ada kontak resmi, rumor kepulangannya terus menguat.

Nama-nama Besar Lain dalam Perburuan

Selain Mourinho, beberapa nama besar lain juga dikaitkan dengan kursi panas pelatih Real Madrid. Jurgen Klopp dianggap ideal untuk membangun kembali hubungan harmonis antara tim dan fans, seperti yang sukses ia lakukan di Borussia Dortmund dan Liverpool. Julian Nagelsmann, yang kini menangani Timnas Jerman, juga masuk daftar dan disebut bisa mempertimbangkan tantangan baru setelah Piala Dunia 2026. Legenda klub, Zinedine Zidane, yang punya ikatan emosional kuat dan rekam jejak sukses di Liga Champions, kembali disebut-sebut. Massimiliano Allegri dan Didier Deschamps juga turut meramaikan bursa pelatih Los Blancos.

Satu hal yang pasti, kekalahan menyakitkan di kandang Barcelona ini menjadi titik awal dimulainya pembangunan ulang besar-besaran di Santiago Bernabeu. Musim depan, Real Madrid harus bangkit dari keterpurukan ini.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post