INCO Panen Cuan Laba Meroket 100 Persen

Agus Riyadi

30 April 2026

3
Min Read

Ekonesia – PT Vale Indonesia Tbk INCO sukses menggebrak pasar dengan unjuk performa finansial yang sangat impresif pada Kuartal I-2026. Raksasa tambang nikel ini berhasil mencatatkan lonjakan laba bersih hingga seratus persen, menembus angka fantastis US$ 43,6 juta atau setara sekitar Rp 752 miliar. Angka ini jauh melampaui capaian periode yang sama tahun sebelumnya, di mana laba bersih tercatat US$ 21,8 juta.

Kinerja cemerlang ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan laporan resmi perusahaan, peningkatan laba bersih tersebut didukung kuat oleh pertumbuhan pendapatan dan EBITDA yang signifikan. Pendapatan perseroan melonjak 22,3 persen menjadi US$ 252,7 juta pada Kuartal I-2026, dari sebelumnya US$ 206,6 juta pada periode serupa tahun 2025. Tak hanya itu, EBITDA juga melesat 54,9 persen, mencapai US$ 80,1 juta dari US$ 51,7 juta.

INCO Panen Cuan Laba Meroket 100 Persen
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Manajemen Vale menjelaskan, performa positif di awal tahun 2026 ini tak lepas dari tren kenaikan harga nikel global. Sepanjang Kuartal I-2026, harga rata-rata nikel matte yang dicatat PT Vale mencapai US$ 14.213 per metrik ton, meningkat 15 persen dibandingkan Kuartal IV-2025 yang sebesar US$ 12.308 per metrik ton. Tahun 2026 juga menjadi babak baru dengan penerapan tingkat pembayaran 82 persen untuk penjualan nikel matte, yang secara fundamental memperkuat basis pendapatan dan visibilitas margin perusahaan. Dengan proyeksi harga nikel LME yang terus menguat, Vale optimistis dapat mengoptimalkan struktur komersialnya.

Dari sisi efisiensi operasional, biaya tunai per unit penjualan nikel matte pada Kuartal I-2026 tetap kompetitif di angka US$ 10.382 per ton, sedikit lebih tinggi dari US$ 9.573 per ton pada Kuartal IV-2025, terutama akibat kenaikan harga input komoditas. Sementara itu, untuk bisnis bijih nikel, biaya tunai per unit di Bahodopi stabil di US$ 21 per ton dan Pomalaa di US$ 13 per ton, termasuk royalti dan logistik. Ke depan, perseroan menargetkan optimalisasi biaya tunai melalui peningkatan volume penjualan dari blok Pomalaa, yang diharapkan mampu menciptakan skala ekonomi dan menyeimbangkan profil biaya keseluruhan.

Meskipun mencatat penurunan produksi nikel matte menjadi 13.620 metrik ton pada Kuartal I-2026 dari 17.027 metrik ton pada periode yang sama tahun lalu, manajemen menegaskan bahwa hal ini sesuai dengan rencana strategis. Penurunan tersebut merupakan dampak dari optimalisasi kegiatan pemeliharaan terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang dijadwalkan rampung semester pertama 2026, serta penyesuaian terkait persetujuan RKAB 2026. Pengiriman nikel matte juga menurun 25 persen secara triwulanan. Namun, PT Vale tetap yakin dapat mencapai target produksi setahun penuh sebesar 67.645 ton, didukung potensi kenaikan harga nikel LME.

Tahun 2026 juga menandai tonggak penting bagi lintasan pertumbuhan PT Vale, di mana perseroan mulai mengoperasikan tiga blok pertambangan secara simultan: Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Pencapaian strategis ini ditunjukkan dengan peningkatan volume produksi di setiap blok serta penjualan perdana bijih nikel limonit dari area Pomalaa di awal tahun. Langkah ini secara signifikan memperluas portofolio komersial PT Vale dan memperkuat diversifikasi pendapatan di masa mendatang.

Dengan semua strategi dan kondisi pasar yang mendukung, perseroan memproyeksikan kinerja EBITDA, pendapatan, dan laba yang lebih kuat di masa depan. Hal ini akan didorong oleh harga nikel LME yang lebih tinggi, peningkatan leverage operasional, dan perluasan margin seiring dengan peningkatan volume produksi.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post