Ekonesia – Harga minyak mentah global menunjukkan sedikit pelemahan pada perdagangan Rabu pagi 29 April 2026 setelah serangkaian kenaikan tajam yang terjadi sebelumnya. Meskipun terkoreksi tipis, level harga komoditas energi ini tetap bertahan tinggi, sebab pasar masih dihantui oleh ketidakpastian pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Jawaban Berani Frank Usai Diteriaki Dipecat Fans
Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.45 WIB, minyak jenis Brent tercatat di angka US$110,74 per barel, menurun 0,47% dari penutupan hari sebelumnya yang mencapai US$111,26 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga tergelincir 0,87% menjadi US$99,06 per barel, dari posisi sebelumnya US$99,93.

Pelemahan yang terjadi pagi ini kontras dengan tren positif selama sepekan terakhir. Sejak 17 April, harga Brent telah melonjak signifikan sebesar 12,8% dari US$90,38 per barel. Dalam periode yang sama, WTI bahkan melesat 18,1% dari US$83,85, nyaris kembali menyentuh level US$100.
Baca juga: Kepiting RI Siap Penuhi Pasar Dunia
Mengutip laporan Reuters, lonjakan harga tersebut dipicu oleh kabar bahwa Amerika Serikat akan memperpanjang sanksi yang membatasi aktivitas pelabuhan Iran. Presiden Donald Trump dilaporkan telah menginstruksikan timnya untuk merumuskan opsi pengetatan tekanan ekonomi terhadap Iran, termasuk pembatasan kegiatan pelayaran menuju dan dari pelabuhan negara tersebut.
Langkah ini membuat pelaku pasar menilai bahwa gangguan suplai energi dari kawasan Teluk belum akan mereda dalam waktu dekat. Kondisi semakin genting mengingat Selat Hormuz, jalur vital distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, masih menghadapi gangguan. Setiap hari gangguan di Hormuz berarti penundaan pengiriman, lonjakan biaya logistik, dan hambatan distribusi ke pasar-pasar utama di Asia maupun Eropa. Oleh karena itu, meskipun pagi ini harga terkoreksi, pelemahan ini lebih terlihat sebagai jeda setelah lonjakan tajam.
Dari sisi fundamental, data persediaan Amerika Serikat turut memberikan dukungan terhadap harga. Laporan industri yang dikutip Reuters menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS mengalami penurunan sebesar 1,79 juta barel pada pekan lalu. Persediaan bensin anjlok 8,47 juta barel, sedangkan distilat turun 2,60 juta barel. Penurunan stok ini umumnya diinterpretasikan sebagai indikasi permintaan yang kuat atau pasokan yang menipis.
Dinamika pasar dalam sepuluh hari terakhir menggambarkan betapa cepatnya sentimen dapat berbalik. Pada 20 April, Brent masih berada di US$95,48, namun kini telah bertengger di atas US$110. Demikian pula WTI, dari US$89,61 kini mencapai US$99,06. Dalam hitungan hari, pasar bergeser dari kondisi tenang menuju mode siaga penuh.


Tinggalkan komentar