Ekonesia – Sejarah Indonesia menyimpan kisah-kisah luar biasa, termasuk sebuah skandal penipuan akbar yang pernah mengguncang sendi-sendi pemerintahan puluhan tahun silam. Bayangkan, korbannya bukan sembarang orang, melainkan pejabat tinggi negara hingga menyeret nama proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno. Sebuah modus operandi licik yang berhasil mengelabui elite negeri ini.
Baca juga: UMKM Bebas Laporan Keuangan Ribet Sampai 2027?
Kisah mengejutkan ini bermula pada 8 Agustus 1957, saat seorang pria berusia 42 tahun bernama Idrus, asal Palembang, tiba-tiba muncul ke permukaan. Dengan percaya diri, ia memproklamirkan diri sebagai pangeran dari wilayah yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. Kedatangan Idrus tidak sendiri, ia ditemani lima orang yang berpenampilan sipil-militer, menambah kesan meyakinkan pada setiap ucapannya. Untuk memperkuat narasinya, Idrus juga beralasan bahwa ia datang ke kota karena tempat tinggalnya dilanda konflik dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), sebuah gerakan protes dari Sumatera Barat yang menuntut perhatian lebih dari pemerintah pusat yang sentralistis.

Klaim Idrus yang fantastis ini, sebagaimana dicatat koran Belanda Het Parool pada 19 Juli 1958, lambat laun berhasil membius banyak pihak, termasuk Wali Kota Palembang kala itu. Kepercayaan yang terbangun ini membuka jalan lebar bagi Idrus untuk diterbangkan ke Jakarta, demi sebuah pertemuan penting dengan Presiden Soekarno.
Baca juga: PalmCo Buka Pintu Karier Impian untuk Gen Z!
Pertemuan bersejarah itu akhirnya terjadi pada 10 Maret 1958 di Istana Negara, demikian laporan Nieuwsblad van het Zuiden pada 7 April 1959. Di hadapan Soekarno, Idrus kembali mengubah klaimnya, kali ini mengaku sebagai bangsawan sekaligus raja dari Suku Anak Dalam. Sebuah ironi, mengingat Suku Anak Dalam sejatinya tidak mengenal sistem raja atau ratu, melainkan hanya memiliki kepala suku sebagai pemimpin tertinggi.
Namun, Presiden Soekarno, yang terbuai oleh cerita Idrus, justru memberikan penghormatan luar biasa. Idrus dijamu bak raja sejati, menikmati fasilitas mewah dari negara, termasuk tur keliling Jawa dengan biaya pemerintah dan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Ia menjelajahi berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, hingga Madiun. Di setiap persinggahan, Idrus selalu disambut meriah oleh para pemimpin daerah, seolah-olah memang seorang bangsawan agung.
Saat berada di Bandung, Idrus bertemu dengan seorang perempuan bernama Markonah. Keduanya kemudian menikah, dan tak tanggung-tanggung, mereka memperkenalkan diri sebagai raja dan ratu saat melanjutkan perjalanan keliling Pulau Jawa.
Namun, sandiwara besar ini akhirnya menemui titik akhir. Tabir kebohongan mulai tersingkap saat pasangan "raja dan ratu" palsu ini tiba di Madiun. Nieuwsblad van het Noorden (7 April 1959) melaporkan bahwa otoritas setempat mulai menaruh curiga terhadap gelagat dan perilaku keduanya yang jauh dari kesan bangsawan sejati.
Pasangan tersebut kemudian diinterogasi oleh pihak kepolisian. Terbukti, mereka bukanlah raja dan ratu seperti yang mereka klaim. Idrus hanyalah seorang kepala desa biasa, sementara Markonah adalah perempuan pada umumnya. Kasus penipuan ini pun dibawa ke meja hijau. Keduanya mengakui perbuatan mereka dan memohon keringanan hukuman. Namun, majelis hakim menjatuhkan vonis 9 bulan penjara.
Skandal ini sontak mengguncang opini publik dan menjadi buah bibir di seluruh penjuru negeri. Bagaimana tidak, sebuah penipuan besar berhasil mengelabui banyak pejabat penting, bahkan hingga Presiden Republik Indonesia sendiri.




Tinggalkan komentar