Perak Terjun Bebas Usai Rekor Tertinggi Dunia

Agus Riyadi

30 Desember 2025

3
Min Read

Ekonesia – Pasar logam mulia diguncang kejutan dramatis menjelang penutupan tahun. Harga perak, yang baru saja mencetak rekor fantastis, tiba-tiba ambruk signifikan, memicu kepanikan di kalangan investor. Kontrak berjangka perak anjlok 8,7% pada perdagangan Senin, 29 Desember 2025, setelah sebelumnya sempat menyentuh level US$80 atau sekitar Rp1.342.640 per ons untuk kali pertama dalam sejarah pada sesi overnight.

Penurunan tajam ini mengakhiri hari perdagangan perak di level US$70,46 per ons, menandai catatan terburuk sejak Februari 2021. Bahkan, dalam pergerakan intraday, volatilitasnya jauh lebih ekstrem. Dari puncak tertinggi hingga titik terendah, harga perak merosot hingga 15%, sebuah guncangan yang jarang terjadi. Mengutip laporan media internasional, kejatuhan intraday tersebut merupakan yang terbesar sejak Agustus 2020, ketika perak sempat anjlok 16,85% dalam satu hari. CEO sekaligus Chief Investment Officer KKM Financial, Jeff Kilburg, menyebut pergerakan ini sebagai peristiwa bersejarah yang langka.

Perak Terjun Bebas Usai Rekor Tertinggi Dunia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut Kilburg, koreksi mendadak ini dipicu oleh aksi ambil untung besar-besaran serta praktik tax-loss harvesting yang lazim dilakukan menjelang akhir tahun kalender. Tekanan jual tersebut memangkas sebagian reli perak yang telah melonjak luar biasa sepanjang tahun.

Meskipun mengalami koreksi tajam, performa perak sepanjang tahun 2025 tetap mencengangkan. Harga logam putih ini masih meroket lebih dari 140% secara year-to-date. Di awal tahun 2025, perak masih diperdagangkan sedikit di atas US$20 per ons. Kinerja impresif ini bahkan membuat perak mengungguli emas. Kontrak berjangka emas Februari, yang sempat menembus US$4.550 per ons bulan ini, telah naik lebih dari 60% sepanjang tahun. Namun, emas juga tak luput dari tekanan pada perdagangan yang sama, dengan penurunan sekitar 4,6% dan ditutup di level US$4.343,6 per ons.

Lonjakan harga kedua logam mulia ini didorong oleh berbagai faktor fundamental yang kuat. Emas dan perak dipandang sebagai aset penyelamat investasi (safe haven) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global serta risiko ekonomi, termasuk membengkaknya defisit Amerika Serikat. Selain itu, kedua logam ini berfungsi sebagai pelindung kekayaan yang efektif, mampu melindungi investor dari pelemahan dolar AS akibat inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Dolar AS yang lebih lemah juga secara otomatis membuat harga emas dan perak lebih terjangkau bagi pembeli di negara lain, sehingga mendorong permintaan global.

Khusus untuk perak, kenaikan harganya turut ditopang oleh dorongan permintaan sektor industri yang sangat kuat, terutama untuk kebutuhan elektronik. Penggunaan perak terus meningkat pada produk-produk vital seperti panel surya, pusat data, dan kendaraan listrik yang semakin marak.

Kilburg memperkirakan sentimen positif ini masih akan berlanjut hingga tahun 2026. Ia memprediksi harga perak berpotensi melambung ke kisaran US$90 hingga US$100 per ons, yang berarti memiliki ruang kenaikan sekitar 27% hingga 40% dari level terakhir. Ia menilai koreksi tajam kali ini hanya bersifat sementara dan merupakan penyesuaian jangka pendek di akhir tahun. Menurutnya, baik emas maupun perak masih berada dalam tren kenaikan jangka menengah hingga panjang yang solid. Kilburg juga menekankan adanya masalah struktural pada sisi pasokan dan lonjakan permintaan yang kuat. Kombinasi kedua faktor tersebut diyakini akan kembali mendorong harga perak lebih tinggi, menandakan bahwa reli belum benar-benar berakhir.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post