Ekspor Kakao Bali Bisa Meroket Ini Rahasianya

Rachmad

23 November 2025

2
Min Read

Ekonesia – Kabar gembira untuk para eksportir kakao di Bali! Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri memberikan arahan strategis untuk memanfaatkan kerja sama pemerintah dalam memperluas jangkauan pasar internasional. Kunjungan ke pabrik Cau Chocolates di Tabanan menjadi momentum penting untuk mengidentifikasi peluang emas.

Wamendag Dyah Roro menekankan pentingnya memanfaatkan perjanjian dagang yang telah disepakati dengan berbagai negara, seperti Indonesia-Peru CEPA, Indonesia-Canada CEPA, dan yang akan datang, Indonesia-Uni Eropa CEPA. Pasar Eropa, dengan permintaan yang terus tumbuh dan fokus pada keberlanjutan, menjadi target yang sangat menjanjikan. Produk ramah lingkungan, sehat, dan organik akan sangat diminati di sana.

Ekspor Kakao Bali Bisa Meroket Ini Rahasianya
Gambar Istimewa : img.antaranews.com

Namun, Wamendag juga mengingatkan untuk tidak melupakan pasar ASEAN yang dekat. Kementerian Perdagangan siap menghubungkan eksportir dengan perwakilan dagang di 33 negara untuk membantu memperluas jaringan. Partisipasi dalam pameran internasional juga sangat dianjurkan untuk menarik lebih banyak pembeli potensial.

Selain itu, Wamendag Dyah mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan fasilitas Inaexport agar mendapatkan mitra bisnis dan berpartisipasi dalam business matching. Hilirisasi komoditas kakao juga menjadi fokus utama, tidak hanya dalam skala industri besar, tetapi juga UMKM seperti di Tabanan, di mana kakao telah diolah menjadi cokelat berkualitas tinggi dan berdaya saing.

Data dari BPS menunjukkan tren positif ekspor kakao, kakao olahan, dan makanan olahan berbahan dasar kakao Indonesia, dengan pertumbuhan 16,20 persen pada 2021-2024. Bahkan, pada Januari-September 2025, ekspor mencapai 2,8 miliar dolar AS, melonjak 68,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

CEO Cau Chocolate, Kadek Surya, mengungkapkan bahwa tantangan utama mereka adalah menemukan lebih banyak pasar yang menerima produk olahan kakao mereka. Mereka menerapkan prinsip perdagangan adil, memastikan kesejahteraan petani kakao dan menjaga kualitas produksi. Strategi mereka adalah membeli biji cokelat dengan harga lebih tinggi, meskipun harus menekan margin keuntungan, dengan syarat petani terdaftar sebagai anggota dari 12 gapoktan yang dibuat Cau Chocolates dan memiliki kebun organik yang memenuhi aspek ketertelusuran.

Dengan cara ini, Cau Chocolate berkontribusi pada kesejahteraan petani, memastikan kualitas produk, dan mempersiapkan produk mereka untuk pasar ekspor, terutama ke Eropa. Ini adalah langkah cerdas untuk memastikan kakao Bali semakin dikenal dan diminati di pasar global.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post