Kopi Dieng: Hangatkan DCF, Bangkitkan Asa Petani!

Rachmad

24 Agustus 2025

2
Min Read
 Kopi Dieng: Hangatkan DCF, Bangkitkan Asa Petani!

Ekonesia Ekonomi – Kabut lembut dan dinginnya malam Dieng Culture Festival (DCF) XV Tahun 2025 di Banjarnegara, Jawa Tengah, mengundang para pengunjung untuk mencari kehangatan dalam secangkir kopi Dieng yang khas. Lebih dari sekadar minuman, kopi ini membawa cerita mendalam tentang tanah vulkanik, kerja keras petani, dan semangat generasi muda dalam menghidupkan kembali tradisi agraris.

Kopi Dieng menawarkan narasi rasa yang unik, perpaduan antara citrus lembut seperti jeruk atau pomelo, nuansa teh hitam, dan manis samar menyerupai gula aren, karamel, atau cokelat. Meruda Danu, seorang pegiat kopi dari Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Banjarnegara, menjelaskan bahwa proses full wash menghasilkan rasa yang lebih menonjolkan citrus dengan sentuhan teh dan manis seperti cokelat atau karamel.

 Kopi Dieng: Hangatkan DCF, Bangkitkan Asa Petani!
Gambar Istimewa : img.antaranews.com

MPIG Banjarnegara, yang resmi terdaftar sejak 2020 di Kementerian Hukum dan HAM, menjadi wadah bagi para pelaku kopi dari hulu hingga hilir. Rasa khas kopi Dieng tidak lepas dari faktor mikroiklim, cara panen, dan teknik sangrai yang cermat.

Bank Indonesia (BI) turut berperan sebagai mitra strategis dalam pengembangan kopi Banjarnegara. Melalui Kantor Perwakilan (KPw) BI Purwokerto, BI memberikan fasilitasi, pelatihan, dan pembiayaan kepada para pegiat kopi pada DCF 2022 dan 2024. Dukungan ini meliputi digitalisasi pemasaran, peningkatan literasi keuangan, dan penguatan kelembagaan petani kopi, sejalan dengan program pengembangan UMKM unggulan daerah.

Meskipun fasilitasi teknis pada 2025 berada di bawah Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkop UKM) Kabupaten Banjarnegara, jejak dukungan BI tetap terasa. Banyak barista, roaster, dan kelompok petani kopi yang telah mendapatkan pelatihan kini tampil lebih percaya diri di DCF.

Dieng Coffee Showcase menyajikan proses lengkap pembuatan kopi, dari kebun hingga seduhan, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk memahami kisah di balik setiap cangkir. Pada DCF XV, BI memfasilitasi 32 UMKM, termasuk delapan UMKM kopi, dengan menyediakan booth, mendukung digitalisasi pembayaran melalui QRIS, serta memberikan edukasi keuangan dan kampanye "Cinta Bangga Paham Rupiah".

Selain itu, BI mendukung pembangunan Coffee Learning Center di Desa Babadan, hasil kolaborasi dengan Universitas Gajah Mada (UGM) dan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara. Pusat pembelajaran ini memberikan pelatihan agronomi, pascapanen, cupping, dan pemasaran kepada petani, membangun kompetensi berbasis aktivitas nyata dan data.

Pengembangan kopi di Dieng juga menjadi solusi atas permasalahan degradasi lahan akibat intensifikasi penanaman sayuran dataran tinggi seperti kentang, wortel, dan kubis. Dengan demikian, kopi Dieng tidak hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga memberikan harapan baru bagi keberlanjutan pertanian di Dataran Tinggi Dieng. Artikel ini ditulis berdasarkan informasi dari Ekonesia Ekonomi – yang bersumber dari ekonosia.com.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post