Terungkap Laba UNTR Anjlok 24 Persen Mengapa Ini Terjadi

Agus Riyadi

27 Februari 2026

3
Min Read

Ekonesia – PT United Tractors Tbk UNTR melaporkan kinerja keuangan yang mengejutkan sepanjang tahun buku 2025. Laba bersih perusahaan terkoreksi tajam hingga 24 persen menjadi Rp14,8 triliun. Penurunan signifikan ini utamanya dipicu oleh kontribusi yang melemah dari sektor kontraktor penambangan, yang terhambat oleh curah hujan ekstrem, serta segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi akibat tekanan harga jual komoditas. Meski demikian, penguatan harga emas berhasil sedikit menopang kinerja keseluruhan.

Pendapatan bersih konsolidasi UNTR juga sedikit tergerus, mencapai Rp131,3 triliun atau turun 2 persen dibandingkan periode tahun 2024. Kontraktor penambangan menjadi penyumbang terbesar dengan Rp54,1 triliun, namun angka ini menunjukkan penurunan 7 persen. Segmen mesin konstruksi juga mencatat penurunan 2 persen menjadi Rp36,6 triliun, sementara pertambangan batu bara termal dan metalurgi anjlok 7 persen ke Rp24,2 triliun. Berbeda nasib, segmen pertambangan emas dan mineral lainnya justru bersinar terang, melonjak 41 persen menjadi Rp14,0 triliun.

Terungkap Laba UNTR Anjlok 24 Persen Mengapa Ini Terjadi
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Distribusi penjualan alat berat menunjukkan dominasi sektor pertambangan yang menyerap 60 persen dari total penjualan. Sektor konstruksi menyusul dengan 15 persen, perkebunan 14 persen, dan kehutanan 11 persen. Riset pasar internal menempatkan Komatsu sebagai pemimpin pasar alat berat di sektor pertambangan dengan pangsa 20 persen. Penjualan produk Scania juga menunjukkan pertumbuhan 7 persen menjadi 466 unit, namun UD Trucks mengalami penurunan 34 persen dengan hanya 155 unit terjual.

Pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat ikut terpengaruh, turun 3 persen menjadi Rp11,3 triliun. Sementara itu, pendapatan bersih dari mesin konstruksi juga mengalami koreksi 2 persen menjadi Rp36,6 triliun.

Di lini kontraktor penambangan, PT Pamapersada Nusantara PAMA dan anak usahanya PT Kalimantan Prima Persada KPP Mining mencatat volume pemindahan tanah overburden removal yang lebih rendah, yakni 1.100 juta bcm atau turun 10 persen. Volume produksi batu bara untuk klien mencapai 148 juta ton dengan rata-rata stripping ratio 7,4x. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh intensitas curah hujan yang tinggi dan penurunan stripping ratio pada beberapa kontrak. Alhasil, total pendapatan bersih dari segmen ini terkoreksi 7 persen menjadi Rp54,1 triliun.

Untuk usaha pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang dioperasikan oleh PT Tuah Turangga Agung Turangga Resources, volume penjualan batu bara mencapai 11,6 juta ton, termasuk 3,7 juta ton batu bara metalurgi, naik 14 persen dari tahun 2024. Jika ditambah dengan batu bara pihak ketiga, total volume penjualan mencapai 14,3 juta ton, meningkat 9 persen. Namun, pendapatan segmen ini justru turun 7 persen menjadi Rp24,2 triliun, imbas dari rata-rata harga jual batu bara yang lebih rendah.

Kabar baik datang dari bisnis emas dan mineral lainnya. Pendapatan bersih dari segmen ini melesat 41 persen menjadi Rp14,0 triliun, didorong oleh penguatan harga jual emas global. Anak usaha yang bergerak di bidang pertambangan emas, PT Agincourt Resources PTAR dan PT Sumbawa Jutaraya SJR, mencatatkan total penjualan setara emas sebesar 227 ribu ons, sedikit lebih rendah 2 persen dari tahun 2024. PTAR menyumbang 213 ribu ons, turun 7 persen, sementara SJR mencatatkan 14 ribu ons penjualan setara emas.

Pada bisnis nikel, PT Stargate Pasific Resources SPR berhasil menjual bijih nikel sebesar 2,1 juta wet metric ton wmt hingga kuartal keempat 2025, terdiri dari 0,7 juta wmt saprolit dan 1,4 juta wmt limonit. Nickel Industries Limited NIC, di mana UNTR memiliki 20,14 persen saham, merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi. Kinerja bisnis ini sempat terdampak oleh pencatatan penurunan nilai terkait dua proyek RKEF lama milik NIC pada kuartal terakhir 2024, yang berimbas pada kinerja perusahaan di triwulan pertama 2025. Operasional RKEF NIC melaporkan penjualan nikel metal sebesar 93.264 hingga kuartal ketiga 2025.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post