Ekonesia – Impian memiliki kehidupan bergelimang harta dan kemapanan finansial kerap menjadi dambaan banyak orang. Namun realitas menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia masih berkutat di segmen kelas menengah. Sebuah studi terbaru menguak fakta mengejutkan mengenai pola perilaku segmen ini yang justru menghambat mereka melangkah menuju gerbang kekayaan sejati.
Baca juga: Starting XI Arsenal Musim Depan: Kejutan Besar!
Para pakar keuangan menyoroti bagaimana kalangan menengah seringkali terjebak di persimpangan antara mengejar kenyamanan hidup dan memenuhi tuntutan finansial. Mereka memang berupaya menyeimbangkan antara pengeluaran esensial dan gaya hidup, bahkan masih menyisihkan dana untuk tabungan serta investasi. Namun, di balik upaya tersebut, terdapat kebiasaan-kebiasaan tertentu yang secara tidak sadar menjegal potensi mereka untuk naik kelas ekonomi.

Zach Larsen, CEO Pineapple Money, menjelaskan bahwa prioritas utama kelas menengah meliputi rumah layak kendaraan andal dan pendidikan anak. "Dana pensiun serta asuransi juga menjadi fokus utama mereka," ungkap Zach seperti dilansir dari Yahoo Finance. Menariknya, saat mendapat pemasukan tambahan, mayoritas kelas menengah memilih menabung. Berbeda dengan kelompok berpenghasilan rendah yang cenderung melunasi utang, sementara kaum tajir justru memilih menginvestasikannya.
Baca juga: Emas Antam Tetap di Harga Ini! Cek Sekarang!
Lantas apa saja kebiasaan belanja khas kelas menengah yang jarang dilakukan oleh orang-orang kaya? Berikut tujuh di antaranya yang patut dicermati:
-
Terjerat Utang Konsumtif
Banyak individu kelas menengah terbebani berbagai kewajiban finansial seperti cicilan hunian kredit kendaraan hingga pinjaman pendidikan. Berbeda dengan kaum berduit yang memanfaatkan utang untuk mengakuisisi aset produktif, kalangan menengah justru kerap menggunakannya untuk membeli barang-barang konsumtif. "Kendaraan mewah barang-barang berjenama atau kebutuhan non-esensial seringkali dibeli dengan skema kredit," jelas pakar keuangan Jacquesdu Toit. -
Mengejar Gadget dan Tren Terbaru
Kelompok menengah seringkali tergoda untuk memiliki produk-produk bermerek non-luxury seperti gawai pakaian atau peralatan rumah tangga terkini. Rob Whaley dari Horizon Finance Group menyebut mereka seringkali terjebak hasrat untuk selalu mengikuti perkembangan tren bahkan jika itu berarti harus menambah beban utang. -
Investasi Pendidikan Tanpa Prospek Jelas
Pengeluaran besar untuk pendidikan baik sekolah swasta maupun perguruan tinggi menjadi prioritas utama bagi kelas menengah. Pendidikan dianggap sebagai tangga menuju peningkatan status sosial dan ekonomi. Namun Toit mengingatkan bahwa jalur pendidikan bisa menjadi jebakan jika tidak selaras dengan minat atau prospek kerja yang menjanjikan. "Misalnya mengambil jurusan seni murni memang mengikuti passion tapi belum tentu menjamin pendapatan stabil," katanya. -
Properti di Wilayah Pinggiran Kota
Kepemilikan rumah merupakan salah satu pengeluaran paling signifikan. Marc Afzal CEO Sell Quick California mengemukakan bahwa kelas menengah umumnya membeli rumah di area pinggiran kota demi kenyamanan dan ruang lebih luas. Ini kontras dengan kaum kaya yang memiliki beragam properti premium atau kelompok bawah yang lebih memilih menyewa. -
Mobil Mahal dengan Cicilan Jangka Panjang
Menurut Mary Vallieu seorang money coach banyak keluarga kelas menengah membeli mobil seharga ratusan juta hingga miliaran rupiah dengan tenor cicilan yang sangat panjang bisa mencapai tujuh atau delapan tahun. Sementara kalangan berpunya umumnya membeli mobil secara tunai dan kelompok kurang mampu lebih sering menggunakan kendaraan bekas atau hibah keluarga. -
Paket Wisata Hemat
Alih-alih menikmati liburan eksklusif seperti kaum elit kelas menengah cenderung memilih paket wisata yang dianggap ekonomis namun tetap menawarkan pengalaman menarik. Konser acara hiburan dan perjalanan rekreasi juga menjadi bagian dari pengeluaran rutin mereka. -
Peralatan Dapur Premium
Kelas menengah cenderung memilih versi yang lebih baik dari kebutuhan dasar mereka misalnya ponsel pintar mahal dan peralatan dapur premium. "Mereka tidak selalu memilih barang terbaik namun tetap menginginkan fitur yang lebih canggih," ujar Jake Claver dari Digital Ascension Group.
Meskipun kelas menengah mampu menikmati gaya hidup yang relatif nyaman para ahli menyarankan agar pengeluaran mereka lebih diarahkan untuk membangun keamanan finansial jangka panjang. Jacquesdu Toit menekankan bahwa salah satu kunci utama dalam membangun kekayaan adalah menyesuaikan belanja dengan nilai dan manfaat jangka panjang. Ia menyoroti pentingnya investasi membangun bisnis dan otomatisasi pengelolaan keuangan. "Tujuannya bukan sekadar memiliki penghasilan melainkan menciptakan gaya hidup berkelanjutan yang memungkinkan pertumbuhan tanpa tekanan finansial berlebihan," pungkasnya.











Tinggalkan komentar