Terkuak Petani Temukan Emas 16 Kg di Sawah

Agus Riyadi

14 Maret 2026

3
Min Read

Ekonesia – Sebuah kisah luar biasa dari Desa Wonoboyo Klaten Jawa Tengah masih kerap menjadi perbincangan hingga kini. Pada tahun 1990 seorang petani bernama Cipto Suwarno tanpa sengaja menemukan tumpukan harta karun emas seberat 16 kilogram saat sedang menggarap lahannya. Penemuan fantastis ini sontak menggemparkan warga dan menjadi salah satu temuan arkeologi emas terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Kisah bermula ketika Cipto Suwarno berupaya keras mengembalikan fungsi irigasi sawahnya yang terganggu proyek pembangunan di sekitar. Selama lebih dari seminggu ia tak henti mencangkul dari pagi hingga petang. Pada Rabu 17 Oktober 1990 saat cangkulnya menembus kedalaman sekitar 25 meter tiba-tiba terdengar benturan keras. Awalnya ia mengira hanya batu biasa namun saat benda itu diangkat Cipto terperanjat. Sebuah guci keramik berlapis emas tersembul dari dalam tanah.

Terkuak Petani Temukan Emas 16 Kg di Sawah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Emas emas emasss" teriaknya penuh kegembiraan. Sontak kabar penemuan ini menyebar cepat dan menarik perhatian warga serta pejabat desa. Penggalian pun dilanjutkan di hadapan kerumunan yang penasaran. Hasilnya sungguh mencengangkan total 16 kilogram emas berhasil diangkat dari perut bumi. Berbagai artefak berharga ditemukan antara lain bokor gembung enam tutup bokor tiga gayung satu baki 97 gelang 22 mangkuk pipa rokok guci besar dan kecil 11 cincin tujuh piring delapan subang tas tangan keris manik-manik hingga uang logam.

Temuan yang kemudian dikenal sebagai Harta Karun Wonoboyo ini menjadi bukti nyata kemegahan peradaban masa lalu. Para arkeolog menyimpulkan bahwa seluruh artefak emas tersebut berasal dari akhir abad ke-9 hingga pertengahan abad ke-10. Kesimpulan ini didukung oleh bentuk dan gaya temuan yang sesuai dengan periode tersebut seperti relief Ramayana pada mangkuk emas dan tulisan "Saragi Diah Bunga" pada koin emas. Penemuan ini secara jelas menggambarkan betapa pentingnya emas dalam kehidupan masyarakat Jawa kuno baik di kalangan elit maupun rakyat biasa.

Sejarah mencatat bahwa emas memang sangat mudah dan murah didapatkan pada masa itu sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa kuno. Di era Kerajaan Majapahit misalnya para bangsawan dikenal memiliki koleksi emas dalam jumlah besar. Berbagai benda mulai dari kereta hingga kipas kerap dilapisi emas sebagai simbol kemewahan dan status. Stuart Robson dalam karyanya Desawarna oleh Mpu Prapanca (1995) juga menyoroti kebiasaan serupa di Kerajaan Daha di mana putri raja sering menggunakan kereta berlapis emas.

Arkeolog Slamet Mulyana dalam bukunya Menuju Puncak Kemegahan (2012) mengisahkan bagaimana emas menjadi barang idaman di era Majapahit seperti yang tertulis dalam Nagarakertagama karya Empu Prapanca. Emas tidak hanya digunakan untuk estetika tetapi juga sebagai alat transaksi perdagangan. Erwin Kusuma dalam Uang Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya (2021) menyebutkan bahwa masyarakat Jawa kuno lazim menggunakan emas untuk transaksi berskala besar seperti jual beli tanah.

Para penjelajah asing pun takjub dengan kekayaan emas di Jawa. Catatan penjelajah Tiongkok dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa (2009) menggambarkan raja-raja yang hidup mewah dengan emas bertaburan bahkan peralatan makan mereka terbuat dari emas. Tome Pires penjelajah Eropa dalam Suma Oriental (1944) juga mencatat pada tahun 1513 bahwa raja Jawa sangat kaya raya dengan penampilan yang sepenuhnya dihiasi emas. Bahkan pengawal dan anjing peliharaan raja pun mengenakan kalung serta gelang emas.

Meskipun gemar menggunakan emas Pulau Jawa sendiri bukanlah penghasil utama logam mulia ini. Untuk memenuhi kebutuhan mereka masyarakat Jawa kuno mengimpor emas dari Sumatera yang dikenal sebagai ‘Surga Emas’ atau dari India. Seiring berjalannya waktu dan runtuhnya kerajaan kuno serta masuknya era kolonialisme pola hidup masyarakat berubah. Perhiasan emas yang dulunya digunakan sehari-hari kemudian menjadi harta karun terpendam yang terkubur di bawah tanah. Hingga akhirnya Harta Karun Wonoboyo ditemukan dalam skala besar dan kini tersimpan rapi di Museum Nasional Jakarta sebagai warisan budaya yang tak ternilai.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post