Ekonesia – Raksasa e-commerce Shopee akhirnya memecahkan rekor dengan membukukan keuntungan operasional untuk pertama kalinya. Pencapaian monumental ini tidak lepas dari strategi investasi besar-besaran yang digelontorkan perusahaan induknya, Sea, di sektor logistik. Setelah bertahun-tahun berjuang, Shopee kini berhasil meraup laba yang mencengangkan.
Baca juga: Air Bersih Mengalir! Petani Labuan Bajo Tersenyum Lebar
Pada tahun 2025, divisi e-commerce milik Sea ini mencatatkan laba operasional sebesar 581 juta dolar AS atau setara dengan Rp9,76 triliun. Angka ini menjadi bukti nyata transformasi signifikan, mengingat pada tahun 2024 Shopee masih menanggung kerugian sebesar 139 juta dolar AS. Ini adalah kali pertama Shopee mencetak laba tahunan sejak Sea mulai merilis laporan keuangan per segmen.

Forrest Li, Ketua sekaligus CEO Sea, dalam konferensi pers baru-baru ini menyatakan bahwa hasil positif tahun 2025 mengukuhkan efektivitas pilihan strategis yang mereka ambil untuk Shopee. Investasi pada infrastruktur pengiriman dan logistik menjadi kunci utama di balik keberhasilan ini.
Baca juga: Agustus 2025: Rute Batik Air & Citilink Pindah ke Soetta!
Layanan logistik internal Shopee, SPX Express, kini telah menjadi tulang punggung operasional yang memproses lebih dari 30 juta paket setiap hari di berbagai wilayah, termasuk Asia Tenggara, Taiwan, dan Brasil. Li menambahkan, di area perkotaan padat penduduk, Shopee gencar meningkatkan layanan pengiriman instan dan pengiriman di hari yang sama, menjawab kebutuhan konsumen akan kecepatan dan kenyamanan.
Perluasan jangkauan platform e-commerce ini juga ditopang oleh fondasi pelanggan yang terus berkembang pesat. Nilai barang dagangan kotor (GMV) tahunan Shopee pada 2025 mencapai 127,4 miliar dolar AS, melonjak 27 persen dari tahun sebelumnya. Untuk tahun 2026, perusahaan menargetkan pertumbuhan GMV tahunan Shopee sekitar 25 persen.
Tidak hanya Shopee, divisi lain di bawah naungan Sea juga menunjukkan performa gemilang. Garena, unit game Sea, mencatatkan laba operasional 1,18 miliar dolar AS, naik 21 persen dibandingkan 2024. Sementara itu, bisnis keuangan Monee berhasil meroketkan laba operasionalnya sebesar 38 persen menjadi 973 juta dolar AS. Secara keseluruhan, Sea melaporkan laba bersih 397 juta dolar AS untuk kuartal Oktober-Desember, meningkat 67 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya, dengan pendapatan naik 38 persen menjadi 6,8 miliar dolar AS.
Namun, di tengah euforia laba, saham Sea justru mengalami koreksi tajam hingga 16,5 persen. Hal ini terjadi karena pendapatan tahunan positif perusahaan yang terdaftar di bursa New York tersebut gagal memenuhi ekspektasi pasar. Laba per saham triwulanan yang mencapai 0,63 dolar AS berada di bawah perkiraan rata-rata analis sebesar 0,75 dolar AS.
Hussaini Saifee, analis dari Maybank Securities Singapura, mengakui pertumbuhan kuat Sea pada kuartal keempat 2025. Namun, ia menyoroti melemahnya margin keuntungan akibat investasi pemenuhan yang didorong oleh biaya operasional di muka. Menurut Saifee, kondisi ini merupakan "pengorbanan jangka pendek demi keuntungan jangka panjang." Meskipun demikian, Shopee tetap kokoh memimpin pasar di Asia Tenggara, dengan pangsa pasar dominan di Vietnam (79 persen), Malaysia (61 persen), dan Thailand (63 persen).





Tinggalkan komentar