Ekonesia – Juventus berhasil mengamankan kemenangan 2-0 atas Pisa di Arena Garibaldi, sebuah hasil yang memperpanjang tren positif mereka di berbagai kompetisi. Namun, di balik raihan tiga poin penuh yang vital, pelatih Luciano Spalletti justru melontarkan kritik tajam, menegaskan bahwa performa timnya masih jauh dari harapan dan belum mencerminkan kualitas sejati yang seharusnya dimiliki.
Baca juga: SUV Impian? Jetour Kasih Diskon Gede & Bonus!
Pertandingan itu sendiri berlangsung sengit dan penuh tantangan bagi Si Nyonya Tua. Pisa, dengan semangat juang tinggi, mampu memberikan perlawanan serius, bahkan dua kali mengancam gawang Juventus dengan tembakan yang membentur mistar melalui Stefano Moreo dan Matteo Tramoni. Momen-momen krusial ini sempat membuat tim tamu berada di ambang bahaya.

Kebuntuan baru pecah pada menit ke-73. Umpan mendatar Weston McKennie menciptakan kemelut di depan gawang, dan setelah dua kali pantulan, bola akhirnya melewati garis gawang berkat sentuhan Pierre Kalulu. Gol kedua datang di masa tambahan waktu. Fabio Miretti melakukan penetrasi apik ke kotak penalti, bola diteruskan dan diselesaikan dengan dingin oleh Kenan Yildiz dari jarak dekat, memastikan kemenangan vital bagi Juventus.
Baca juga: Skandal Malak Proyek Miliaran! Kadin Pecat 3 Oknumnya
Spalletti tak segan mengungkapkan kekecewaannya. Ia menilai tempo permainan Juventus terlalu lambat pada fase-fase penting, terutama menjelang akhir babak pertama dan awal babak kedua. Pada periode tersebut, intensitas serangan Pisa berhasil membuat skuadnya kesulitan dan beruntung tidak kebobolan. Menurutnya, kualitas sejati Juventus baru mulai terlihat setelah jeda, ketika permainan menjadi lebih kreatif dan efektif di sepertiga akhir lapangan. Gol-gol yang tercipta dianggap pantas karena tim mulai menemukan celah di pertahanan lawan.
Meski demikian, Spalletti menekankan bahwa standar Juventus seharusnya jauh lebih tinggi. Penampilan seperti di babak pertama, menurutnya, tidak boleh terulang jika tim ingin bersaing konsisten sepanjang musim. Masuknya Edon Zhegrova menjadi titik balik signifikan. Kehadirannya membawa keberanian dalam duel satu lawan satu serta variasi serangan yang sebelumnya kurang terlihat. Spalletti mengakui keputusan memainkan Zhegrova diambil dengan risiko besar mengingat kondisi fisiknya belum sepenuhnya pulih, namun kebutuhan untuk membuka ruang serangan menjadi prioritas. Ia juga memuji peningkatan performa Khephren Thuram seiring berjalannya laga dan kontribusi energi serta kualitas tambahan dari Fabio Miretti yang masuk dari bangku cadangan.
Juventus memang melakukan beberapa perubahan pada susunan pemain, termasuk mengembalikan Teun Koopmeiners ke lini tengah dan menerapkan empat bek. Penyesuaian ini, menurut Spalletti, turut memengaruhi keseimbangan permainan. Ia menilai Koopmeiners belum menunjukkan performa terbaiknya di posisi tersebut, kemungkinan akibat dampak perubahan peran dan rotasi pemain sayap yang mengganggu ritme tim. Pelatih juga mengakui bahwa timnya sempat kewalahan menghadapi kekuatan fisik dan agresivitas Pisa, khususnya pada akhir babak pertama hingga awal babak kedua.
Kemenangan ini memang menjadi yang ketujuh bagi Juventus dalam delapan laga terakhir di semua kompetisi, termasuk Serie A, Liga Champions, dan Coppa Italia. Sebuah catatan impresif yang tentu saja memberikan dorongan moral penting. Namun, pesan Spalletti jelas: kemenangan ini adalah bukti kedewasaan tim dalam mengamankan hasil di laga sulit, tetapi konsistensi performa optimal masih menjadi pekerjaan rumah utama jika Juventus benar-benar ingin mempertahankan persaingan gelar hingga akhir musim.











Tinggalkan komentar