Ekonesia Ekonomi – Inovasi mengubah sampah menjadi energi terbarukan mengantarkan sebuah desa di Balikpapan, Kalimantan Timur menuju kemandirian energi dan ekonomi. TPAS Manggar, yang dulunya identik dengan aroma tak sedap, kini menjelma menjadi kompleks pengolahan sampah organik yang "ajaib".
Baca juga: Rezeki UMK! Jutaan Sertifikat Halal Gratis Menanti!
Di bawah terik matahari Balikpapan, bau busuk sampah seolah lenyap berkat pengolahan gas metana yang cermat. Gas metana, biang keladi bau tak sedap dari sampah organik, kini dimanfaatkan sebagai pengganti elpiji untuk kompor dan sumber panas sauna.

"Ini program Wasteco, hasil kolaborasi kami dengan Pertamina," ujar Suyono, penggagas program Wasteco di TPAS Manggar, dengan semangat. Wasteco, singkatan dari Waste to Energy for Community, telah berjalan sejak 2019.
Baca juga: Susu Lokal Didorong, Impor Dikendalikan!
Suyono, yang kemudian dibina oleh PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), awalnya hanya menerapkan program ini untuk 12 rumah. Namun, berkat kerja sama dan pembinaan PHM, manfaat pengelolaan sampah menjadi gas metana meluas, memenuhi kebutuhan energi rumah tangga di desa.
Kini, gas dari tumpukan sampah ini dinikmati oleh 380 sambungan rumah, 1.520 warga atau 390 Kepala Keluarga, dan 29 UMKM dari lima RT. Inisiatif ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah yang tepat dapat menjadi solusi energi berkelanjutan sekaligus mendorong perekonomian lokal. Program Wasteco menjadi contoh sukses bagaimana upaya kolektif dapat mewujudkan desa berdikari energi dan mandiri ekonomi.











Tinggalkan komentar