Ekonesia – Gedung parlemen Senayan kembali memanas menyusul gejolak nilai tukar rupiah yang terus menjadi sorotan. Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) secara resmi memanggil jajaran dewan gubernur Bank Indonesia (BI) untuk rapat kerja krusial, menyikapi dinamika ekonomi terkini dan mengevaluasi kinerja bank sentral.
Baca juga: Swasembada Pangan RI: Misi Presiden Prabowo!
Pertemuan penting ini dihadiri langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo, didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti, serta Deputi Gubernur Ricky P Ghozali dan Thomas Djiwandono. Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menegaskan, rapat ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan momen vital untuk penilaian tahunan terhadap peran BI dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional.

Misbakhun dalam pernyataannya menggarisbawahi tugas fundamental BI dalam mengawal nilai tukar rupiah, memastikan kelancaran sistem pembayaran, dan menjaga ketahanan sistem keuangan di tengah ketidakpastian global yang kian terasa. Meskipun demikian, ia juga mengakui stabilitas rupiah yang terjaga baik tahun lalu dan sistem keuangan yang tetap kokoh.
Baca juga: Kisah Sukses Petani Hias Raup Jutaan Rupiah!
Panggilan dari DPR ini tak lepas dari tekanan hebat yang melanda mata uang Garuda beberapa hari terakhir. Kurs rupiah sempat betah bertengger di atas level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat, memicu kekhawatiran publik dan pelaku pasar.
Namun, pada pembukaan perdagangan Rabu 8 April 2026, rupiah menunjukkan sedikit perlawanan. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang kita sempat menguat ke posisi Rp16.970 per dolar AS, mencatatkan apresiasi sebesar 0,70%. Ini terjadi setelah sehari sebelumnya, Selasa 7 April 2026, rupiah ditutup melemah tajam hingga menyentuh Rp17.090 per dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,94% ke level 98,918, memberikan sedikit ruang bagi rupiah untuk bernapas.





Tinggalkan komentar