Ekonesia – Rupiah terus merana di hadapan Dolar AS memicu kekhawatiran banyak pihak. Rupiah yang kini bertengger di level Rp16.700 per dolar, membuat Bank Indonesia (BI) harus rela menguras cadangan devisa demi menahan laju pelemahan. Apa sebenarnya yang terjadi?
Baca juga: Pertamina Luncurkan Aplikasi "Greenomina": Hitung Emisi!
Sektor perbankan, yang biasanya menjadi andalan di Bursa Efek Indonesia (BEI), ternyata belum mampu menarik perhatian investor asing. Menurut Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, pertumbuhan laba bersih bank-bank besar sedang tertekan. Padahal, sebelumnya, sektor ini didorong oleh pertumbuhan laba dan harga saham yang relatif murah.

Kondisi serupa juga terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Investor asing masih terus menarik dana mereka, meskipun investor lokal mencoba menahan kejatuhan dengan berinvestasi di obligasi pemerintah.
Baca juga: Stadion FIFA Siap! Telkom Jamin Koneksi Lancar!
Lantas, bagaimana cara menyelamatkan investasi di tengah badai sentimen pasar ini? Panin AM punya strategi jitu. Untuk reksa dana pendapatan tetap (fixed income), mereka memilih investasi jangka panjang. Saat imbal hasil obligasi turun di bawah 6%, mereka akan melakukan profit taking. Sementara untuk saham, mereka masih berhati-hati, terutama mempertimbangkan valuasi.











Tinggalkan komentar