Ekonesia – Nabi Muhammad SAW, sosok yang tak hanya dihormati sebagai panutan spiritual umat Islam, namun juga menyimpan kisah inspiratif sebagai seorang pebisnis ulung. Di balik risalah kenabian dan peristiwa agung seperti turunnya Al-Quran atau Isra Mi’raj, tersimpan jejak kecerdasan finansial yang jarang terungkap. Banyak yang mungkin belum menyadari bahwa Rasulullah adalah seorang wirausahawan sukses yang mampu membangun kekayaan dengan prinsip-prinsip luhur.
Baca juga: Pertamax Green 95 Hadir di Jateng! Lebih Ramah Lingkungan?
Menurut studi mendalam "The Rasulullah Way of Business" (2021), fondasi utama keberhasilan bisnis Nabi Muhammad terletak pada integritas dan kejujuran yang tak tergoyahkan. Kepercayaan adalah modal utamanya, yang kemudian menarik para investor untuk menitipkan dana kepadanya. Setelah mengelola modal tersebut, beliau menerapkan sistem bagi hasil yang adil dari keuntungan usaha, sebuah praktik yang kini dikenal luas dalam ekonomi syariah. Tujuannya jelas: menciptakan sumber penghasilan berkelanjutan atau passive income untuk masa depan.

Salah satu bentuk investasi yang digeluti Rasulullah adalah sektor peternakan. Keahlian ini telah diasah sejak masa kecilnya dan terus berkembang hingga dewasa. Beliau diketahui memiliki puluhan ekor unta, serta berbagai jenis hewan ternak lainnya seperti kuda, keledak, sapi, dan domba. Investasi pada hewan ternak ini tidak hanya memberikan keuntungan finansial, tetapi juga menjadi aset produktif yang terus bertumbuh.
Baca juga: KITB: Brantas Abipraya Pacu Ekonomi Jateng!
Selain peternakan, Nabi Muhammad juga menanamkan modalnya pada tanah dan aset properti. Laporan dari Musaffa menguraikan bagaimana beliau menyewakan lahan kepada kaum Yahudi dengan skema bagi hasil yang saling menguntungkan. Contoh konkretnya adalah penyewaan kebun kurma dan tanah di Khaybar. Para pengelola lahan diizinkan untuk tinggal dan menggarap tanah tersebut, kemudian membagi keuntungan yang diperoleh. Konsep kemitraan bagi hasil ini dikenal sebagai mudharabah, sebuah model investasi yang mengedepankan keadilan dan transparansi.
Namun, ada satu aspek fundamental yang membedakan pendekatan investasi Nabi Muhammad: filosofi sedekah. Islam mengajarkan bahwa dalam setiap harta yang dimiliki, terdapat hak bagi orang lain. Dengan berbagi rezeki dan membantu sesama, seseorang tidak hanya memperoleh pahala, tetapi juga keberkahan yang luar biasa dalam hidupnya.
Rasulullah sendiri tidak pernah menimbun harta kekayaan. Beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan, tak segan membagikan uang, pakaian, maupun makanan kepada mereka yang membutuhkan. Oleh karena itu, jika ingin meneladani jejak finansial Nabi Muhammad, pilihlah investasi pada aset riil seperti properti, lahan, dan hewan ternak. Dan yang terpenting, jangan pernah melupakan kewajiban untuk bersedekah, karena itulah kunci keberkahan sejati.











Tinggalkan komentar