Ekonesia – Industri nikel Indonesia yang digadang-gadang menjadi tulang punggung ekonomi nasional, ternyata menyimpan segudang tantangan pelik. Para penambang nikel di Tanah Air kini dihadapkan pada ujian berat, mulai dari amukan alam hingga labirin regulasi pemerintah yang dinamis, berpotensi mengancam laju produksi dan keberlangsungan bisnis.
Baca juga: RISET UNSRI Ungkap Rahasia Swasembada Pangan
Menurut Andi Jaya, Direktur Central Omega Resources, kondisi iklim ekstrem menjadi rintangan serius bagi upaya menggenjot produksi nikel nasional. Hal ini krusial demi menopang pasokan bagi industri smelter di Tanah Air. Cuaca tak menentu kerap menghambat aktivitas penambangan, menyebabkan target produksi sulit tercapai.

Di sisi lain, meskipun kebijakan pemerintah bertujuan memacu ekosistem nikel, implementasinya justru menghadirkan serangkaian ujian. Dinamika regulasi ini, menurut para pelaku usaha, menjadi ganjalan signifikan dalam mendorong performa bisnis. Salah satu contoh nyata adalah kerumitan dalam proses penetapan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Prosedur ini tidak hanya berbelit, tetapi juga terhambat oleh keterbatasan teknologi dan belum optimalnya kapasitas sumber daya manusia.
Baca juga: Drama Kanjuruhan Persita Bikin Arema Merana
Lebih lanjut, Andi Jaya menyoroti pembentukan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (PKH). Ia khawatir, minimnya sosialisasi mengenai satgas ini kepada para pelaku usaha dapat berujung pada gangguan serius terhadap keberlangsungan operasional mereka. Ketidakjelasan informasi ini menciptakan ketidakpastian yang merugikan iklim investasi.
Wawancara eksklusif dengan Andi Jaya di program Squawk Box CNBC Indonesia pada Jumat 19 Desember 2025 lalu, mengungkap lebih dalam bagaimana para penambang nikel di Indonesia berjuang menghadapi badai ini. Stabilitas regulasi dan dukungan infrastruktur yang memadai menjadi kunci agar potensi nikel Indonesia dapat benar-benar terwujud tanpa hambatan yang berarti.











Tinggalkan komentar