Ekonesia – Sebuah gebrakan fundamental diyakini mampu mengubah lanskap pasar modal Indonesia secara drastis. Demutualisasi bursa, sebuah langkah reformasi yang telah terbukti di berbagai negara maju, disebut-sebut sebagai kunci untuk membuka potensi pasar modal nasional yang selama ini dinilai belum optimal. Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer (CIO) Daya Anagata Nusantara (Danantara), menekankan bahwa transformasi ini bukan sekadar perubahan administratif, melainkan sebuah lompatan besar menuju kedalaman pasar yang lebih baik.
Baca juga: Awas! Influencer Bodong Bikin Rugi Miliaran Rupiah
Pandu menyoroti bahwa salah satu indikator utama dangkalnya pasar modal Indonesia adalah rasio kapitalisasi pasar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Saat ini, kapitalisasi pasar saham Indonesia masih berkutat di angka sekitar 60% dari PDB. Angka ini terbilang rendah jika dibandingkan dengan negara-negara yang telah mengadopsi model demutualisasi bursa, yang menunjukkan rasio jauh lebih tinggi.

"Jika kita melihat pengalaman negara-negara yang sudah melakukan demutualisasi, perbandingan antara kapitalisasi pasar dengan PDB mereka bisa mencapai dua hingga empat kali lipat," jelas Pandu dalam sebuah kesempatan diskusi. "Indonesia, yang kini baru di kisaran 0,6 kali, secara teoretis memiliki potensi peningkatan pasar modal hingga dua kali lipat atau bahkan lebih." Pernyataan ini menggarisbawahi peluang besar yang terhampar di depan mata.
Baca juga: Buruan Tukar! Poin MyPertamina Hangus Akhir Bulan Ini!
Lebih lanjut, Pandu menjelaskan bahwa demutualisasi bukanlah sekadar pergantian kepemilikan bursa. Ini adalah sebuah transformasi struktural mendalam, mengubah bursa dari entitas berbasis keanggotaan (member-based) menjadi sebuah perusahaan yang dikelola secara profesional, transparan, dan berorientasi pada kinerja serta keuntungan.
Langkah ini, lanjut Pandu, bukanlah sebuah eksperimen baru. Berbagai bursa besar dunia, termasuk di Australia, Singapura, Hong Kong, dan India, telah sukses melewati proses ini. Hasilnya, kedalaman pasar meningkat signifikan, likuiditas membaik, dan daya tarik bagi investor institusi global semakin kuat. "Demutualisasi adalah dorongan reformasi fundamental yang sudah teruji dan berhasil di banyak tempat," tegasnya.
Pasar modal yang lebih dalam dan likuid, menurut Pandu, akan memicu efek berantai positif. Ini akan menarik partisipasi lebih banyak investor besar, mendorong semakin banyak perusahaan untuk melantai di bursa, dan pada akhirnya, turut menciptakan lapangan kerja baru yang berdampak luas bagi perekonomian nasional.
Ia juga menekankan pentingnya pembagian peran yang jelas pasca-demutualisasi. Regulator akan tetap fokus pada fungsi pengawasan, sementara bursa beroperasi sebagai entitas bisnis profesional. Pemegang saham, pada gilirannya, akan bertindak sebagai investor tanpa adanya potensi konflik kepentingan yang bisa menghambat pertumbuhan.
"Apabila kapitalisasi pasar kita mampu naik secara signifikan, ini bukan hanya kabar baik bagi pasar modal itu sendiri, tetapi juga akan menjadi pendorong utama bagi pembiayaan ekonomi nasional dalam jangka panjang," pungkas Pandu, memberikan gambaran optimis tentang masa depan ekonomi Indonesia.











Tinggalkan komentar